His Struggle

His Struggle
• BAB 18 •



Cahaya jingga yang menghiasi langit-langit dari ufuk barat, seakan melukiskan sebuah ketenangan jika dilihat dari laboratorium kimia SMA Galaksi.


“Hey, kamu nuang cairannya kebanyakan,” tunjuk Bu Nanda pada Laura yang sedari tadi melamun.


Laura tersentak kaget dan langsung meletakkan kembali erlenmeyer di atas mejanya. “Maaf bu—“


“Cuci muka sana! Gimana mau kerja kalau melamun terus,” lanjut Bu Nanda sambil memijit kepalanya yang mulai pusing.


"Baik bu." Laura segera melepas masker karbon dan jas lab yang dipakainya lalu pergi ke toilet.


Keisya merasa sedikit prihatin dengan kondisi Laura, dari pagi sampai sekarang wajahnya terlihat pucat, matanya pun sembab seperti baru saja menangis.


“Setelah ini tidak ada yang boleh keluar lagi sebelum praktikum selesai!” tegas Bu Nanda tanpa main-main.


“Baik bu!” jawab mereka serempak.


~•••~


Laura langsung masuk ke dalam toilet yang berdinding keramik orange tidak jauh dari labaoratorium, ia menghidupkan kran wastafel, mengambil air dengan kedua tangannya, lalu membasuh wajahnya berulang-ulang kali. Laura mendongak menatap cermin besar di hadapannya, kantung matanya terlihat sembab dan semakin menghitam, bahkan wajahnya tak kalah pucat.


Gadis itu meraih ponselnya dari dalam saku bajunya, membuka aplikasi Instagram dan menatap lama postingan dari akun bernama Rey yang sedang mencium mesra dahi seorang gadis dengan caption 'My New Girlfriend'.


Tanpa diperintah setetes air mata jatuh kembali membasahi pipi Laura, ia langsung menepis kasar air matanya dan melempar ponselnya ke sudut ruangan. Harga dirinya semakin hancur hanya untuk menangisi cowok brengsek itu.


“Gue benci lo Rey!” pekiknya dengan napas tersengal-sengal di depan cermin.


Laura hanya melirik layar ponselnya yang sudah retak seribu, tanpa berniat menyentuhnya lagi. Di sampingnya terdapat sebotol carian pembersih lantai yang mencuri perhatiannya, tangannya pun tergerak mengambil botol besar itu.


Mending gue nyusul mama.


Laura membuka tutup botol itu perlahan dan berniat meminumnya namun, aksinya terhenti begitu Cika dan Caca masuk ke dalam toilet.


“Eh, lo ngapain? Mau bunuh diri?!” Caca menunjuk botol yang dipegang Laura.


“Udah lo minum ya?” tanya Cika ekspresinya menunjukkan kekhawatiran.


Laura menggeleng.


Cika bernapas lega. “Syukurlah, daripada lo mati di sini mending cari tempat lain deh!”


Ah, sepertinya Laura salah mengerti. Itu bukan ekspresi khawatir tapi lebih pada rasa jijik.


“Iya, lo jangan malu-maluin sekolah deh cari tempat yang berkelas dikit, kayak sungai misalnya.”


Cika pun tertawa keras dibuat Caca, sampai-sampai ia berpegangan pada wastafel karena menahan sakit perutnya. “Ya udah cabut Ca, entar kita kena masalah,” kata Cika langsung merangkul Caca. Dengan santainya, mereka keluar dari toilet seolah kematian seseorang adalah hal yang paling lucu untuk ditertawakan.


Laura kembali melanjutkan aksinya tapi lagi-lagi terhenti saat seorang gadis cantik, berkulit putih bersih, dengan rambut hitam legam masuk ke dalam toilet.


“Hi,” sapanya ramah pada Laura. “Oh, lo bukannya primadona baru itu ya?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.


Sebelah tangan Laura menyembunyikan botol pembersih lantai di belakang punggungnya dan sebelah tangannya lagi membalas uluran tangan gadis itu. “Iya, lo siapa?”


“Gue Anggi dari 12 IPA 2. Gue sempet jadi primadona juga sebelum lo dateng.”


Laura mengangguk pelan. “Oh, sorry ya kalau posisi lo jadi terganti sama gue.”


Anggi tersenyum teduh, membuatnya semakin terlihat cantik. “Gak masalah kok, sebenernya ada rasa lega tersendiri gue gak jadi primadona lagi, banyak anak cowok minta nomor WA sih pake nge-goda lagi. Kalau gak dikasih mereka pada maksa apalagi sampai marah-marah. Lo pasti digituin juga kan?”


Laura menggeleng. “Gak ada sih ....”


Anggi yang sedang memoles bibirnya dengan liptint pun mendadak terdiam. “Mungkin karena tau lo berasal dari Prancis jadi mereka pasti ngira lo gak bisa bahasa Indonesia. Gue aja sempet kaget ternyata lo cukup fasih.”


Laura hanya tersenyum tipis, batinnya semakin tertekan karena telah menggantikan posisi orang lain. Hidupnya benar-benar menyedihkan.


“Gue ke toilet dulu,” kata Laura berjalan masuk ke dalam partisi toilet.


Anggi mengangguk tapi, dari pantulan kaca ia masih menangkap botol yang ada di tangan Laura. Pikirannya mulai buruk, ia takut terjadi apa-apa pada Laura jadi lebih baik, ia menunggu sampai Laura selesai.


~•••~


Sudah sepuluh menit Anggi menunggu tapi, Laura tak kunjung keluar, apalagi tak ada suara yang ditimbulkan. Anggi semakin panik, ia langsung menggebrak-gebrak pintu partisi toilet itu. “Ra?! Lo gapapa?”


Hening.


Sekarang Anggi harus keluar dari toilet untuk mencari pertolongan. Begitu Anggi keluar dari toilet, ia melihat Devan sedang melintas di depannya. “Dev! Tolongin buka pintu toilet cewek! Laura gak keluar-keluar daritadi.”


Tanpa pikir panjang, Devan langsung masuk ke toilet cewek dan mendobrak salah satu pintu partisi itu. Dilihatnya Laura sudah tergeletak setengah sadar dengan mengeluarkan sedikit buih di mulutnya. Devan segera menggendong Laura untuk dibawa ke UKS.


“PMR atau Dokter, guru siapapun tolongin anak ini! Dia keracunan pembersih pel!” teriak Devan setelah sampai di depan pintu UKS.


“Astaga! Cepet baringkan dia, siapin susu sama telur mentah!” teriak guru penjaga UKS.


~•••~


Anggi mengelus pundak Laura. “Iya, gue minta tolong jangan lo ulangi lagi ya. Temen-temen lo pasti pada khawatir."


Laura mengangguk. Setelah itu Anggi pergi dari UKS untuk kembali mengikuti pelajaran.


“Jadi mau sampai kapan lo di sini? Hah?! Ini udah setengah jam juga gue nungguin lo,” kata Devan pada Laura yang terbaring cukup lama di UKS.


“Gue mau pulang,” kata Laura merubah posisinya menjadi duduk. “Anterin gue.”


“Eh, gue bukan sopir lo,” ketus Devan.


Laura kembali meneteskan air mata sampai membanjiri kedua pipinya. “Bunuh diri gak ada gunanya, lo jadi makin kesiksa,” kata Devan bingung melihat Laura yang setiap saat selalu menangis.


“Lo gak ngerti!” kata Laura kesal.


Devan menghela napas panjang. “Terus kenapa?”


“Mama gue udah ninggal. Ayah gue gak pernah peduli sama gue, uang yang dia kasih gak pernah cukup. Pacar gue udah ninggalin gue juga waktu ulang tahun dia kemarin. Dia bilang gue gak cantik lagi karena tangan gue jelek, abis itu dia cium dahi sama cewek lain, gue gak tau harus ke mana ....”


Laura menangis sejadi-jadinya, tidak terlihat kebohongan sedikit pun darinya. Laura menggerakkan tangannya melingkari leher Devan lalu menangis pilu di dekapan cowok itu. Kali ini Devan tidak masalah dengan perlakuan Laura, karena orang yang mendengarnya juga tidak akan membayangkan sakitnya menjadi Laura.


~•••~


“Aw!” Keisya merasakan sensasi terbakar begitu cairan asam kuat mengenai punggung tangannya.


“So-sorry Kei, gue beneran gak sengaja!” Daffa segera mengambil tisu di dekatnya dan membersihkan punggung tangan Keisya.


“Haduh! Kalian ini kenapa tidak ada yang bisa fokus sih? Daffa cepet bersihin tangan Keisya pake air abis itu bawa ke UKS! Yang lain silahkan pulang, praktikum hari ini selesai!” cetus Bu Nanda, dari nada suaranya terdengar frustasi.


“Baik bu.” Daffa segera bangkit berdiri dan membantu Keisya mencuci tangannya di wastafel laboratorium. “Maafin gue Kei.”


“Gapapa Daf, lo gak sengaja.”


“Ayo ke UKS, tangan lo harus diobatin,” kata Daffa yang mendapat anggukan dari Keisya.


Sayangnya baru sampai di depan UKS, Keisya malah mendapatkan pemandangan yang tidak mengenakan, Devan yang sedang memeluk Laura.


Walaupun Keisya tidak tau apa yang terjadi tapi, melihat pemandangan seperti itu mampu membuat hatinya tersayat bahkan tulang-tulangnya seketika terasa lemas. Sambil menahan sakit hatinya, Keisya mencoba melangkah masuk ke dalam UKS. Laura pun langsung melepas pelukannya.


“Eh, Kei udah selesai praktikumnya?”


Keisya terdiam menatap Laura. “Lo kenapa Ra? Kenapa bisa masuk ke UKS?”


“Dia coba bunuh diri,” ucap Devan santai, membuat Laura menjadi tertunduk lesu lagi.


Keisya pun jadi ikut memeluk Laura. “Ra, lo kenapa ngelakuin hal bodoh itu. Lo jahat banget sih mau ninggalin gue.”


"Maaf Kei.”


Devan yang melihat luka bakar di punggung tangan Keisya sontak meraih tangan gadis itu. “Kei, tangan lo kenapa?”


"Kena asam Dev."


“Ini Kei antiseptiknya—“ Devan langsung merebut kapas dan obat antiseptik itu dari tangan Daffa. Lalu mengusapnya ke telapak tangan Keisya dengan lembut.


“Sakit Dev,” kata Keisya meringis.


“Lo gak hati-hati Kei, bahaya tu tangan lo sampe kebakar gini. Makanya jangan sentuh yang asem-asem yang manis aja kayak gue contohnya.”


Keisya terkekeh mendengar racauan Devan yang mengkhawatirkannya, padahal luka bakar yang diterimanya tidak terlalu lebar. “Iya Dev, lo manis kok.”


Devan mendongak menatap Keisya.


“Tapi dari lubang pipet,” kata Keisya yang justru membuat Devan terkekeh.


“Udah-udah jangan di usap terus, nanti kulitnya kering,” kata Daffa menjauhkan tangan Devan dari Keisya, menimbulkan tatapan tajam dari Keisya sendiri padahal Daffa yang menyebabkan tangannya seperti itu.


Lagi-lagi Laura mendengus kesal, sebenarnya yang sakit di sini siapa?


“Dev, lo mau anterin gue pulang kan?”


Devan tidak menggubris.


“Dev, tolong lo anterin Laura ya,” kata Kesiya ekspresinya terlihat sangat memohon.


Devan mengangguk pasrah. "Ok."


Meskipun Keisya yang meminta tapi tetap saja, hatinya teriris melihat Devan bersama Laura.