
"Pa! Dua ratus ribu itu gak cukup buat sebulan. Papa nyuruh Laura makan batu?" Tangis Laura semakin membeludak, ia merasa sangat emosi sehingga tidak sadar dengan yang diucapkan. "Papa dimana sih?" Beberapa kali ia menanyakan keberadaan ayahnya namun yang ditanya hanya diam seribu kata. Untuk menyentuh raganya pun tak mampu apalagi bersandar.
"Iya, papa bakal cari uang banyak untuk sekolah kamu nanti. Maaf papa belum bisa pulang. Laura lagi di Indonesia?"
Perlahan Laura menarik napas, lalu menghapus air matanya kasar. "Ya, besok mau ke makam mama."
"Ya sudah. Kamu pindah sekolah di tempat yang bagus ya. Nanti asisten papa yang urus berkas kamu. Kalau sempat nanti papa mampir."
"Bien, merci (baik, terima kasih)." Laura menutup ponsel dan meletakkan benda kecil itu di atas meja.
~•••~
Ada kebahagiaan tersendiri saat SMA Galaksi mengadakan gotong royong pagi hari ini. Entah agar sekolah mereka bersih, mendapatkan pahala, atau memang pencitraan, tapi seluruh murid bisa dengan tenang melewati belajar bersama guru killer.
Berbeda dengan Keisya, kegiatan gotong royong mungkin sedikit melelahkan baginya, ia harus datang ke sekolah pagi-pagi dengan kantuk yang menggerogoti dirinya. Ditambah lagi mengontrol para murid yang bandel alias kabur dari kegiatan gotong royong.
"Keisya," panggil sang kepala sekolah yang sedang mencabuti rumput di area taman kelas.
"Ya, pak?"
"Coba kamu cari murid yang gak kerja. Apalagi di bagian rooftop itu. Enak saja main kabur, catat semua nama-namanya biar bapak hukum mereka."
"Siap, pak."
Sebetulnya, rooftop itu tempat biangnya murid yang sering nongkrong. Di mana murid bisa merokok, main gitar tanpa harus ditimpuki karena bernyanyi keras-keras, dan berpakaian sebebasnya. Anak perempuan tidak ada yang berani ke sana, kecuali Keisya yang sekarang berdiri di ambang pintu masuk rooftop.
"*Seberapa pantas kah
Kau untuk ku tunggu*!"
Devan tampak cekikikan mendengar nyanyian fals Aldo. "Lanjut Do, gue sawer nih." Ia mengeluarkan uang sepuluh ribu dari dalam saku dan mengibaskannya di depan wajah Aldo, supaya semangat.
Keisya menghela napas panjang, ternyata murid yang berkumpul di sana jauh lebih banyak dari yang diperkirakan. Murid cowok kelas 10 sampai 12 seakan menjadi satu.
"Harusnya gue ajak Daffa tadi," gumam Keisya.
"Kenapa berdiri aja kak, ayok ikut." Tiba-tiba seorang adik kelas cowok datang dan merangkul Keisya dari belakang, lalu membawanya ke tengah-tengah rooftop.
"Oh! Ini ketua OSIS baru, manis juga."
Melihat Keisya datang, Aldo pun langsung berjongkok di hadapan Keisya, sebelah tangan Aldo meraih tangan Keisya dan sebelahnya lagi ia sembunyikan di belakang punggung.
"Hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku!"
Keisya mengernyitkan dahi mendengar Aldo bernyanyi, semua yang menatapnya tampak bersorak-sorai dengan permainan Aldo yang sedang menembaknya. "Marry me?"
"Turun Do, bersihin rumput di depan kelas lo tuh."
Merasa ditolak, Aldo pun berdiri. Ia mengisap batang rokok dengan sebelah tangannya, lalu asap rokok itu ia hembuskan ke depan wajah Keisya, membuat Keisya terbatuk-batuk. "Buat apa cabut rumput kalau masih tumbuh? Ngabisin energi."
"Matiin rokok lo Do, rokok itu bisa ngebunuh diri lo sendiri secara perlahan."
Melihat Aldo yang semakin menyembulkan asap rokoknya, Devan pun maju mendekati Aldo dan menatap matanya tajam. "Lo gak denger Keisya ngomong apa? Matiin." Suasana yang semula nyaring seketika berubah hening.
"Gue matiin kalau udah abis."
Devan yang kesal langsung mengepalkan memukul rahang Aldo sampai dia tersungkur ke lantai dan menginjak rokok Aldo sampai apinya mati. "Gak usah ngeliatin kalian, turun ke bawah sebelum gue buat bonyok kayak dia."
Gertakan pentolan bad boy dan situasi yang membahayakan itu, membuat mereka yang menyaksikan langsung kicep, lari ke bawah. "Berdiri lo." Devan meraih kerah baju Aldo agar dia berdiri.
Aldo bangkit berdiri, menyeimbangkan badannya, sambil mengelus sudut bibirnya yang lebam dibuat Devan. "Sakit anjing!"
"Lo gak bakal gini, kalau dengerin gue ngomong." Devan menjauhkan Aldo dari wajahnya. Meskipun Aldo tau Devan hanya menggertak tapi pukulannya benar-benar terasa menyakitkan. "Pergi sana."
"Awas lo!" Aldo pun memutuskan pergi dari rooftop, sebelum Devan memberikan pukulan lebih banyak padanya.
"Lo gapapa?" Devan yang melihat Keisya menutup mulut karena shok langsung memeluk gadis itu, agar dia merasa lebih tenang. "Jangan pernah masuk ke kandang singa sendirian, kecuali kalau ada gue."
Keisya hanya mengigit bibirnya, takut. Untuk pertama kalinya ia melihat pertengkaran mereka secara dekat, apalagi saat rokok mengingatkannya pada almarhum ayahnya. Keisya mencoba ikhlas, tapi perasaan sedih selalu mendadak muncul dalam benaknya. "Lo ngerokok juga Dev?" tanya Keisya begitu pelipisnya menyentuh benda persegi di kantong baju Devan.
"Udah berhenti."
Keisya langsung melepas pelukannya, matanya menangkap bungkus rokok di saku baju Devan, lalu mengambilnya dengan cepat. "Gue ambil, gue harap lo bisa buktiin ucapan lo itu." Keisya berlari meninggalkan Devan di rooftop sendirian.
"Ok."
~•••~
Selesai di rooftop, sekarang Keisya beralih ke kantin, ia berusaha mengajak kumpulan cabe alias The Evil Geng yang sekarang sedang duduk mengelilinginya untuk gotong royong bersama.
"Iya beb, ini kami mau pergi kok," ucap Cika mengelus pelan pundak Keisya di sampingnya.
"Maaf ya, kami gak bantu kerja. Biasalah ngisi perut. Lagi ngidam," ucap Caca yang mengelus rambut Keisya lembut, membuat teman-temannya itu tertawa terpingkal-pingkal, padahal menurut Keisya itu tidak lucu sama sekali.
"Kalau bisa sekarang kalian gerak, biar kita cepet selesai."
Mereka bertujuh malah terdiam dan memilih melahap makanannya. Setelah itu, mereka pergi meninggalkan kantin, entah menuju lapangan atau tidak tapi, setidaknya Keisya sudah berusaha mengatur mereka.
~•••~
"Kei! Ba-baju lu kena saos. Rambut lo juga ada permen karetnya," kata Daffa begitu Keisya sampai di ruang OSIS untuk berisitrahat.
"Ha?! Serius Daf?" Keisya meraba baju dan rambutnya yang terasa kasar. Ternyata benar kata Daffa, ada permen karet yang menepel di ujung rambutnya dan saos sambal di pundaknya.
"Kalau tambah kecap udah jadi cilok lo." Daffa membersihkan baju Keisya di bagian pundaknya dengan sapu tangan.
"Udah ah. Lo malah buat baju gue tambah kotor! Terus gimana lagi nih rambut gue?"
"Kalau baju ya tinggal buka."
Keisya menyentil kening Daffa membuat Daffa meringis. "Udah berani ya sama gue?!"
Daffa terkekeh. "Ya udah, jam gotong royongnya juga udah mau abis, tinggal ganti." Keisya terdiam, benar juga kata Daffa.
Melihat sebungkus rokok dalam saku baju Keisya, pemilik kulit kuning sedikit kecokelatan itupun jadi penasaran. "Ngapain lo ngantongin rokok?"
Keisya mengambil rokok dari dalam saku bajunya, membuangnya ke dalam kotak sampah, lalu mengehela napas singkat. "Punya Devan biar dia gak ngerokok, lo kok gak nyusul gue ke rooftop sih?"
"Lo tau sendiri Kei, gue gak bisa ke tempat penuh rokok entar jadi berabe lagi."
"Sori, gue lupa lo punya asma." Keisya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sebenarnya yang salah dirinya kah? Karena akan menyebabkan penyakit Daffa kambuh nanti atau Daffa yang tidak mau membantunya?"