His Struggle

His Struggle
• BAB 30 •



Suara hiruk pikuk siswa-siswi menyambut Keisya yang sedang merangkul Daffa begitu masuk ke dalam kelas.


“Partner in crime ya?”


“Kalau mau sama Daffa ya Daffa aja gak usah Devan.”


Gwen yang tadinya sibuk dengan ponselnya tampak menghampiri Keisya dan langsung mendorong tubuh Daffa agar menjauh dari Keisya. “Minggir lo!”


Daffa berdecak kesal. “Biasa aja bisa?!”


“Gak bisa.” Gwen langsung menarik tangan Keisya sampai keluar dari kelas. “Lo kenapa masih baikin si Daffa?!” bisik Gwen kesal.


“Dia hampir mati Gwen gara-gara asep rokok sama susu. Asma gak boleh kena yang begituan.”


Gwen memijat kepalanya yang mulai pusing. “Gak usah peduliin dia lagi Kei, dia itu jahat udah buat lo hampir kebunuh kemarin, mana anak kelas jadi pada ngomongin lo.”


“Maaf kalau salah tapi gue cuma mau nolong.” Bohong jika Keisya tidak risih dengan gosipan mereka tapi, melihat orang lain kesakitan hati kecil Keisya tak tega mengacuhkannya.


Melihat Bu Candri berjalan semakin dekat, Keisya dan Gwen berlari masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya masing-masing.


“Selamat siang,” sapa Bu Candri begitu masuk ke dalam kelas.


“Siang ibu cantik!”


“Akhirnya pelajaran yang ditunggu-tunggu.”


Seketika semua perhatian murid di kelas tertuju pada guru cantik nan muda yang mengajar pelajaran seni budaya itu. “Sudah bawa sepatunya?”


“Mampus gue gak inget sama sekali Ra.” Keisya menggigit telunjuknya karena cemas.


Tanpa menggubris ucapan Keisya, Laura langsung mengeluarkan sepatu yang memiliki hak berukuran 7cm dari dalam tasnya dan memberikannya pada Keisya. “Pake aja punya gue.”


“Eh, entar lo yang kena hukum.”


“Nulis doang sih masalah kecil.”


Keisya menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Oh lo mau nge-prank gue ya?”


Laura menaikkan sebelah alisnya. “Lo tuh gak percaya sama gue, terlalu bahagia atau lupa cara sedih sih? Gue cuma gak mau tugas lo makin numpuk Ca. Mending sekarang lo pake sebelum gue ambil lagi.”


“Beneran nih?”


“Iya.” Laura mengangguk tulus.


Keisya berpikir sejenak, sedetik kemudian ia tersenyum dan memeluk Laura. “Ok deh, makasih Ra." Syukurlah jika Laura sudah berubah lebih baik sekarang.


“Yang tidak bawa sepatu silahkan keluar dan kerjakan makalah 50 halaman nanti!” perintah Bu Candri.


Laura bangkit berdiri dan memberikan kepalan tangan tanda semangat untuk Keisya, sebelum keluar dari kelas.


“Yah primadona keluar. Padahal gue mau jadi pasangannya,” kata salah satu penggemar Laura.


Hari ini praktek dansa terakhir untuk kelas mereka, karena setelahnya mereka akan dihadapkan dengan berbagai ujian akhir, nasional, dan masuk universitas.


Sialnya dari awal praktek, Daffa sudah menjadi pasangan dansa untuk Keisya. Kini kedua mata itu sudah berdiri di hadapan Keisya dengan tatapan yang intens. Sebelah tangan Daffa mulai merengkuh pinggang Keisya dan sebelahnya lagi menggenggam tangan Keisya. Jika waktu bisa terulang kembali, Keisya lebih memilih berdansa dengan zombie dibanding Daffa.


“Ok, dansa ini bakal ditampilkan buat acara pensi nanti. Jadi, siapa yang beruntung bakal tampil di panggung,” ucap Bu Candri sembari menyetel lagu Beauty and The Beast yang dinyanyikan oleh Ariana Grande dan John Legend.


Keisya mulai melangkah ke kanan dan ke kiri secara asal-asalan tapi, Daffa berusaha bersikap profesional. “Gak usah gugup Kei sama gue.”


Keisya berdecih. “Pede.” Mata Keisya menajam menatap Daffa, dalam hati ia berdoa agar Bu Candri tidak meliriknya apalagi sampai menyuruhnya tampil di panggung nanti.


“Dansa lo jelek banget Daf kayak kodok kesurupan,” ejek Gwen.


Bagus Gwen gue suka gaya lo.


Sayangnya, sahutan Gwen justru membuat Daffa semakin bersemangat. Daffa kian merengkuh pinggang Keisya, memutar tubuhnya, sampai Keisya tak bisa mengontrol gerakannya sendiri. Begitu musik hampir berhenti, Daffa menipiskan jarak wajahnya dengan Keisya, membuat Keisya dapat merasakan hembusan napas Daffa yang sedikit sesak itu.


Sontak Keisya mendorong tubuh Daffa menjauh.


Bu Candri bertepuk tangan meriah. “Bagus kalian aja ya yang bakal ngisi acara pensi.”


Fak.


Daffa tersenyum lebar sambil merangkul leher Keisya. “Gue sih setuju aja, Keisya juga pasti seneng.”


“Ayolah! Perwakilan kelas kita ini!”


“Jadian ajalah kalian udah klop.”


Bukan hanya Keisya, kehebohan anak-anak kelas juga membuat Bu Candri berdecak kesal. “Sudah-sudah berisik kalian.” Bu Candri menatap tajam Keisya. “Kamu sudah mulai melawan Kei? Kamu boleh pinter di akademik tapi jangan ngeremehin pelajaran ibu dong.”


“Bu, maksud Keisya gak gitu.”


“Pokoknya kamu harus tampil di pensi nanti kalau enggak nilai kamu di bawah KKM. Ibu bakal siapin setelah buat kalian. Jangan menolak dan latihan yang bener,” kemudian Bu Candri membereskan barang-barangnya di atas meja lalu keluar dari kelas.


Jika saja Bu Candri tidak menjadi guru, sudah pasti sepatu ber-hak yang dipakai Keisya sekarang menimpa kepalanya.


“Pulang sekolah kita latihan di kelas,” celetuk Daffa.


Keisya menggeleng. “Gak, nanti lo tinggalin gue lagi. Gue juga mau kerja.”


“Ya udah abis lo kerja kita latihan. Harus.”


“Lo seenaknya ngatur gue? Tau gak judul lagu ini apa? The beast dan itu elo!” sarkas Keisya, membuat sebagian murid di kelas jadi menatapnya sinis.


Daffa berdecih. “Terserah lo yang jelas kita tetep tampil. Jangan bikin malu sendiri,” kemudian Daffa berlalu dari Keisya.


Keisya mengusap wajahnya kasar karena membenci takdir. Seharusnya ia berdansa dengan Devan seperti dalam mimpinya bukan dengan monster Daffa.


~•••~


Keisya melepas helm yang dipakainya dan mengembalikannya pada Devan, setelah tiba di tempatnya bekerja. “Makasih Dev, lo gak perlu jemput gue nanti.”


Devan menerima helm yang dipegang Keisya sambil menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa?”


Keisya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Gue mau langsung naik angkot aja. Oh ya, lo bakal hadir di pensi nanti gak?”


Devan mematikan mesin motornya dan kembali menurunkan standar motornya. “Gak, tapi gue bakal dateng kalau lo minta. Kenapa lagi?”


Keisya menggeleng pelan. “Gapapa, cuma nanya doang. Kalau gitu gue masuk ya, lo hati-hati di jalan,” ucap Keisya tersenyum palsu lalu menepuk lengan Devan sekilas.


Devan terdiam sejenak seakan mengetahui arti senyuman Keisya, sedetik kemudian ia mengangguk. “Ok, see you.”


Keisya segera masuk ke dalam kafe begitu Devan pergi.


Banyaknya pesanan pelanggan yang berdatangan, tak kunjung menyurutkan pikiran kalut Keisya. Dadanya terasa sesak tidak bisa dansa bersama Devan dan kecewa harus menjadi pasangan Daffa di depan banyak orang nanti. Memberitahu Devan pun pasti membuat pertengkaran hebat waktu itu terulang kembali.


Setelah lama berkutat dengan gelas dan piring, akhirnya Keisya bisa beristirahat sejenak. Lagi-lagi ia menjadi pegawai terakhir yang berada kafe tapi, semua itu harus diterima mengingat ia sudah keseringan izin beberapa akhir ini. Baru satu menit duduk dan menghela napas lega Daffa sudah datang saja ke kafe.


“Udah siap latihan?”


Keisya berdecak kesal. “Gue capek mau istirahat dulu.”


“Acara pensinya bentar lagi. Lo mau males-malesan?”


“Gue bilang gue butuh istirahat bukan males.”


Tak mau kalah berdebat dengan Keisya, Daffa lantas meletakkan beberapa berkas di atas meja. “Proposal kita udah sering ditolak, data keuangan udah gak jelas, mana mencari sponsor sulit. Lo masih mau duduk manis gini?”


Keisya menggeleng pasrah. “Ya udah cepet puter lagunya.”


Setelah persiapan lengkap dan tanpa membuang waktu lagi, Keisya sudah stay dengan posisinya. Begitu lagu diputar, Keisya melangkah perlahan mengiringi Daffa. Keisya mengeluarkan seluruh sisa tenaganya, jangan sampai lelahnya berakhir dengan percuma.


Meskipun sudah banyak meneguk kopi tapi, kali ini kantuk yang menyerang Keisya benar-benar tidak dapat ditahan lagi. Ia mencoba berkonsentrasi tapi matanya terus mengerjap. Mencari kesempatan dalam kesempitan, Daffa hampir mencium pipi kiri Keisya.


Sontak Keisya menginjak kaki Daffa keras-keras. “Lo jahat ya Daf, apa ini maksud lo ngajak gue latihan?”


Daffa meringis memegangi kakinya yang berdenyut. “Apa sih lo, lo kali yang gr.”


“Lo pikir gue gak liat? Udahlah Daf gue mau pulang.”


Daffa meraih tangan Keisya. "Latihan kita belom selesai."


Keisya menepis tangan Daffa dan mengambil kunci pintu kafe di atas meja lalu berjalan ke arah pintu, namun Daffa langsung berlari dan berdiri menghalangi pintu.


“Lo harus jadi milik gue, jangan berubah Kei.”