
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam, mobil yang mereka tumpangi pun memasuki sebuah kawasan pendidikan. Di sana tampak berjejer gedung-gedung dari berbagai tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Mobil yang mereka tumpangi masih melaju sampai berhenti di ujung jalan.
Sopir pun segera membuka pintu untuk tuan dan juga sekertarisnya. Dara masih diam memandangi sekelilingnya dimana para ibu-ibu yang sepertinya juga sedang menunggu putra-putri mereka. Noel sendiri masih diam menatap lurus ke depan sambil menyandarkan punggungnya ke pintu mobil.
Dara tidak pernah menampik jika sosok Noel sangat berpengaruh terutama terhadap hati seorang wanita. Lihat sekarang para ibu-ibu muda itu tampak menatap kagum pada ciptaan Tuhan itu.
Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi dan tampak anak-anak yang berhamburan keluar dari beberapa pintu. Sampai lah dua orang anak yang menghampiri mereka.
"Uncle?" Seru seorang anak perempuan berambut ikat kuda itu.
"Yeah, kau senang?" Tanya Noel kemudian memeluk dua anak itu secara bergantian.
"Mana mommy?" Tanya si anak laki-laki setengah mengedarkan pandangannya tapi sepertinya tak menangkap sosok ibunya.
"Mommy di rumah, dia sedang agak sibuk jadi tidak bisa menjemput kalian." Bohongnya padahal menjemput mereka hanyalah akal-akalan dari Noel saja agar bisa lebih dekat dengan Dara. Laki-laki itu sepertinya sudah kehabisan akal untuk mendekati Dara karena tampaknya gadis itu tidak terpengaruh akan pesonanya.
Ya. Tadi pagi Noel menghubungi sang adik, Orin. Untuk meminta izin menjemput si kembar dengan alasan merindukan mereka. Orin pun setuju dengan permintaan kakaknya tanpa menaruh curiga sedikitpun. Padahal Noel hanya menggunakan sang keponakan sebagai umpan agar dia bisa lebih dekat dengan Dara.
"Who is that woman uncle?" Tanya Andrea dengan suara berbisik.
"The one who now fills Uncle's heart!" Jawab Noel sambil berbisik juga. Sementara gadis itu tampak biasa saja karena memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pamannya.
"Oke sekarang kita pergi ke playground sesuai permintaan kalian!" Ucap Noel membuat kedua keponakannya itu bingung sementara Dara terseyum memandang interaksi antara keponakan dan paman.
Kemudian Dara mengelus kepala Andrea membuat gadis itu mendongak kemudian tersenyum. Tiba-tiba saja hati Dara melencos begitu saja. Seandainya saja dia sudah menikah mungkin anaknya akan seusia mereka bahkan lebih besar lagi.
"Sudah kita langsung kesana saja ya tapi kita makan siang dulu!" Kata Noel saat melihat keponakan laki-lakinya sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Dia tidak ingin jika kebohongannya terbongkar saat itu juga, kan malu.
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil dengan Andrew duduk di samping sopir sedangkan adiknya duduk di jok belakang bersama dengan uncle dan juga entah wanita siapa dirinya tidak tahu.
Andrea tampak melirik kearah Dara, gadis kecil itu tampaknya sedikit kepo dengan sosok disampingnya tapi dia tidak tahu harus mulai bertanya darimana. Apalagi ini pertama kalinya sang uncle bersama seorang wanita.
"Hey ada apa?" Tanya Dara ketika wanita itu menangkap pandangan Andrea padanya. Tetapi gadis itu malah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum malu-malu. "Oh iya kita belum berkenalan bukan? Perkenalkan namaku Dara, siapa namamu?" Tanyanya lagi untuk memecah kecanggungan diantara mereka. Dengan sikap Dara yang easy going tentu saja tidak sulit baginya untuk membawa suasana menjadi tidak canggung.
"Andlea Jovelin Winata," Jawabnya sambil tersenyum. Noel yang melihat interaksi antara keduanya pun ikut tersenyum setidaknya kedua keponakannya tidak keberatan dengan keberadaan Dara.
"Andrea?" Tanya Dara lagi untuk memastikan karena gadis kecil itu masih cadel.
"Iya,"
"Nama yang cantik sepertimu! Kalau yang didepan siapa?"
"Wah kalian pintar-pintar sekali ya!" Puji Dara pada keduanya.
Tak beberapa lama kemudian mobil yang mereka tumpangi pun masuk ke dalam halaman mall yang sudah di perintahkan oleh Noel. Salah satu mall terbesar di kota itu. Mereka pun turun di lobby mall setelah itu sopir dan mobilnya pergi untuk mencari tempat parkir.
"Kalian mau makan apa?" Tanya Noel pada kedua keponakannya sambil berjalan memasuki mall tersebut. Mereka berdua masih diam tampaknya sedang berpikir makanan apa yang mereka inginkan.
"Dara, maaf jika aku mengajakmu kesini dan mungkin membuatmu tidak nyaman karena keberadaan Andrew dan Rea!"
"Tidak apa-apa El, lagipula aku senang bersama mereka!" Jawab Dara kemudian mereka menaiki lift untuk menuju ke tempat food court di lantai tiga.
"Uncle aku mau ke lestolan Jepang!" Kata Andrea setelah menemukan makanan yang diinginkannya. Sementara sang kakak hanya mengangguk setuju dengan keinginan sang adik.
"Bagaimana Dara? Mau kan makan dengan mereka di restoran Jepang?"
"Tentu saja," Jawabnya kemudian tersenyum. Memangnya aku ada pilihan? Batin Dara.
Mereka pun tiba di salah satu restoran Jepang yang ada di area Mall tersebut. Tidak terlalu ramai karena memang belum jam makan siang dan makanan Jepang dirasa kurang cocok untuk makan siang bagi beberapa penduduk Indonesia.
"Kita duduk disana ya!" Kata Noel menunjuk salah satu tempat duduk yang letaknya dekat dengan jendela kaca. Mungkin kebanyakan orang yang tidak tahu akan mengira jika mereka adalah satu keluarga dengan seorang ayah dan ibu lalu dua orang anak.
"Selamat datang di restoran kami, mau pesan apa pak Bu?" Tanya pelayan itu dengan ramah setelah semua orang mendudukkan bokongnya di kursi masing-masing dengan Dara yang berhadapan dengan Noel lalu disampingnya si cantik Andrea sedangkan sang kakak berada di samping uncle-nya.
Dara hanya membolak-balikkan buku menu yang dia pegang. Sebenarnya makanan Jepang bukankah tipenya. Dia lebih suka makanan dengan rempah-rempah yang banyak seperti masakan khas Indonesia. Tapi mau bagaimana lagi, ingin menolak ajakan si bossnya tadi juga tidak enak.
"Aku mau ini, ini, ini, ini dan ini!" Kata Andrea sambil menunjuk beberapa menu yang tersedia di restoran tersebut dimana membuat Dara membulatkan matanya. Sedangkan sang pelayan tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, apakah dia harus menulis pesanan gadis kecil di depannya itu?
"Tulis semua menu yang ditunjuk keponakan saya mbak, buatkan dua porsi!" Perintah Noel pada pelayan laki-laki itu.
"El apa itu tidak terlalu banyak?" Tanya Dara ketika Noel menyuruh pelayan itu menuliskan menu yang diinginkan oleh keponakannya.
"Tidak Dara, mereka berdua sangat rakus sama seperti ibunya!" Jawab Noel sambil terkekeh dimana membuat Dara terpesona dengan senyuman milik Noel yang sangat jarang dia tujukkan untuk karyawannya di kantor.
"Oh,"
"Kau sendiri mau pesan sama seperti mereka?"
"Tidak, aku Shoyu ramen saja!"
"Oke, Shoyu ramen 2 dan catat semua pesanan mereka! Oh ya untuk menu yang sama tadi jangan pedas." Pelayan itu pun mengangguk kemudian meninggalkan meja mereka untuk memberitahukan pada koki di dapur.