His Struggle

His Struggle
• BAB 14 •



Seketika mata Keisya berbinar menatap pasar malam yang dipenuhi oleh anak-anak, orang dewasa, bahkan penjual yang merajalela di sekelilingnya. Apalagi saat wahana roller coaster, bianglala, perahu kora-kora, dan lain-lain terlihat memanjakan mata. Jangan lupakan lampu kerlap-kerlip yang mengalahkan terangnya bintang bersama rembulan di langit, membuat angin sepoy tak mau ketinggalan.


“Dingin.” Devan merlingkari jaket navynya ke tubuh Keisya, membuat Keisya tersenyum kikuk. “Suka tempatnya?”


“Banget malah! Gue baru pertama kali ke sini seumur hidup gue.” Keisya yang terlihat senang, membuat Devan tersenyum tipis.


“Kita beli gula kapas dulu. Ok.” Devan menggandeng tangan Keisya pergi ke stan penjual gula kapas, jantung Keisya tak bisa berhenti berdetak sejak awal berjalan ke tempat ini.


“Bang, beli gula kapasnya satu,” kata Devan memberikan selembar uang sepuluh ribu pada pedagang gula kapas.


“Nih, abang tambahin gulanya biar makin manis kayak pacar kamu,” ucap pedagang itu, sukses membuat jantung Keisya berlarian.


“Pa-pacar?” Keisya semakin tersipu malu melihat Devan menatapnya sambil memberikan gula kapas berwarna merah muda itu.


“Kan lo pacar gue,” kata Devan tertawa kecil.


“Yah, mulai deh.” Keisya berdecih, Devan pasti sedang bercanda. Ia menutupi rasa malunya dengan membuang muka, lalu menunjuk ke stan yang ada bonekanya. “Eh, Dev kita ke sana yuk. Kayaknya seru.”


Devan langsung mengangguk, lalu berjalan menuruti kemauan Keisya, hingga tiba di tempat permainan melempar gelang ke botol. Jika lima kali masuk maka akan mendapatkan hadiah boneka.


“Ok, perhatikan baik-baik kemampuan gue.” Devan mengambil beberapa gelang dan mulai melemparnya satu-satu ke udara.


Satu, dua, tiga, tidak ada yang masuk sama sekali. Devan mengambil beberapa gelang lagi tapi, masih saja gagal. Sudah ketiga kalinya ia bermain.


“Dev, udah gak usak dipaksain,” ucap Keisya agar Devan berhenti melakukan permainannya.


"Tenang, ini baru pemanasan.” Cowok itu takkan menyerah, karena jarang-jarang Keisya meminta sesuatu padanya.


Beberapa anak kecil tampak mengerumuni Devan sekedar memberikan semangat. “Ayok kak! Buat pacarnya seneng!”


Gula kapas sudah habis, Keisya mulai khawatir pada Devan yang masih berusaha memenangkan permainan itu sampai-sampai mengucurkan keringat.


Keisya mengambil tisu dari dalam tasnya dan mengusapnya ke dahi Devan. “Semangat banget sih lo,” dan akhirnya, beberapa gelang itu melingkar di botol.


“Hore!!! Congrats kak!”


“Gila hebat banget!”


Devan lalu menyerahkan boneka beruang berukuran sedang yang dipegangnya kepada Keisya. “Nih, sengaja gagal biar pedagangnya cepet naik haji.”


Keisya tersenyum mengembang, lalu memeluk boneka itu erat. “Makasih Dev.”


Devan mengacak-acak rambut Keisya, kemudian tatapannya beralih ke wahana bianglala. “Sekarang kita naik itu.”


Pupil mata Keisya bergerak ke arah yang di tunjuk Devan lalu mengangguk. “Ok, siapa takut.”


Setelah mengantre singkat dan membeli dua tiket, Devan mengajak Keisya duduk di salah satu tempat bianglala yang kosong. Wahana besar itu mulai berputar, membuat jantung Keisya berdegub kencang. Bukan karena takut, tapi menahan rasa gugup melihat wajah Devan di depannya.


“Kenapa? Lo takut?” tanya Devan melihat Keisya menutup wajahnya dengan boneka.


"Kalau takut ngapain gue naik?"


Devan tertawa keras. "Gue yang takut Kei.”


“Apa?” Keisya tersentak kaget melihat tangan Devan yang sekarang mengeratkan kursinya.


“Lo tau Acrophobia?” Keisya menggeleng panik. “Ketakutan yang ekstrem dengan ketinggian. Jantung gak teratur dan napas sakit.” Devan berkata dengan napas naik-turun sambil menekan dadanya kuat.


“Maksud lo? Lo phobia? Astaga kenapa lo gak bilamg sih Dev?!” Keisya langsung memegang kedua tangan Devan erat begitu wahana berputar makin tinggi. “Harusnya lo bilang Devan! Ya ampun! Lo kenapa sih maksain diri!”


Devan terbatuk-batuk, bertambah cemaslah Keisya. “Lo tarik napas, gak usah liat ke bawah ok. Rileks.”


“Kei, gue minta lo jangan tinggalin gue.”


“Bukan cuma sekarang tapi setiap keadaan gue.”


Keisya mengangguk, air matanya mulai jatuh. Tapi detik kemudian Devan menyengir, bahkan napasnya sudah tidak lagi tersengal-sengal. “Dev … lo bohongin gue ya?”


Devan terkekeh.


Ekspresi Keisya langsung berubah emosi, ia memukul-mukul Devan menggunakan bonekanya itu berulang kali. “Lo jahat! Lo tega banget sih bohongi gue.”


“Sorry Kei, sorry iya gue emang gak punya phobia kok.”


Keisya mengusap air matanya kasar. “Gue khawatir sama lo Dev. Gue cemas! Lo malah bohongi gue?!”


Setelah masa putaran bianglala habis, Keisya tidak menghiraukan Devan lagi, ia berlari keluar meninggalkan cowok itu.


Devan yang bodoh pun mengejar Keisya dan meraih lengan gadis itu. “Maaf Kei, gue gak bermaksud gitu sama lo.”


"Lo gak bisa bercanda yang lain ya? Kalau lo kenapa-napa tadi gimana Dev?! Lo tu bego tau gak sih.”


“Lo bener cemas sama gue?” Keisya mengangguk sambil menutupi air matanya.


Devan langsung memeluk gadis itu, ia merasa sangat bersalah telah mempermainkannya. “Maaf, gak bakal gue ulangi.”


“Lo jahat.”


“Iya gue jahat.”


“Keisya?” Mendengar suara yang tidak asing, Keisya berbalik badan.


“Eh Laura.”


“Lo kenapa lari sambil nangis-nangis gitu, gue pikir siapa tadi.” Laura menghapus air mata di pipi Keisya. “Gara-gara Devan ya?”


Keisya menoleh ke arah Devan dan mengangguk.


“Ngapain sih jalan sama cowok yang cuma bisa bikin lo nangis.”


Devan menjauhkan tangan Laura dari wajah Keisya. “Jangan asal ngomong lo.”


“Eh, gak usah sentuh Laura ya, tangan lo kotor bau keringet,” kata cowok di samping Laura sambil mendorong bahu Devan. Dapat Keisya simpulkan kalau dia pacarnya Laura.


“Apa urusan lo, keringet-keringet gue.” Devan tak kalah mendorong bahu cowok itu.


“Cari mati ya?”


Keisya menahan lengan Devan, sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi. “Itu keringet perjuangan dia, lo gak tau apa-apa,” kata Keisya menatap tajam cowok itu.


Laura menggaruk tengkuknya tidak gatal, harusnya ia tak perlu bertemu Keisya. “Udah-udah, kita di sini kan mau happy. Gimana kalau kita main kora-kora aja. Lo mau juga kan Rey?”


Cowok yang dipanggil Rey itu mengangguk dan mengelus puncak kepala Laura. “Apapun buat pacar gue.”


Devan tak ketinggalan merangkul bahu Keisya. “Sorry, tapi kita mau pulang.”


“Ayolah, pakaian lo juga udah busuk gitu sekalian lah main sampai tempat ini tutup.”


Mendengar kata busuk Devan langsung menarik kerah baju Rey, membuat pasang mata di sekitar riuh menatap mereka. “Jaga omongan lo sebelum gue lukis tu muka.”


“Ok, ampun gue salah.” Melihat kedua mata Rey terpejam takut, Devan lantas menjauhkan cowok itu wajahnya.


Keisya yang menurut dirangkul Devan, memutuskan untuk pulang, sedangkan Laura hanya mendengus kesal.