His Struggle

His Struggle
• BAB 5 •



Devan!" Seorang kapten cheerleader datang memanggil dan mendekati Devan yang tengah beristirahat tenang di kelas. Namun, Devan tidak peduli, ia memilih memasang earphone di kedua telinganya dan berpura-pura membaca buku sosiologi. "Dev! Jawab!" Gadis itu berteriak memanggil namanya berkali-kali tapi masih tidak digubris oleh sang empunya nama. "Aamiin, semoga tuli beneran."


"Apa?"


"Dev, please sekali aja lo anggap gue. Gue kasih cokelat, lo kasih sama Aldo. Gue kasih surat cinta, lo jadiin pesawat terbang. Apa gue harus kasih mobil supaya lo notice gue Dev?" protes gadis itu dengan bibir termanyun. Devan justru makin muak, cowok itupun pergi dari hadapan Cika.


"Devan!" Cika menggenggam tangan cowok itu dan langsung di tepis oleh Devan. "Besok kita makan di kantin yuk, gue lagi ulang tahun nih.”


"Ok, gue mau tapi harus ajak Keisya."


“Kok ngajak dia sih? Gak mau ah, gak bapak gue gak lo ngomongin Keisya mulu.”


"Ok." Devan pergi menjauh dari Cika.


"Dev, kasih pilihan lain dong!” Devan pergi menuju lapangan basket, menyusul temannya Aldo yang tengah bermain basket sendirian.


Devan duduk di tepi lapangan, mengambil ponselnya dari dalam saku, dan melakukan sebuah panggilan.


Keisya yang sedang menikmati cahaya matahari merasakan ponselnya bergetar, ia pun meraihnya, dan menempelkannya ke telinga. "Ya Dev, kenapa?"


“Lo gak kenapa-napa kan di sana?"


"Emang kenapa?" Keisya sedikit tertawa geli mendengar Devan yang menanyakan kabarnya.


"Gapapa, gue mau doain semoga lo juara satu olimpiade biar bisa banggain bapak kesayangan lo itu, Pak Frey. Semangat ya.”


Lagi-lagi Keisya dibuat tertawa, sejak kapan Devan mulai perhatian padanya. "Aamiin, makasih banyak Dev." Keisya segera menutup ponselnya, karena malu di telepon cowok itu. Walaupun hanya lewat ponsel tapi rasa yang menggelitik di perut Keisya, membuatnya sedikit nyaman.


"Senyum-senyum mulu lo pan," ucap Aldo yang sedang meng-dribble bola. Tapi, Devan hanya terkekeh. "Depan, Depan. Dasar bucin lo." Aldo tertawa sambil memasukkan bola ke ring.


~•••~


Akhirnya tibalah acara puncak yaitu pengumuman hasil juara olimpiade untuk MIPA. Dengan perasaan cemas dan tegang Keisya, Daffa dan teman-teman lainnya duduk di kursi peserta.


Pembawa acara mulai membacakan nama pemenang lomba. "Pemenang olimpiade kimia tingkat Nasional untuk juara pertama diraih oleh siswa dari SMA Galaksi. Selamat kepada siswa bernama Keisya Aira Denaya dengan total skor sembilan puluh tujuh. Beri tepuk tangan."


Para audien memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Keisya. Senyum manis pun terukir indah diwajahnya. Keisya menyampaikan kata terima kasih kepada semua yang ada di podium teruntuk teman-teman dan gurunya sendiri. Ia sangat senang karena bisa membagi waktu antara pekerjaan dan akademiknya. Medali emas pun melingkar di lehernya tak ketinggalan sertifikat dan uang tunai sebesar lima juta rupiah. Mereka yang mengenal Keisya memeluk erat dirinya atas prestasi yang ia raih.


"Ya, gue udah tebak sih pasti lo yang dapet,” kata Daffa mengacungkan jempol ke Keisya.


"Makasih Daf."


"Pialanya disumbangkan ke sekolah gapapa kan Kei? Uangnya buat kamu aja," kata kepala sekolah.


"Ya boleh dong. Orang itu uangmu kok."


Tentu saja sisa uang yang ada di Keisya digunakan untuk pengobatan ibunya. Karena dari ibunya jugalah semangat yang berkobar itu lahir, bisa jadi dari Devan juga.


Setelah acara selesai Keisya harus segera pergi ke tempatnya bekerja lalu menengok ibunya. Pasti sekarang ia tersenyum bahagia melihat anaknya memenangkan olimpiade. Ya, begitu pikirnya.


~•••~


Keesokan harinya Keisya naik ke podium untuk menyampaikan pidato atas prestasi yang telah diraihnya, menuturkan pesan dan kesannya serta beberapa kata terima kasih.


“Lo boleh seneng hari ini Kei, tapi nanti gue bakal buat lo nangis kayak bayi. Tunggu aja,” kata Cika tersenyum sinis ke arah Keisya.


"Mentang-mentang ketos seenaknya deketin most wanted kita, dia pikir udah hebat. Sok senyum manis aslinya fake." Senggol Caca di samping Cika.


"Setinggi-tingginya tupai melompat pasti akan jatuh juga,” kata Cika. Tak mau melihat Keisya lebih lama mereka pun pergi meninggalkan lapangan.


Akhirnya Keisya turun dari podium lalu berpelukan dengan Anna, Gwen dan Isel yang senang mengetahui sahabatnya semakin hebat.


“Keisya emang pinter, gak salah dia jadi kunci jawaban pr kelas kita!” seru Gwen.


“Kita semua gak nyangka Kei. Hebat lo,” kata Isel. Mereka pun melompat-lompat seakan tengah bermain di taman kanak-kanak. Tak lupa guru-guru lain ikut memberikan jabat tangan kepada Keisya.


“Selamat Kei, buat juara satu-nya.” Mendengar suara berat seorang cowok, membuat keempat gadis itu sontak menoleh ke belakang.


“Cie … di selamatin Devan.” Gwen menutup mulut menggoda sahabatnya itu, membuat Keisya jadi tertunduk malu.


Gwen, Isel, dan Anna memberi ruang untuk Devan mendekati Keisya. Devan pun mengulurkan tangan di hadapan Keisya, bermaksud berjabat tangan dengannya.


“Makasih Dev.” Keisya menjabat tangan Devan, tangan besar namun halus itu menyentuh kulit dingin Keisya yang gugup.


“Gak mau lepas nih?”


Keisya sontak melepas jabatannya, lagi-lagi dia kelamaan menggenggam tangan Devan. Keisya memang pintar soal pelajaran, tapi kalau diperlakukan seperti ini, ia merasa seperti orang yang paling bodoh. “Maaf itu, anu ….”


“Udah ya, gue cabut.” Devan membalikkan badan dan menjauh dari Keisya sambil melambaikan sebelah tangan. Meskipun hanya melihat punggung Devan, tapi detak jantung Keisya tak pernah menjauh.


“Seneng-seneng.” Gwen menyenggol tubuh Keisya, membuat Keisya berdecih. “Gue pengen juga nih jabatan sama Devan.”


“Lo mau enaknya doang,” celetuk Isel.


“Harus pinter dulu lo tuh Gwen,” kata Anna membuat mereka semua tertawa.