His Struggle

His Struggle
• BAB 4 •



Keisya bangun dengan mengerjapkan matanya berkali-kali sampai pandangannya terfokus pada ibunya, melihat jam sudah menunjukkan pukul enam, ia segera pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan.


Setelah selesai bersiap-siap, ia merasa ada sesuatu yang terlupakan. "Ya ampun! Hari ini kan gue ikut olimpiade kimia. Mana berkasnya ketinggalan di rumah lagi. Gue pinjem punya Daffa dulu kali ya."


Keisya segera mengambil ponsel di atas nakas dan mencari kontak Daffa, menempelkannya ke telinga, lalu menunggu panggilan terjawab. "Halo, Daf?"


"Ya Kei, ada apa?," jawab Daffa di seberang sana.


"Gue fotocopy berkas olimpiade lo ya. Ketinggalan di rumah nih gue."


"Siap Kei. Eh tapi lo cepat ya datengnya. Soalnya gue sama temen yang lain udah di sekolah bentar lagi berangkat."


"Ok thank you ya.” Keisya menutup sambungan teleponnya, membereskan barang-barangnya, dan mengecup kening ibunya, sebelum meninggalkan ruangan menuju jalan raya. Beruntung sekali angkot sudah ada di depannya. Keisya langsung memasuki angkot tersebut dan mencari tempat duduk yang kosong.


Setelah angkot berhenti di depan sekolahnya, Keisya langsung mencari Daffa. Mata Keisya menangkap wajah Daffa di lantai atas tepatnya area IPS. Ia segera menyusul Daffa dengan menaiki beberapa anak tangga lalu menepuk pundak Daffa.


"Eh, Keisya udah dateng. Ini dokumennya." Daffa memberikan berkas ditangannya pada Keisya. "Yuk gue temenin lo fotocopy."


Keisya mengangguk dan berjalan beriringan bersama Daffa, namun seseorang menghentikan langkah mereka, ternyata yang berdiri satu meter di depan mereka adalah Devan.


Wajar saja dia ada di sana toh ini adalah wilayahnya, tapi yang membuat bingung kenapa dua hari ini Devan datang pagi padahal ia terkenal dengan rekor bolosnya.


Devan berjalan mendekat. "Muka lo kok pucet. Belom makan ya?"


"Eh?" Benar kata Devan, sejak kemarin malam sampai sekarang pun Keisya belum makan. “Gapapa, udah biasa gue.”


"Ikut gue, kita makan." Devan mendadak mengenggam tangan Keisya, membuat jantung Keisya kini berontak.


"Lo gak sopan ya, main tarik tangan Keisya sembarangan?" Daffa menepis tangan Devan.


"Lo tega biarin cewek sakit? Kalau dia pingsan lo mau tau tanggung jawab?"


"Kita juga mau makan kok."


"Ya udah, ngapain lagi basa-basi,” kata Devan membuat Daffa langsung terdiam.


“Yaudah, yuk kantin.” Keisya berbarengan menepuk lengan Daffa dan Devan di sampingnya, mencoba mencairkan suasana yang sempat memanas.


Mereka bertiga pun menuju kantin beriringan, menimbulkan tatapan dan bisik-bisik murid lain yang menatap mereka.


“Sejak kapan mereka jadi akrab?”


“Namanya juga ketos, kenal banyak orang.”


“Awas aja berani deketin Devan.”


Tak mau membuat masalah, Keisya lebih memilih duduk di samping Daffa sedangkan Devan di hadapannya. Suasana terasa sangat dingin, melihat Devan dan Daffa saling bertatapan tanpa bicara satu sama lain.


Keisya mencoba menairkan suasana. “Gimana kalau kita pesen nasi goreng aja?”


“Boleh,” jawab Daffa masih menatap tajam Devan.


“Bu, pesen nasi goreng tiga sama es teh ya.” Baru saja Keisya berdiri dari tempat duduknya, Devan sudah duluan memesan. “Gak usah berdiri gitu, duduk aja.”


Keisya mengigit bibirnya gugup dan kembali duduk. Devan beralih mendekati ibu kantin itu dan mentraktir mereka.


“Daf, gue gak enakan nih sama Devan. Masa dia yang bayarin sih."


“Gapapa, kan dia yang mau. Gue juga butuh energi buat olimpiade nanti.”


“Jangan malu-maluin sih Daf,” kata Keisya tapi Daffa hanya mengedikkan bahu. Daffa memang partner OSIS Keisya sekaligus partner belajarnya, makanya Daffa tidak pernah bersikap jaim pada Keisya.


Setelah Devan meletakkan makanan masing-masing ke meja, mereka pun makan bersama. Tanpa sadar, Keisya melahap nasi gorengnya dengan cepat, ia benar-benar lupa untuk menjaga image-nya di depan Devan. "Aduh lupa lagi."


"Makan aja yang banyak, kalau mau kita pesen lagi.” Devan kembali menyuap makannya tapi matanya fokus menatap tajam Daffa. “Kecoa satu ini mana paham kondisi orang lain, egois. Masa cewek manis dibiarin sakit.”


Kesal dibilang egois oleh Devan, Daffa pun langsung menggebrak meja kantin, membuat suasana yang tadinya tentram menjadi ricuh.


“Gue yakin walaupun baru kenal Keisya udah nyaman sama gue.”


“Uhuk!” Keisya sontak tersedak mendengar perkataan enteng Devan. Devan dan Daffa pun sigap menyodorkan minum untuk Keisya.


Meski tenggorokannya sakit, Keisya sempat berpikir dua kali harus mengambil minum yang mana. Alhasil Keisya mengambil minum Daffa. “Makasih Daf.” Keisya tau diri, Devan itu most wanted di sekolahnya, ia tidak mau mendapat masalah jika terlalu dekat dengannya.


"Gara-gara lo Keisya jadi kesedak! Ayo Kei kita pergi, ntar hancur lagi event kita karna ni bocah." Daffa beranjak dari tempat duduk sambil menggenggam tangan Keisya, namun tangan Daffa berhasil dihentikan oleh Devan.


"Gak liat dia belum selesai makan, kalau mau pergi ya pergi aja sendiri." Devan meraih kerah baju Daffa dan mengepalkan tangan bersiap untuk memukul Daffa.


Keisya meraih tangan Devan yang sedikit berotot itu. "Udah sih Dev, bisa gak lo jangan kayak gini." Keisya menepiskan tangan Devan dari Daffa.


"Yuk Daf, kita udah telat." Keisya merangkul tas ranselnya dan beranjak pergi. “Makasih buat nasi gorengnya.” Daffa meninggalkan Devan dengan tersenyum miring, sedangkan Devan hanya berdecak kesal.


~•••~


Keisya, Daffa, dan yang lainnya sudah siap untuk pergi ke tempat olimpiade, tak terkecuali Pak Frey. Mereka berangkat dengan menggunakan mobil khusus sekolah mereka.


"Keisya sama yang lainnya, jangan terlalu tegang ya. Santai saja sedikit, tapi tetap serius," ujar sang kepala sekolah yang tengah duduk di samping pengemudi.


"Siap bapakku." Keisya mengacungkan jempol sambil tersenyum lebar. Sekarang Keisya merasakan ponsel di saku bleazernya bergetar, menandakan ada pesan masuk, saat dilihat ternyata dari Gwen.


Gwen


Kei! Lo tau gak orang-orang pada ngomongin lo sama Devan sama Daffa pas di kantin. Sampe masuk timeline SMA Galaksi. Gila kalian makan bareng. Eh btw, kok lo bisa deket ama si Devan. Sebel tau gue.


Keisya terkekeh, membaca pesan dari sahabatnya. Beginilah kalau berada dekat dengan most wanted, semua murid pasti sedang membicarakannya, Keisya risih dengan hal seperti itu.


Iya nanti aja ceritanya.


Selesai membalas pesan Gwen, Keisya segera menutup ponselnya dan kembali membaca rumus-rumus kimia di buku yang ia pegang.


Daffa yang duduk di samping Keisya mulai menunjukkan beberapa materi penting yang dianggap perlu dipelajari seperti stoikiometri, termokimia, struktur atom dan tidak ketinggalan tabel periodik. “Gue jadi gak konsen gara-gara tuh tikus.”


"Udahlah Daf, paling besok dia lupa.”


Setelah memakan waktu sekitar dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di mana tempat olimpiade dilaksanakan. Melihat semua peserta sudah berbaris di lapangan, Keisya, Daffa, dan teman-temannya yang lain dengan sigap berbaris rapi.


“SMA Galaksi baris di bagian kiri.”


Setelah itu, panitia memberikan arahan untuk peserta agar segera memasuki ruangan. Keisya masuk ke salah satu gedung di lantai dua bersama dengan Daffa dan duduk di tempatnya masing-masing. Olimpiade pun dimulai, para pengawas membagikan kertas soal sambil mengecek kelengkapan peserta. Semua peserta mengerjakannya dengan penuh antusias.


Setelah dirasa perjuangannya telah usai, Keisya dan Daffa pun turun ke lapangan mencari tempat teduh dan duduk bersebelahan. Mereka menunggu pengumuman pemenang dari olimpiade tersebut. Sesekali mereka tampak gelisah dan menatap satu sama lain agar tetap tenang.


"Emang lo beneran nyaman kalau di deket Devan?" tanya Daffa memecahkan keheningan yang sempat tercipta.


"Nyaman … sedikit."


"Gue mau ngingetin, lo jangan sering-sering deket dia. Ntar ketular lagi bad-nya."


"Emang kalau gue berubah bad girl, lo gak mau temenan sama gue?”


"Gue percaya lo gak bakal gitu.” Keisya berdecih. "Gue beli minum dulu ya." Daffa segera berdiri dan pergi ke stan yang ada di dekat sana.


Tak butuh waktu lama, Daffa pun kembali dengan membawa jus jambu dan roti untuk Kesiya. "Makasih Daf, tapi gue sukanya jus mangga."


"Sejak kapan lo protes. Biasanya semua yang gue kasih lo suka."


"Iya, maaf. Nih gue abisin." Keisya membuka bungkus rotinya dan meminum jus jambu pemberian Daffa. “Enak kok.”


"Gitu dong." Daffa mengelus rambut Keisya, tapi Keisya langsung menepis tangan Daffa.


“Gak usah sok sweet.” Keisya risih jika Daffa yang memperlakukannya begitu.


“Lah, kok lo marah. Kan gue biasa gituin lo. Aneh deh.” Entahlah, tangan Devan lebih terkesan lembut di hati Keisya dibanding Daffa, meskipun Daffa sering melakukannya.