Hello, My Secretary!

Hello, My Secretary!
8



Noel tampak merapikan jasnya sebelum masuk ke ruangan yang sudah dipilih khusus oleh HRD sebagai tempat interview. Disana sudah ada lima orang calon sekertaris dan tiga orang dari pihak perusahaan. Sementara Noel sendiri juga bertugas untuk melakukan interview secara langsung.


Asisten Sam membukakan pintu untuk sang boss kemudian laki-laki itu berjalan mengikuti Noel. Dengan langkah penuh keyakinannya, Noel masuk kemudian duduk berhadapan dengan para peserta yang terdiri antara dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Tunggu, dia tidak salah lihat kan? Salah satu daftar calon sekertarisnya adalah wanita yang tadi menabraknya di loby perusahaan.


Seringai tipis muncul di bibirnya, rasanya dia ingin membalas dendam atas perlakuan yang tidak mengenakan tadi.


"Kalian perkenalkan diri terlebih dahulu!" Suara dingin itu memenuhi ruangan yang sekarang terlihat lebih mencekam sejak kedatangan boss mereka.


Mereka satu persatu memperkenalkan dirinya, sampai tibalah giliran Dara untuk memperkenalkan dirinya. Sejenak wanita itu membulatkan matanya ketika melihat laki-laki yang sekarang duduk didepannya dengan menyilangkan tangannya didepan dada. Menunjukkan bahwa dirinya paling berkuasa disana.


"Perkenalkan nama saya Yumna Adara!" Ucapnya sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat tak lupa dengan senyum manisnya.


Setelah semua memperkenalkan diri, mereka diminta untuk duduk di luar ruangan terlebih dahulu. Mereka akan masuk satu persatu setelah namanya dipanggil. Kebetulan Dara adalah peserta terakhir jadilah dia menunggu diluar ruangan bersama peserta yang lainnya.


"Dar!" Sapa asisten Sam pada Dara yang duduk dengan gelisah itu.


"Hay pak Sam!"


"Ck, kenapa memanggilku seperti itu? Panggil lah seperti biasanya saja!" Kesal asisten Sam karena menurutnya Dara sangatlah berlebihan. Dia hanya seorang asisten boss bukan bossnya.


"Lalu aku harus memanggilmu bagaimana hmm? Disini jabatanmu sangatlah penting dan aku menghormati hal itu!"


"Tidak aku tetaplah Sammy orang yang biasanya mentraktirmu minum di kafe Nindy."


"Tidak pak Sam itu sangat berbeda disini kau adalah atasan juga!"


"Sudahlah berdebat denganmu memang tidak ada gunanya. Kau menang sangat pandai berbicara. Oh ya aku sampai lupa, aku kesini hanya ingin memberimu semangat!" Katanya sambil menaik-turunkan alisnya.


"Iya iya terimakasih."


"Aku pergi dulu hmm? Jangan gugup mereka yang didalam adalah orang-orang baik!"


Mungkin jika para perwakilan HRD memang baik tetapi dengan bossnya aku tidak yakin...


"Iya selamat bekerja asisten Sam!"


Asisten Sam perlahan meninggalkan Dara yang masih duduk dengan meremas jari-jari tangannya. Dulu waktu masih melamar pekerjaan di perusahaan lamanya dia tidak segugup ini, tapi entah kenapa sekarang dia begitu gugup. Atau mungkin karena pria yang tadi tidak sengaja dia tabrak adalah calon atasannya. Tapi dia kan menabrak juga tidak sengaja dan dia juga sedang terburu-buru.


Cklek...


Pintu terbuka, peserta keempat sudah keluar. Kini giliran Dara. Dara mulai mengatur nafasnya, rasanya seperti ada tangan-tangan jahat yang mencekik lehernya.


Sepanjang Dara mulai menginjak kakinya masuk ke ruangan tersebut, pandangan Noel seakan sudah terkunci oleh pesona yang dimiliki Dara. Dara bisa dikatakan memiliki magnet sendiri di tubuhnya. Dara memang cantik tapi yang lebih cantik juga banyak.


"Yumna Adara? Ceritakan tentang diri anda?" Tanya seorang laki-laki berkemeja warna putih salju itu.


"Perkenalkan nama saya Yumna Adara, saya alumni administrasi perkantoran Universitas Nusantara Bakti. Sebelum ini saya bekerja sebagai sekertaris juga di perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur." Jawabnya penuh dengan percaya diri meskipun sejak tadi laki-laki yang sedang duduk di ujung tidak hentinya untuk menatapnya dengan pandangan entahlah Dara sendiri tidak mengerti.


"Apakah makna pekerjaan sendiri untuk anda?"


"Bagi saya, pekerjaan bukan semata-mata mencari uang. Namun, bagaimana saya bisa melakukan yang terbaik sehingga berkontribusi bagi kemajuan perusahaan.” Mereka semua tampak menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Dara tapi tidak untuk laki-laki itu. Laki-laki itu tetap dengan wajah datar dan dinginnya membuat Dara bergidik sendiri.


"Apa kelebihan dan kekurangan anda?" Kini seorang wanita cantik dengan name tag Nindy yang bertanya. Dia tahu itu adalah kepala HRD sebab dia juga sempat bertemu beberapa waktu lalu.


 “Kelebihan saya adalah jujur, cepat belajar, dan pekerja keras. Sementara itu, kelemahan saya adalah suka lupa. Namun, saya berusaha mengatasi kelemahan ini dengan mencatat hal-hal penting terkait pekerjaan di buku saku saya.”


"Bagaimana dengan ketidakdisiplinan yang kamu miliki?" Kini suara laki-laki itu yang terdengar bertanya entah kenapa membuat Dara menjadi semakin tertantang. Dia bukan lagi anak remaja, usianya yang hampir menginjak tiga puluh tahun dan dengan pengalaman yang dimilikinya tentu saja tidak mudah membuatnya menjadi takut atau apapun itu. Sejak kecil dia dipaksa harus memiliki mental setebal baja.


"Maksud bapak?"


"Bagaimana dengan kekuranganmu yang tidak tepat waktu itu?"


"Maaf pak, saya rasa itu bukan sebuah kekurangan. Seseorang tidak bisa datang tepat waktu karena sesuatu alasan dan saya memiliki alasan itu jika bapak mempermasalahkan ketidaksopanan saya tadi pagi."


"Baru akan menjadi karyawan saja sudah datang seenaknya!" Cibirnya dimana membuat Dara menjadi kesal. Bukankah dia sudah meminta maaf lagipula dia juga tidak bermaksud datang terlambat. Dan bahkan dia sudah berangkat lebih awal tadi tapi karena memang kendalanya ada dijalan bukan ada pada dirinya.


"Maaf pak jika saya lancang!" Ucap Dara penuh penekanan. Persetanan dengan calon karyawan baru dia tidak peduli. Orang seperti ini memang hanya bisa memandang sesuatu hal dari sisi kayanya saja. "Tetapi bukankah saya tadi sudah meminta maaf atas ketidaksengajaan yang saya lakukan? Lagipula saya rasa masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan."


"Emm bisa kita lanjutkan saja untuk interviewnya?" Suara Nindy memecah perdebatan diantara keduanya.


"Kalian lanjutkan saja saya mau kembali ke ruangan!" Kata Noel dan hendak berdiri dari kursinya tapi setelah mendengar ucapan Dara, laki-laki itu tampak mengurungkan niatnya.


"Dasar tidak profesional!" Cibirnya dengan suara terendah namun ternyata pendengaran Noel yang baik membuatnya mendengar apa yang wanita itu katakan.


Noel geram sendiri dengan calon sekertarisnya ini, dia merasa jika wanita yang tadi memperkenalkan namanya sebagai Yumna Adara ini terlalu sombong dan merasa diatas angin. Padahal Dara tidak seperti itu, hanya saja dia yang memiliki pengalaman kerja yang cukup tentu saja tidak suka dengan sikap Noel yang menurutnya seenaknya saja itu. Padahal tanpa mereka sadari keduanya telah salah paham dengan sifat masing-masing. Noel tidak seperti yang Dara pikiran begitu pula dengan sebaliknya.


"Lanjutkan!"


Akhirnya mereka pun melanjutkan sesi interview, setelah tiga puluh menit berlalu acara interview selesai. Dara bisa bernafas lega keluar dari ruangan itu. Apalagi jauh dari pandangan laki-laki menyebalkan itu.


"Dasar bos menyebalkan, sudah minta maaf masih saja kurang. Memangnya dia mau aku melakukan apa? Sujud dikakinya?" Geurutunya sepanjang jalan keluar dari gedung Haidar Corp.