
“Lo harus jadi milik gue, jangan berubah Kei!"
Seketika mulut Keisya menganga membentuk huruf 'O'. “Gila ya? Ngapain gue jadi milik lo? Lagian yang berubah itu elo, jadi makin jahat!"
Daffa mendengus, ia kembali mendekatkan wajahnya pada Keisya lalu mencengkram dagu gadis itu sampai dia mendongak dan mengerang tertahan.
“Jadi lo lebih milih gue cium?”
Plak!
Keisya menampar pipi kiri Daffa dengan keras sampai membuat wajah cowok itu berpaling ke samping. Tapi hal itu justru membuat Daffa semakin mencengkram dagu Keisya hingga kedua pipi Keisya mati rasa akibat tekanan jemarinya yang kuat. Tak tanggung-tanggung hidung mereka bahkan sudah bersentuhan dan ...
“Iya! Iya! Gue mau jadi pacar lo. Please lepasin gue!”
Daffa terdiam sejenak lalu menyeringai, ia melepas genggamannya kemudian tangannya mengusap puncak kepala Keisya. “Nah, gitu dong.”
Napas Keisya naik-turun bersamaan dengan tatapan yang menajam untuk Daffa. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan lagi, Keisya berlalu dengan menabrak sebelah bahu Daffa.
Setelah mereka keluar dari Kafe, Daffa langsung memberikan helmnya pada Keisya dengan kasar sampai tubuh gadis itu sedikit terdorong ke belakang.
Rahang Keisya mengeras, rasanya Keisya ingin melaporkan Daffa ke polisi atas tindakan kasar dan akan menciumnya tadi tapi sungguh alasan itu tidaklah rasional. Jika saja bintang dapat mengabulkan permintaan Keisya, ia ingin Devan ada di sini sekarang.
“Tunggu apa? Cepet!”
Keisya mendengus kesal sebelum naik ke atas motor Daffa. Sampai kapan ia terus bersama monster seperti Daffa. Rasanya cobaan seakan tak henti-henti menimpanya. Apalagi malam ini habis turun hujan, membuat angin yang menerpa kulit terasa semakin dingin. Seandainya di depan Keisya itu Devan, pasti ia sudah memakai jaket navy milik Devan dan memeluk pinggangnya.
Lamuan Keisya terbuai begitu ponsel dari dalam saku bajunya bergetar menandakan panggilan masuk. Panjang umur, ternyata Devan yang menelponnya.
“Halo?”
[Di mana?]
“Di jalan mau pulang ini lagi naik ... ojek.”
[Serius? Ojeknya baik gak?]
“Gak. Dia serem kayak monster, udah jelek, bau angit, belagu lagi. Untung aja masih mau nganterin gue.”
Daffa mengernyit bingung menatap Keisya dari kaca spion. “Ngomong sama siapa lo?”
“Eh, udah ya gue bentar lagi mau sampai nih.”
[Ok, niatnya gue mau nyamperin mamang ojek itu biar kalau berani ngapa-ngapain lo, dia harus siapin BPJS sebelum masuk rumah sakit.]
Meskipun dibalut kecemasan, Keisya masih bisa terkekeh kecil. “Jangan ah bahaya, udah dulu ya bye." Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya, sebelum Daffa menyiksanya lagi.
“Gue tanya lo ngomong sama siapa?”
“Sama Pak Frey!” jawab Keisya asal.
Akhirnya gadis itu bisa bernapas lega setelah tiba di rumah sakit. Tanpa basa-basi Keisya berjalan untuk masuk ke dalam tapi, baru satu langkah ia berjalan Daffa yang masih duduk di atas motor tiba-tiba saja menarik rambutnya dari belakang.
“Aw! Sakit Daf lepasin!” pekik Keisya berusaha menepis tangan Daffa.
“Lo gak mau bilang apa-apa gitu?”
Sekarang Daffa menjambak rambut Keisya, membuat Keisya meringis kesakitan. “Iya, iya makasih!”
“Bukan itu yang gue mau!” Wajah Keisya dipaksa menengadah, menatap tepat pada wajah cowok jahat itu.
“Aduh sakit! Gue harus ngomong apa?”
“Bilang dong hati-hati di jalan!”
"Akh!" Jeritan kesakitan kembali lolos begitu saja saat Daffa semakin menjambak rambutnya seakan kulit kepala Keisya akan lepas bersama rambutnya. “Iya, Daf iya hati-hati di jalan. Please jangan siksa gue.”
Air mata Keisya perlahan turun sampai akhirnya Daffa melepas cengkramannya. Daffa terdiam sejenak lalu tangannya terulur mengusap pipi Keisya lembut. “Ok gue pulang, sori tadi gue cuma bercanda. Mimpi indah.” Kemudian Daffa pergi menjauh dan hilang dari pandangan Keisya.
Keisya mencoba menenangkan diri, jadian dengan Daffa hanya sekadar kata-kata yang keluar dari mulutnya karena sesungguhnya hatinya hanya untuk Devan seorang.
~•••~
Panggung sudah ditata dengan sempurna, photobooth telah disiapkan, stan makanan, minuman, permainan dan lain-lain dari kelas masing-masing sudah tampak berjejer rapi dan tertib bahkan, para guest star terkenal telah datang untuk memeriahkan acara ulang tahun SMA Galaksi.
“Ok, sebelum kalian ganti kostum gimana kalau kita makan dulu?” ajak Bu Candri setelah beberapa kali melatih Keisya dan Daffa berdansa.
Daffa mengangguk. “Boleh Bu, Daffa juga udah laper.”
“Kamu kei?” tanya Bu Candri.
Keisya mengangguk sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
Suara heboh penjualan yang menawarkan masakannya menyambut Bu Candri, Keisya, dan Daffa begitu tiba di kantin. Siang ini mereka harus mendapat asupan karbohidrat yang banyak alias makanan berat untuk mengembalikan energi mereka yang sempat hilang.
“Bu, Keisya boleh mundur dari dansa gak?" tanya Keisya, "kaki Keisya capek, Bu."
Bu Chandri berdecak kesal. “Kamu ini belum juga tampil udah nyerah, liat tuh Daffa di samping kamu. Sudah pintar, berbakat tetep semangat lagi, masa iya kamu mau ngecewain.”
Keisya menghela napas gusar, beberapa kali ia mencoba untuk menghentikan dansanya tetap saja tak bisa. “Iya Bu, maaf.”
“Bu Candri dipanggil pembina katanya suruh pilih kostum buat anak-anak dance,” ucap guru lain yang datang menghampiri Bu Candri.
Tanpa menghabiskan makannya Bu Candri langsung minum, membersihkan mulutnya dengan tisu, lalu bangkit berdiri. “Ya udah kalian berdua ibu tinggal gapapa kan?”
Daffa mengangguk antusias. “Slow Bu, emang maunya berduaan.”
Kesiya berdecih jijik.
Bu Candri tersenyum. “Ya udah, Ibu duluan ya.”
“Siap Bu semangat!” ucap Daffa cari muka.
Terlihat dari wajah Keisya, kalau ia sama sekali tidak berniat mengajak Daffa mengobrol, begitu juga Daffa yang hanya fokus memakan makanannya tanpa melirik gadis itu sedikitpun, hanya terdengar suara dentuman sendok yang bertabrakan dengan piring.
“Gue mau ke toilet. Bayarin gue ya, gue lupa bawa duit.”
Keisya berhenti mengunyah. “Lo udah makan dua piring Daf, nambah lagi minumnya.”
“Pelit banget sih cuma segitu doang, inget ya lo pacar gue!”
Keisya berdecak kesal, meskipun uanganya menipis mau tak mau ia harus mengeluarkan biaya lebih sebelum Daffa melakukan hal negatif padanya. “Ya udah iya gue bayarin. Puas lo?”
Daffa tersenyum lebar. “Gitu dong sayang." Ia mencolek dagu Keisya, membuat Keisya menepis kasar tangan Daffa dan meninggalkan tatapan tajam untuk cowok itu sebelum dia pergi menjauh.
Kapan sih Daf lo mati?
“Sendirian aja neng?”
Keisya tersentak kaget begitu Devan datang menyapa dan duduk di sampingnya. Ternyata Devan hadir di acara pensi dan itu berarti dia akan melihatnya tampil. “Eh, iya sendirian.”
“Yuk jadian. Biar lo gak sendiri.”
“Hah?” Keisya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena salah tingkah ia mengambil minum di sampingnya dan langsung meneguknya sampai habis. “Apa sih lo bercanda mulu bawaannya.”
Devan tersenyum tipis, entah kenapa Keisya masih tidak bisa mengontrol detak jantungnya walaupun sudah beberapa kali melihat senyuman itu.
“Jangan senyum lah Kei, capek jantung gue ngeliatnya.”
Keisya terkekeh. Emang cuma lo doang?
Keisya terdiam saat tangan Devan terangkat untuk menyelipkan rambut ke belakang telinganya dan meletakkan bunga alamanda berwarna kuning di sana.
“Gue emang gak dansa bareng lo, tapi bunga itu yang mewakili.”