
Jalanan mulai ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang di depan Keisya, ia terus menunggu, berselimutkan debu yang semakin singgah di rambutnya, sampai-sampai lampu merkuri mulai mengalahkan sisa cahaya sebelum matahari terbenam.
"Sorry lama nunggu ya Ca, tadi kejebak macet pas muter," kata Laura yang menghampiri Keisya dengan mobilnya di depan gerbang sekolah.
“Gak lama kok Ra,” Keisya segera masuk ke dalam mobil yang dikendari Laura, dan duduk di sampingnya.
“Oh ya Ra, maafin gue ya soal di pasar malam kemarin. Gue jadi gak enakan sama pacar lo gara-gara Devan."
"Gapapa, emang pacar gue kalau ngomong suka seenak jidat,” ucap Laura yang masih fokus menyetir. “Mungkin Devan yang cemburu.”
Keisya mengernyit bingung. “Cemburu?”
“Iya, soalnya pas gue dateng, dia udah natap tajam ke pacar gue gitu loh. Terus, tangan dia kayak getar gitu pas megang tangan gue.” Laura bercerita sambil menaik-turunkan sebelah tangannya. “Gugup kali ya?”
"Perasaan lo aja kali Ra.”
"Gak, bukan perasaan. Buktinya, Devan belum nembak lo kan?”
Keisya terdiam sejenak, setelah itu mengedikkan bahu. “Ya kalaupun nembak, gue juga belum siap pacaran Ra."
“Oh, gitu.” Laura tersenyum miring mendengar jawaban Keisya, berarti di pasar malam kemarin tidak ada gunanya. Keisya hanya menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki Devan.
~•••~
Cahaya senja mulai muncul menampilkan warna keemasan, kini Keisya dan Laura telah sampai di kafe. Gadis berlesung pipit itu segera turun dari mobil Laura dan mengucapkan terima kasih padanya.
“Sorry Kei, gue ada janji sama Rey sore ini jadi gak bisa bantu lo deh,” kata Laura menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“Gak masalah kok Ra, makasih ya udah nganterin gue.”
“Ok, see you.” Laura melajukan mobilnya sampai menghilang dari pandangan Keisya. Setelah itu, Keisya masuk ke dalam kafe.
“Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Selalu bersedia bahagiakanmu
Apapun terjadi
Kujanjikan aku ada.”
Lantunan suara merdu dari seorang cowok begitu mendominasi seisi kafe, lebih tepatnya dari atas panggung. Para pengunjung kafe sampai bertepuk tangan meriah dan terkagum-kagum dibuatnya.
“Lihat abang aja udah bahagia kok!” ucap salah satu pengunjung kafe, matanya berkaca-kaca seolah baru melihat idolanya secara langsung.
Keisya tidak menyangka jika cowok di depannya itu bisa bermain gitar layaknya seorang profesional, meskipun begitu ia tetap memberi tepuk tangan yang meriah setelah cowok itu menuntaskan permainan solonya.
Dia yang masih memegang gitar turun dari atas panggung dan berjalan ke arah Keisya.
“Kak foto bareng dong,” lanjut pengunjung itu lagi, begitu dia sudah berada di sampingnya.
“Boleh, senyum yang lebar,” katanya sambil mengambil posisi yang bagus.
Dia yang sedang berpose itu tidak tau, kalau ada seorang gadis yang diam-diam memotretnya juga menggunakan kamera ponsel. Meskipun hanya satu foto tapi, gadis itu jamin hasilnya mampu membuat siapapun tersenyum.
“Makasih kak,” balas pengunjung itu sambil tersenyum bahagia, dia pun mengacungkan jempol.
Setelah puas berfoto dan menandatangani buku milik pengunjung, dia kembali melanjutkan langkahnya, hingga berhenti tepat di hadapan Keisya, membuat jantung Keisya semakim berirama. "Lo mau foto atau tanda tangan gue juga?"
Keisya berdecih. “Gak deh, makasih buat tawarannya."
Devan tersenyum, meskipun hanya senyum tipis tapi hal itu mampu membuat jantung Keisya semakin tak karuan. “Oh iya, ngapain lo minta tanda tangan gue? Kan lo udah dapet tanda cinta dari gue.”
Keisya yang sulit menahan gugupnya itupun memilih berjalan melewati Devan. Gila, tu cowok bikin gue sesak napas.
Devan mengangguk, ia menaruh gitarnya di stand gitar, dan segera menyusul Keisya ke dapur. "Lo liat gak tadi para pengunjung pada terpesona sama ketampanan gue, keren juga nih kafe," kata Devan sembari memakai celemek di pinggangnya.
“Dih,” ucap Keisya pura-pura bergedik geli.
“Apa salahnya sih akui gue ganteng?” kata Devan yang super narsis.
"Eh, orang ganteng gak ngakuin dia ganteng, tau gak lo," kata Keisya sambil membuatkan kopi untuk pelanggan.
“Gue cuma bersyukur dikasih muka begini, mana bisa nolak."
“Mbak, emang dia ganteng ya?” tanya Keisya pada rekan kerjanya yang sedang mencuci piring.
“Aduh meleleh dedek bang!” Rekan kerjanya itu memegang keningnya dengan sedikit mendongak ke atas, membuat Keisya mengerjapkan mata beberapa kali.
“Mbak, kayaknya gak cuma piringnya yang dicuci tuh mata juga perlu dicuci juga mbak,” kata Keisya.
“Emang ganteng kan mbak?” tanya Devan masih tak mau kalah.
“Ganteng banget mas, kalo emang Keisya gak mau udah dia aja yang cuci piring, kita ngopi berdua.” Mbak itu semakin menjadi-menjadi, membuat Devan tertawa terpingkal-pingkal melihat pipi Keisya yang merah padam karena malu.
“Lo liat kan semua orang pada ngakui kegantengan gue,” ucap Devan sambil menyisir rambutnya ke samping, dia pikir keren?
“Terserah lo aja, asal seneng,” kata Keisya, ia akui Devan memang ganteng tapi ia memilih lanjut membawakan pesanan.
~•••
Suara jangkrik sudah bersahutan satu sama lain, bahkan kunang-kunang sudah menari dengan elok, kerlip bintang pun tak kalah menghiasi langit malam tapi, pelanggan dari golongan kaum hawa masih saja meminta nomor ponsel Devan pada Keisya, saat ia mengantarkan pesanan. Belum lagi, komplain yang diterima karena bukan Devan yang mengantarkan pesanannya.
“Kok mbak sih yang nganterin, saya maunya mas itu,” kata salah satu pelanggan sambil menunjuk Devan yang sedang mencatat pesanan.
“Ya udah, mbak masak sendiri aja sana," keluh Keisya, karena lelah ia jadi melontarkan kalimat kurang sopan itu.
“Denger ya mbak pelanggan itu adalah raja! Apa yang saya minta harus dilayani.” Keisya menghela napas singkat, semua mata jadi menoleh manatapnya, kalau begini rasanya ia ingin di pecat saja.
Devan segera menghampiri Keisya sebelum hal buruk terjadi. “Kenapa?”
“Tante ini maunya lo yang nganterin pesanan.”
Devan mengangguk-anggukan kepala. “Ok, saya anterin pesanan mbak.” Pelanggan itu menunjukkan gigi putihnya karena girang. “Tapi mbak harus pesen semua yang ada di menu.”
Seketika senyum wanita itu memudar.
"Kenapa mbak? Uangnya gak cukup? Ya udah saya kasih pilihan lain, pijitin nyonya ini sampai pegelnya ilang,” kata Devan, kedua tangannya meraih bahu Keisya sambil menyebutnya nyonya. “Kalau lakuin dua-duanya, mbak bisa dapet bonus kecupan dari saya.”
Mbak alias tante yang sedang menggunakan hotpants pink dan memakai tanktop berwarna polkadot merah itupun mengangguk setuju. “Iya, saya mau kok asalkan dapet cium dari kamu.”
Keisya menganga tidak percaya, sepertinya tante ini salah alamat, harusnya dia masuk saja ke rumah sakit jiwa.
Tante itu langsung bangkit berdiri, dia menarik tangan Keisya sampai duduk di kursinya, sedangkan dia sendiri sebut saja Luna berada di belakang Keisya sambil memijat-mijat kedua bahu Keisya. Sekarang mereka benar-benar bertukar posisi.
Luna memijat kedua bahu Keisya kuat. “Aduh, kok bahu gue tambah sakit ya.”
“Mbak, itu Keisya nya malah kesakitan yang bener dong mijitnya,” kata Devan bersedekap.
“Iya, mas ganteng,” balasnya lembut, Luna pun memijat Keisya lebih lembut, membuat Keisya terkekeh geli.
Setelah selesai, Devan lanjut mengantarkan semua makanan dan minuman yang ada di menu untuk Luna. Luna tidak makan sendiri, ia memberikannya juga pada orang lain bahkan untuk pegawai kafe sendiri, termasuk Keisya dan Devan. Keisya benar-benar heran dengan Luna yang mau melakukan semua itu, hanya untuk mendapatkan kecupan dari seorang bad boy.
“Nah, sekarang kamu cium pipi, dahi, dagu, dan bibir saya,” kata Luna.
“Ok, tapi syaratnya mata mbak harus ditutup, saya gugup soalnya,” bohong Devan, tanpa pikir panjang Luna langsung percaya dan mengangguk saja.
Selama melingkari serbet di mata Luna, Devan memberikan sinyal kepada senior Keisya yang sedikit berotot namun kemayu itu untuk mendekati Luna.
“Habisin bro,” bisik Devan pada seniornya.
Dari samping, Devan memegang leher Luna agar tidak timbul kecurigaan, sedangkan senior yang tidak keberatan itupun mengecup seluruh wajah Luna dengan lembut. Luna yang dengan polosnya malah menyengir senang.
"Hahaha, di bibir dong sayang."
"Ok, siap-siap ya."
Keisya jadi merasa kasihan pada Luna, karena dibohongi oleh Devan tapi hal itu justru membuatnya tak bisa menahan tawa.
Setelah Luna merasa puas, ikatan serbet itupun dilepas. “Udah beb. Gimana rasanya, seru?” tanya Devan, Luna pun mengangguk-angguk senang.
“Makasih sayang, besok saya ke sini lagi. Bye ....” Akhirnya Luna keluar dari kafe.
Setelah wanita itu berjalan cukup jauh, Devan dan Keisya langsung tertawa terpingkal-pingkal. Sampai-sampai Devan memegangi perutnya karena terlalu keras tertawa.
Keisya menepis air matanya karena banyak tertawa. “Gila Dev, lo jahat banget sih sama tu tante.”
Devan merangkul bahu Keisya. “Tapi, lo bahagia kan.”
Keisya **** senyum. Baru kali ini, ia meneteskan air mata karena tertawa. Devan mengepalkan tangan mengajak Keisya untuk tos, Keisya pun membalas kepalan tangan Devan.