His Struggle

His Struggle
• BAB 10 •



Aldo langsung tertegun, ternyata Laura sudah mengetahui nama sahabatnya itu. “Kok lo terkenal di mana-mana sih nyet?." Namun, Devan hanya membalas dengan kedikkan bahu.


Aldo saja sudah cukup mengganggu ketenangan Devan, ditambah lagi kedatangan Laura yang membuat Devan semakin risih.


"Lo mau makan apa? Biar abang beliin semua," kata Aldo mengeluarkan lembaran uang dari dalam saku bajunya.


"Eh, gak usah. Udah di pesenin sama temen gue.”


"Oh, ok kalau gitu." Aldo kembali melahap baksonya. "Ngomong-ngomong lo udah tau mau ikut organisasi apa?"


"Belum."


"Saran gue ya lo ikut basket aja. Biar gratis setiap hari liat gue main."


"Em ... entar gue pikirin lagi."


Laura mulai mengetuk-ngetukan jarinya di meja, menghasilkan irama yang teratur. Bukan memikirkan organisasi apa yang akan diikutinya nanti tapi, menunggu Keisya dan Gwen yang belum juga datang, sembari menatap Devan yang sedang makan.


Laura tak menampik menyukai Devan, lantaran cowok itu mempunyai segudang harta yang mungkin tiada habis. Lihat saja kelakuan membolosnya. Laura berani bertaruh jika bukan karena uang, Devan takkan berani membolos. Kalau-kalau mendapatkan hatinya, ia akan langsung memutuskan hubungan dengan pacarnya.


Menyadari tatapan Laura, Devan langsung membanting sendoknya di atas meja hingga mengeluarkan suara yang cukup keras. "Liat apa?!"


Laura menelan salivanya susah payah ketika Devan mengetahui aksinya itu. "Eng-gak gue—"


"Ganggu lo."


"Eh Pan, lo gak boleh gitu sama gebetan gue, lembut dikit napa?" ucap Aldo menunjuk Devan dengan sendoknya.


Devan menatap tajam Aldo. “Gak peduli.”


Tak lama kemudian Keisya dan Gwen kembali dengan membawa pesanan masing-masing, akhirnya Laura bisa bernapas lega.


"Hi Dev!" sapa Gwen, tapi Devan hanya mengangkat kedua alisnya.


Keisya merasa sedikit gugup karena duduk berhadapan dengan Devan, sekaligus merinding dengan tatapan murid lain yang menatapnya sinis. Namun, Keisya mencoba untuk tidak memikirkannya. "Syukurlah Aldo udah baikan sama Devan.”


Mendengar kata baikan, Aldo pun merangkul bahu Devan. “Gue kan gak bisa jauh dari abang Devan.”


Devan yang geli mendengar Aldo langsung menggebrak meja dan mengepalkan sebelah tangannya di depan wajah Aldo. “Emang yang kemarin masih kurang?”


“Slow pan slow, gue juga geli,” kata Aldo mengangkat kedua tangannya, seakan menyerah saat polisi mau menembak. "Oh ya Kei, sori ya buat kemarin karena ngerokok di depan lo.”


Keisya menyendok sambal bakso dengan sendoknya, tidak menggubris ucapan Aldo. Percuma saja memaafkannya toh dia akan melakukan kesalahan yang sama.


“Gila gue dikacangi.” Aldo geleng-geleng kepala karena dicueki Keisya. “Eh Kei, kemarin gue sempet liat lo sama Devan peluk—"


Sontak Keisya memasukkan sambal bakso itu ke dalam mulut Aldo, sebelum dia melanjutkan kalimatnya.


“Anjir lo Kei!” Aldo yang merasakan sensasi terbakar di lidah langsung memuntahkannya.


Keisya dan teman-temannya tertawa pecah melihat wajah Aldo yang memerah seperti udang rebus, parahnya lagi minum Aldo habis, ia pun mengambil es teh milik Devan dan menegaknya dalam hitungan detik.


"Parah lo Kei, gak tau apa kalau Bu Jumi buat sambel udah pake cabe sekilo!" ucap Aldo yang masih menjulurkan lidahnya.


"Makanya, jangan asal ngomong."


"Eh, coba liat mereka deh." Caca menunjuk ke arah Keisya. " Sayang banget lo gak jadi ketua OSIS, padahal bisa duduk bareng Devan, ngobrol sama Aldo, langsung nyantol lagi sama murid baru,” ungkap Caca membuat Cika mendengus kesal.


"Lo ngerocos lagi gue tusuk mulut lo pake garpu,” ancam Cika yang masih memegang garpu ditangannya.


"I-iye maaf."


“Thanks.” Devan dengan senang hati mengambil minum Laura namun sayang, ia memberikannya pada Aldo. Devan lebih memilih mengambil es teh milik Keisya dan langsung meneguknya. Keisya tertegun melihat Devan meminum minumannya. Bahkan Aldo yang kepedasan dibuat mematung.


"Boleh kan?" tanya Devan pada Keisya.


"Eh, bo-boleh kok."


"Jijik ya?"


"Eng-enggak lah! Gue aja semakan seminum sama anggota OSIS. Sa-sama temen sekelas juga." Keisya merebut kembali gelasnya dari Devan lalu meminumnya lagi membuat Laura mendelik.


"Eh! Gue juga mau dong," teriak Gwen menggenggam gelas yang ada di tangan Keisya.


"Eit! Gue kepedesan nih, mending buat gue," kata Aldo yang tak mau kalah.


Aldo yang rusuh, tanpa sengaja menyenggol gelas Laura sampai tumpah ruah di lantai, jalanan di sekitar pun menjadi basah. Beruntung tidak membasahi baju blesteran Prancis-Indonesia itu. “Yah, basah nih lantai.”


Devan segera bangkit dari tempat duduk dan mendekatkan diri pada Keisya. “Lo gapapa?”


Keisya tersenyum kikuk karena Devan mengkhawatirkannya. “Gapapa kok.”


“Aih, so sweet kali kalian ini,” kata Gwen terkekeh melihat keduanya.


“Lo gak nanyain gue Dev?” tanya Aldo menunjuk dirinya sendiri. Membuat mereka berempat tertawa geli.


Laura yang seakan dianggap angin pun memutuskan beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Bu Jumi. "Lima bakso sama lima es teh bu." Ia memberi selembar lima puluh ribu lalu menerima kembaliannya. “Makasih bu.”


“Sama-sama neng cantik," jawab Bu Jumi.


“Sorry ya, gara-gara minum gue jadi basah semua. Tapi makananya udah gue bayar kok.” Mereka semua terdiam menatap Laura. “Kalau gitu, gue balik ya.” Baru saja Laura berbalik badan Devan langsung menggenggam tangannya.


“Apa-apaan lo? Gue bisa bayar sendiri.” Devan mengeluarkan selembar lima puluh ribu lalu menaruhnya di telapak tangan Laura. “Ambil semua.”


Laura menatap lama uang itu, sedetik kemudian ia memeluk Devan. “Makasih Dev.”


Seketika pemandangan itu menimbulkan riuh seisi kantin, ada yang bertepuk tangan, memukul-mukul meja, bahkan bersiul-siul. Tak ketinggalan hati Keisya yang perih melihatnya.


Devan langsung melepas pelukan Laura dengan kasar. “Sakit ya otak lo?!”


Bukannya sadar, Laura justru tersenyum lebar. “Salah ya? Maaf deh, kebiasaan di tempat gue gitu.”


“Jangan pernah lo samain kebiasaan lo itu di sini, ngerti?!”


Devan menatap tajam Laura yang sekarang mematung karena bentakannya. Devan melingkari leher Aldo dengan lengannya lalu berjalan meninggalkan kantin.


"Eh, Dev gu-gue uhuk! Gak bisa napas nih!" sesak Aldo berusaha melepaskan lengan Devan.


Devan malah semakin mengeratkan lengannya. “Diem lo.”


~•••~


Keisya, Laura, dan Gwen sedang berjalan kembali ke kelas. Keisya terus berceloteh tentang tata kehidupan di sekolah, mulai dari guru, tempat, bahkan visi dan misinya. Laura hanya mendengarkan dengan seksama sedangkan, Gwen mengangguk saja.


"Laura sini!" Langkah Laura terhenti ketika dua orang gadis memanggilnya dari kelas sebelah.


"Kei, itu temen sebelah manggil. Ikut yuk."


"Gak deh, lo aja," kata Keisya, ia enggan duduk bersama orang yang pernah menamparnya tanpa alasan dan memilih masuk ke dalam kelas bersama Gwen.