Hello, My Secretary!

Hello, My Secretary!
22



Sepanjang makan siang Dara tidak berani untuk mengangkat kepalanya. Dia hanya menunduk melihat nasi serta lauk pauk di dalam wadah kotak itu. Sungguh dia merasa canggung dengan suasana ini.


Setelah menyelesaikan makan siang, Dara hendak pergi. Dia juga sudah membersihkan kotak itu kembali dengan bersih di pantry perusahaan yang biasa office boy gunakan untuk membuat minuman atasan mereka.


"Terimakasih atas makan siangnya nyonya," Ucapnya kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya. "Saya permisi!"


"Tunggu, bisakah kamu duduk sebentar disini? Aku ingin berbincang-bincang denganmu!"


Dara tampak melihat kearah Noel, seperti meminta persetujuan dari laki-laki itu. Dan Noel menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dara pun kembali duduk di sofa tempatnya tadi.


"Emm Adara kamu tinggal dimana?" Tanya mommy Retha yang masih duduk ditempatnya sedangkan Noel sudah kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Saya tinggal di apartemen Soehatt nyonya!"


"Bersama orang tuamu?" Tanya mommy Retha lagi. Ish mommy banyak tanya sekali sih! Sudah kayak sidak calon menantu aja! Batin Noel. Laki-laki itu pura-pura sedang berkutat dengan berkas-berkasnya padahal dia juga sedang memasang telinga untuk mendengar pembicaraan mereka.


"Tidak, saya hanya tinggal sendiri. Ibu saya sudah meninggal saat saya masih SMP sedangkan ayah saya tidak tahu dimana beliau karena mereka sudah bercerai dan ayah pergi dari rumah," Ketika mengatakan hal itu entah kenapa membuat hatinya menjadi sedih. Ingatan tentang masa kecilnya yang susah seakan terngiang-ngiang di kepalanya.


"Oh maaf aku tidak bermaksud untuk mengingatkan masa lalumu!" Kata mommy Retha merasa tidak enak dengan wanita didepannya itu.


"Tidak apa-apa nyonya, lagipula hal itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Mau bagaimana lagi bukankah masa lalu memang tidak bisa dihindari? Seberapa besar usaha kita untuk melupakan masa lalu tetapi masa lalu akan tetap menjadi bagian dalam hidup. Yang terpenting adalah masa kini dan juga masa depan bukan?" Mommy Retha menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dara.


"Kak Dara sudah punya pacar?" Celetuk Orin dimana membuat orang-orang yang ada disana langsung menoleh padanya.


"Jangan dijawab Dara!" Kata Noel sebenarnya bukan karena dia tidak tertarik dengan jawaban Dara. Tetapi dia lebih takut mendengar jawaban yang akan terlontar dari bibirnya. Dia takut jika jawabannya sesuai apa yang sekarang sedang dipikirkannya. Noel belum siap akan hal itu.


"Ish kakak nyebelin!" Kata Orin sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Jangan sedikit-sedikit ngambek dong sayang! Anak udah mau tiga juga!" Kata Noel sambil terkekeh sedangkan mommy Retha hanya menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan kedua anaknya itu.


"Oh iya Dara, kamu bisa kembali ke mejamu!" Perintah Noel kemudian diangguki oleh Dara dan sebelum keluar dia terlebih dahulu berpamitan dengan nyonya bossnya serta mengucapkan terimakasih atas jamuan makan siangnya.


"Mommy jangan tanya-tanya Dara gitu dong nanti kalau dia merasa nggak nyaman gimana?" Protes Noel setelah melihat Dara menghilang dari balik pintu ruangannya.


"Memangnya kenapa? Mommy hanya ingin lebih kenal dengan calon menantu saja!" Jawab mommy Retha dengan cueknya.


Tak dipungkiri Noel senang mendengar apa yang dikatakan mommynya. Bukankah itu sebagai pertanda jika mommynya setuju dengan pilihannya?


"Jadi kakak sekarang sudah bisa melupakan kak Jes?" Tanya Orin dimana membuat Noel mengentikan aktivitasnya sebentar.


Noel tampak menghela nafasnya kemudian berkata "Jes adalah masa lalu meskipun sulit tapi harus kakak lupakan. Kakak tidak mau terjebak masa lalu yang mana membuat kakak hanya akan stuck disitu situ aja! Kakak juga ingin mempunyai keluarga kecil sendiri!"


"Emm kakakku yang paling tampan dan sedingin es batu, sekarang sudah mencair hem? Karena kak Dara?"


"Apasih Rin!" Jawab Noel dia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang semerah kepiting rebus sekarang.


"Mommy menyukai Dara, dia terlihat gadis baik-baik!"


"Ya udah kita pulang dulu! Jangan terlalu memforsir diri sendiri El, kamu juga butuh istirahat!"


"Iya mommy ku yang cantik!" Katanya kemudian memeluk sang ibu dan adik secara bergantian sebagai tanda perpisahan.


"Oh iya lain kali ajak Dara ke rumah kita makan malam bersama!" Ucap mommy Retha sambil menepuk pelan pipi Noel dan laki-laki itu tersenyum.


"Iya mom lain kali ya!"


Flashback off


"Bagaimana Dara apa kamu mau mengambilnya?" Tanya Noel pada wanita disampingnya. Sementara Dara gadis itu masih terdiam dengan lamunannya.


"Hey Adara...!"


"Eh i-iya pak, maaf saya tadi melamun. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ck, kau selalu saja lupa! Sekarang kita sudah tidak berada di lingkungan perusahaan!"


"Iya-iya, maaf. Tadi kamu tanya apa?" Tanyanya saat dia kembali ke alam nyatanya.


"Mommy memberikan gaun untukmu, agar kau memakainya waktu ulang tahun perusahaan,"


"Tapi pak itu tidak perlu!" Jawab Dara tidak enak, bagaimana mungkin dia menerima begitu saja pemberian dari seseorang. Dan Dara juga merasa tidak layak untuk menerima hal itu apalagi sudah bisa dia bayangkan betapa mahalnya gaun itu.


"Sana bilang sendiri pada mommy, aku mana berani mengatakan padanya! Aku tidak bisa melihat wajahnya sedih!"


"Ck, kamu yang anaknya sendiri saja tidak berani menolak apalagi denganku!" Gumamnya tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh Noel.


"Ya sudah kalau begitu nanti sepulang dari melihat lokasi kita ke butik!" Kata Noel dengan semangat dimana membuat Dara mengernyitkan keningnya. Bukankah tadi sang boss sedang kesal tapi baru sebentar sudah bisa senang lagi? Dasar anak kecil. Batin Dara.


Tanpa Dara sadari, Noel tersenyum licik dibaliknya. Sebetulnya mommynya tidak memberikan Dara apapun dan itu hanya akal-akalannya saja. Noel lah yang ingin Dara memakai gaun pilihannya tetapi dia mengkambing hitamkan mommynya. Tak apalah demi sebuah kebaikan! Batinnya.


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah hotel yang Dara tahu itu adalah milik keluarga Noel. Hotel bintang lima dengan ratusan kamar serta kemewahan luar biasa itu sekarang ada didepannya. Dara tidak mampu berpikir seberapa kaya laki-laki yang sekarang sedang berjalan didepannya itu.


"Bagaimana Dara persiapannya?"


"Ehem tadi pihak penanggung jawab sudah memerintahkan bahwa tempat sudah delapan puluh lima persen dan untuk makanannya tadi ada sedikit tambahan karena beberapa undangan baru dari kolega milik tuan besar."


Noel hanya menganggukkan kepalanya menyimak apa yang di ucapkan oleh Dara. Sementara matanya fokus pada pekerja yang sedang mendekorasi ballroom dari hotel itu.


"Bagaimana menurut kamu dengan dekorasinya? Apakah sudah bagus?"


"Menurut saya ini sudah sangat bagus dan sangat mewah pak!" Jawabnya sambil memandang sekeliling.