
Dua hari kemudian…
"Bagaimana Sam tugas yang aku berikan sudah beres?" Tanyanya saat asisten Sam memberikan jadwal rincian harian seperti biasanya.
"Sudah pak dan ternyata memang benar pihak kontraktor tidak melakukan sesuatu sesuai dengan proposal yang mereka ajukan. Mereka membeli bahan-bahan yang tidak sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditulis!"
"Ck, sudah kuduga mereka memang sangat lah licik. Putuskan kontrak dengan perusahaan kontraksi itu. Blacklist perusahaan mereka!"
"Tapi pak, jika seperti itu bukankah perusahaan akan rugi atas dana yang sudah dikeluarkan untuk pembangunan hotel tersebut?"
"Ajukan pengembalian dana, jika mereka tetap tidak mau bawa masalah ini ke meja hijau. Mereka pikir perusahaan mereka ini apa!" Kata Noel dengan geram, ini pertama kalinya dirinya bermasalah dengan perusahaan konstruksi. Padahal dia sudah cukup banyak memenangkan tender-tender besar tapi baru kali ini mendapatkan masalah yang cukup menyebalkan.
"Baik pak saya akan laksanakan!"
"Oh ya, katakan pada Nindy untuk segera menyelesaikan tugasnya. Aku mau secepatnya sekertaris itu sudah ada di mejanya!" Perintah sang boss saat Sam hendak meninggalkan ruangannya.
"Baik pak, laksanakan sesuai perintah!" Ucapnya kemudian sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
Noel tampak memijit keningnya, sebetulnya dia sedikit kasihan dengan asistennya itu. Karena belum adanya sekretaris baru membuat asisten Sam harus merangkap tugas menjadi asisten sekaligus sekertarisnya.
Tak lama kemudian pintu kembali diketuk oleh seseorang dari luar. Noel pun mempersilahkan orang tersebut untuk masuk yang ternyata adalah Nindy si kepala HRD.
"Permisi pak, kami selaku tim HRD sudah memtuskan mengenai sekertaris baru!"
"Ya bagus, siapa yang kalian pilih!"
"Nona Yumna Adara."
Noel seketika membulatkan matanya. Dia sedang tidak salah dengar kan? Bukankah nama itu adalah nama wanita yang menyebalkan itu. Wanita yang berani mendebatnya di kantornya sendiri.
"Kenapa kalian memilih wanita itu?" Tanya Noel dengan nada tidak suka. Kemarin-kemarin saja dia sudah sangat kesal dengan wanita itu bagaimana jadinya jika dia harus setiap waktu berada bersama sang sekertaris?
Nindy tampak mengerutkan keningnya, memangnya ada apa dengan wanita itu. Bukan, maksudnya ada masalah apa dengan wanita itu? Dilihat dari CV atau curiculum vitae yang wanita itu kirimkan, dia adalah wanita yang cukup kompeten untuk menjadi seorang sekretaris.
"Sebelum kami pihak HRD memutuskan untuk merekrut nona Yumna Adara, kami sudah melakukan beberapa pertimbangan. Dan nyatanya memang nona Yumna adalah kandidat terbaik dari yang baik. Daftar riwayat hidupnya juga baik dan pengalaman bekerja, beliau sudah memiliki." Katanya dengan ragu-ragu saat melihat tatapan dingin dari sang atasan. Ahh atasannya ini menyeramkan dan menggetarkan hati secara bersamaan.
"Apakah itu saja cukup?" Tanyanya lagi seolah-olah dirinya memang masih belum terima atas keputusan pihak HRD.
"Saya rasa cukup pak. Lagipula menurut saya, sekertaris adalah pekerja yang cukup penting di dalam sebuah perusahaan dan kita tidak bisa memutuskan begitu saja."
"Baiklah, segera hubungi sekertaris baru itu. Dan aku mau besok dia sudah bisa bekerja. Kau bisa kembali ke ruanganmu!" Lihat kan sebenarnya si boss adalah orang baik tapi sepertinya dia hanya kaku saja.
"Baik pak, saya permisi! Selamat pagi!" Pamitnya kemudian pergi meninggalkan ruangan sang direktur.
Hari ini Dara memutuskan untuk mengunjungi tempat yang dulu sering dia kunjungi bahkan hampir setiap hari setelah pulang sekolah bersama dengannya. Ya orang itu yang meninggalkannya tanpa kata dan pemberitahuan. Dara berharap kedatangannya kali ini akan sedikit mengobati rasa rindunya dan bahkan bertemu dengannya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit akhirnya Dara pun sampai di tempat itu. Sebuah taman kota yang letaknya sedikit agak jauh dari tempatnya tinggal sekarang. Setelah membayar ongkos taksi online, Dara pun segera menyusuri jalan setapak yang ada di taman itu.
Sudah lama Dara tidak berkunjung kesana, seingatnya dulu dia berkunjung kesana setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya. Hari itu seharusnya hari yang sangat membahagiakan untuk orang yang sudah mencapai pendidikan tertinggi namun tidak untuk Dara. Hari itu adalah hari yang paling menyedihkan untuknya. Di acara wisuda tidak ada satupun keluarga yang mendampinginya. Sangat miris bukan? Padahal Dara berharap 'dia' yang selalu mengisi hatinya datang untuk memberinya ucapan selamat dan menjelaskan tentang kepergiannya yang begitu saja.
"Sudah lama aku tidak kesini! Ternyata semuanya masih sama hanya sedikit ada perubahan!" Gumamnya sambil menyunggingkan senyuman. Otaknya sudah memutar memori-memori beberapa tahun lalu. Dulu dimana dirinya sering menghabiskan banyak waktu setelah pulang sekolah disini bersamanya.
Dara mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya. Dia tersenyum melihat benda itu namun air matanya juga jatuh secara bersamaan. Dara menggenggam erat boneka berbentuk bintang itu seakan meluapkan apa yang hatinya sekarang rasakan.
"Apa kamu masih ingat denganku? Aku masih menunggumu disini seperti dulu janji kita! Aku harap kamu segera datang dan kita bisa merajut kisah cinta kita kembali!" Lirihnya kemudian mengusap air matanya yang keluar sejak tadi. Banyak yang mengira jika dirinya adalah seorang wanita yang kuat tapi nyatanya dia tidak seperti itu. Dia tetap seorang manusia biasa yang bisa merasakan kesepian dan juga kesedihan.
Sejenak dia mengadahkan kepalanya ke atas berharap air mata itu tidak lagi keluar. Dia tahu laki-lakinya adalah orang yang bertanggung jawab dan tidak mengingkari janjinya. Dan dia juga yakin suatu saat mereka pasti akan bertemu kembali.
Setelah merasa hatinya tenang, Dara pun berdiri dari tempatnya duduk. Berjalan menyusuri taman kota itu. Dia tersenyum ketika melihat pedagang bakso yang ada disana. Dulu dia sering makan bakso bersama dengannya disana. Dara kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar. Banyak sekali kenangan yang sudah mereka torehkan tapi tidak ada satupun yang Dara lupakan.
Dara memtuskan untuk membeli satu mangkuk bakso sebagai pengobat rasa rindunya yang kian memupuk. Tempatnya masih sama dan pedagangnya juga masih sama tapi mungkin beliau sudah lupa karena sudah lama dia tidak kesana juga.
"Pak baksonya satu ya? Makan sini!"
"Iya neng." Jawab pedagang itu kemudian segera membuatkan pesanan milik Dara. Dara tahu jika jam-jam seperti ini pedagang bakso itu pasti masih sepi pembeli sebab para murid sekolah belum pulang yang kebetulan pembeli bakso itu rata-rata adalah para pelajar yang letak sekolahnya tidak jauh dari taman kota.
"Ini neng! Selamat dinikmati!" Kata pria yang usianya mungkin sudah hampir lima puluh tahun itu.
"Makasih pak!"
Dara segera menikmati semangkuk bakso yang rasanya pun masih sama seperti dulu. Gurih dan juga nikmat. Saat dirinya tengah menikmati bakso masa lalunya tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.
"Hallo?"
"Apakah benar ini dengan nona Yumna Adara?" Tanya seseorang di seberang sana.
"Benar, ini dengan siapa ya?"
"Saya perwakilan dari Haidar Corp memberitahu jika nona Yumna Adara lolos sebagai sekertaris. Untuk itu nona diharapkan bisa mulai bekerja esok hari!"
"Benarkah?" Dara girang bukan main, akhirnya dia kembali bekerja.
"Baik besok saya akan mulai bekerja, terimakasih!" Ucapnya kemudian mematikan sambungan telepon. Dia girang bukan main sampai melupakan keadaan sekitarnya.