
Hari berganti hari, terhitung sudah tiga hari sejak kejadian hari itu. Kini Dara juga sudah kembali beraktivitas sejak dua hari yang lalu.
Di dalam apartemen minimalisnya, di kamar yang juga tak terlalu besar itu Dara sedang mengemas beberapa pakaiannya ke dalam koper kecil. Hari ini dia akan melakukan perjalanan bisnis dengan sang bos ke pulau Bali untuk melihat lahan yang akan dibangun villa.
Setelah mengemas beberapa pakaian Dara bergegas untuk berangkat ke bandara sebab dia dan sang bos akan langsung bertemu di Bandara. Setelah mengunci semua pintu Dara segera menarik kopernya masuk ke dalam lift di bawah sudah ada sopir perusahaan yang menunggu.
Sebenarnya ini adalah tugas Sam, biasanya laki-laki itu yang akan menemani sang boss untuk berpergian keluar perusahaan. Tapi disaat waktu yang bersamaan juga ada rapat penting yang setidaknya harus dihadiri oleh petinggi perusahaan sendiri. Oleh sebab itu Noel membawa Dara saja untuk pergi bersamanya. Sementara Sam akan melakukan rapat dengan yang lainnya.
******
Pukul sebelas siang pesawat komersil yang ditumpangi Dara dan Noel sudah tiba di Bandara internasional Ngurah Rai. Mereka segera turun untuk melakukan tugas selanjutnya.
"Mari pak!" Ucap Dara ketika melihat mobil jemputan yang sudah siap di depan lobby bandara. Sebagai sekertaris Dara harus menyiapkan segala keperluan sang boss karena sang asisten yang tidak ada kehadirannya.
Noel hanya diam sambil berlalu meninggalkan Dara yang agak kesulitan membawa dua koper sekaligus.
"Mari saya bantu!" Kata sopir itu setelah membukakan pintu untuk Noel. Setelah menaruh koper dalam bagasi mobil Dara segera masuk ke dalam duduk di sebelah sang sopir. Duduk di dekat Noel hanya akan membuatnya kedinginan karena sifat dingin sang boss.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit akhirnya mereka sampai di salah satu villa milik keluarga Winata. Sebelum datang Dara terlebih dahulu menghubungi pihak villa untuk menyiapkan segalanya yang kemungkinan akan mereka butuhkan.
Karena rapat akan berlangsung nanti pukul tiga mereka memilih untuk istirahat di kamar masing-masing. Kebetulan letak kamar Noel dan Dara bersebelahan. Untuk makan siang Dara sudah menyuruh pelayan untuk membawakan ke kamar si boss.
"Hufft... capek banget!" Keluh Dara sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size. Karena merasa mengantuk Dara memilih untuk memejamkan matanya terlebih dahulu tetapi sebelum itu dia lebih dulu menyetel alarm di ponselnya agar tidak terlambat bangun.
*****
Sore harinya mereka sudah tiba di lokasi yang dituju. Sebuah lahan kosong yang ditumbuhi beberapa rerumputan yang letaknya di dekat dengan laut lepas.
"Selamat sore pak!" Sapa seorang laki-laki paruh baya, rekanan bisnis Noel.
"Sore pak!" Jawabnya sambil menjabat tangan pria paruh baya itu sementara Dara dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana pak, lahannya sudah sesuai dengan proposal yang kami ajukan?"
"Ya saya rasa sudah!" Jawab Noel kemudian mereka pun berbincang-bincang mengenai kerjasama mengenai pembangunan villa.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, mereka semua bergegas menuju salah satu restoran untuk makan malam bersama. Mereka semua makan dengan khidmat selesai makan barulah mereka kembali berbincang namun kali ini tidak mengenai pekerjaan ataupun bisnis.
"Saya rasa pak Noel dengan nona Dara ini sangat cocok!" Celetuk pria paruh baya itu dimana membuat Noel dan juga Dara membulatkan matanya seketika. Menurut mereka, mereka adalah orang yang berbanding terbalik. Mereka hanya akan kompak jika menyangkut tentang pekerjaan.
"Haha... tidak pak, pak Noel adalah atasan yang baik dan saya rasa beliau juga sudah memiliki kekasih!" Jawab Dara.
"Saya belum memiliki kekasih!" Kata Noel spontan dimana membuat Dara menoleh kepadanya.
"Emm maksud saya untuk saat ini saya memang belum ingin memiliki kekasih karena saya hanya sedang fokus pada perusahaan." Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tiba-tiba saja Noel merasakan kepalanya begitu pusing, seperti terhantam oleh benda keras. Dara yang melihat atasannya yang tampak menahan sakit itu pun segera berbisik karena tidak ingin membuat yang lain khawatir. "Pak Noel tidak apa-apa? Kenapa pucat sekali?"
Mendengar jawaban sang boss Dara segera mengambil inisiatif untuk kembali ke villa terlebih dahulu apalagi melihat wajah Noel yang semakin pucat dan keringat yang membasahi dahinya.
Saat hampir sampai di pintu mobil, tiba-tiba saja tubuh Noel terhuyung ke samping. Dengan sigap Dara membopong tubuh tegap itu untuk masuk ke dalam mobil dengan bantuan sopir.
"Pak kita ke rumah sakit saja ya?"
"Tidak, kita kembali ke villa saja!"
"Tap-!"
"Saya ingin istirahat di villa saja." Jawabnya tidak mau dibantah. Akhirnya Dara pun mengikuti ucapan sang boss meksipun dirinya sangat begitu khawatir.
Diperjalanan Noel sudah benar-benar hampir kehilangan kesadarannya. Melihat hal itu membuat Dara akhirnya merebahkan kepala Noel di bahunya. Saat tak sengaja memegang pipi Noel, Dara merasakan suhu Noel yang begitu panas.
"Ya Tuhan suhu bapak panas sekali!" Pekiknya ketika merasa suhu badan Noel yang panas. Sementara Noel bukannya merasa kepanasan dia malah menggigil kedinginan.
"Dinginnnn!" Katanya dengan suara terendah hampir menyerupai sebuah gumaman.
"Pak lebih cepat lagi!" Perintahnya pada sang sopir.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit mereka pun sampai ke villa. Dara meminta tolong pada sang sopir untuk membantu membawa tubuh Noel ke dalam kamarnya. Setelah itu dia juga menyuruh salah satu pelayan villa untuk memanggil dokter terdekat.
"Dinginn!" Ucap Noel lagi. Dara yang melihat hal itu pun merasa kasihan meskipun Noel terkadang bersikap seenaknya dan juga kekanakan tapi melihat wajahnya yang sekarang membuat Dara menjadi iba. Dara segera menutup tubuh Noel dengan dengan selimut yang ada.
Tak beberapa kemudian seorang dokter laki-laki datang. Dara pun segera meminta sang dokter untuk memeriksa keadaan atasannya apalagi melihat wajah Noel yang semakin pucat membuatnya semakin khawatir. Bukankah jika sesuatu hal terjadi pada Noel maka dialah orang uang harus bertanggung jawab?
"Bagaimana dok?"
"Sepertinya pak Noel alergi terhadap sesuatu makanan. Saya sudah memberinya suntikan untuk meredakan alerginya dan untuk obatnya nanti tolong ditebus di apotek terdekat!"
"Apa tidak lebih baik dibawa ke rumah sakit saja?" Tanya Dara masih dengan nada yang khawatir.
"Tidak perlu Bu, suhu tubuh suami anda sebentar lagi juga akan turun. Lebih baik jika langsung istirahat saja!"
Deg!
Suami? Entah kenapa mendengar kata suami membuat jantung Dara berdetak lebih cepat. Pipinya pun menjadi merona.
"Ah baik pak kalau begitu terimakasih atas bantuannya, nanti saya akan menyuruh pelayan untuk membelikan obat!"
Dokter pun pergi meninggalkan kamar Noel. Dara sendiri juga akan kembali ke kamarnya karena sudah malam. Saat hendak meninggalkan sang boss, tiba-tiba saja Noel mencengkeram pergelangan tangannya membuat Dara berhenti ditempatnya.
"Tolong temani saya! Jangan pergi!" Pintanya.