Hello, My Secretary!

Hello, My Secretary!
29



Hari-hari sudah berlalu, Dara pun kembali ke rutinitas sebagai sekertaris seperti sebelumnya. Beberapa hari ini dia lalui dengan riang gembira mencoba melupakan masa lalu yang mengguncang psikisnya. Tapi bagaimanapun juga masa lalunya memang harus diselesaikan dan itulah kehendak takdir.


Beberapa waktu yang lalu, Dara harus menghadiri rapat dengan kisah cinta masa lalunya siapa lagi kalau bukan Kenan. Tapi karena hatinya masih berantakan dia mencoba menghindari rapat tersebut dengan menyuruh Sammy untuk mewakilinya dengan alasan masih ada pekerjaan lain yang tidak bisa untuk ditunda. Tapi untuk saat ini sepertinya Sang Ilahi sedang tidak berpihak padanya. Hari ini Sammy sedang mengunjungi proyek yang berada di luar kota sementara dokumen harus segera diserahkan kepada pihak perusahaan Kenan. Dengan berat hati Dara pun menuju perusahaan milik sang mantan kekasih itu.


"Dara ada apa? Wajahmu terlihat lebih pucat?" Tanya Noel khawatir melihat wajah Dara yang memucat. Saat itu mereka sedang berada di ruangan Noel untuk mengambil dokumen tersebut.


"Ah aku tidak apa-apa hanya lelah, aku akan segera mengantar dokumennya!" Ucap Dara kemudian pergi meninggalkan ruangan Noel dan kembali ke ruangannya untuk mengambil tas dan juga ponselnya.


Tak butuh waktu lama, Dara akhirnya sampai di sebuah perusahaan yang lumayan besar meskipun tak sebesar milik Noel. Dara baru tahu jika perusahaan itu adalah milik mantan kekasihnya. Dulu dia benar-benar bodoh, yang dia tahu hanya Kenan anak orang kaya yang berkecukupan. Dia tidak tahu jika orang tua Kenan memiliki perusahaan yang lumayan terkenal. Bagaimana ingin tahu jika Kenan dari dulu menutupi tentang orang tuanya dan yang Dara ingat orang tua Kenan memang tidak menyukainya. Tapi karena cinta butanya dia tidak tahu apapun tentang sang kekasih. Padahal jika diingat-ingat mereka cukup lama berpacaran.


Dulu Dara hanya berpikir jika dengan Kenan saja dia sudah merasa cukup. Dan mengenai orang tua Kenan mungkin memang Kenan belum mau memperkenalkan mereka secara serius meskipun Dara sudah pernah beberapa kali bertemu dengan mereka.


"Dara kamu bisa, ini tidak lebih sulit dari tes wawancara dari HRD!" Gumam Dara pada dirinya sendiri. Dia mencoba untuk mensugesti dirinya agar bersikap lebih tenang dan memperkuat tembok yang sudah dia bangun dengan baik.


Dara pun segera menuju meja resepsionis untuk mengkonfirmasi kedatangannya pada atasan mereka. Setelah resepsionis perempuan itu memberitahukan kedatangannya, dia segera membawa Dara menuju lift untuk pergi ke ruangan Kenan. Sebenarnya Dara merasa tidak enak, dia hanya seorang sekertaris biasa tapi sepertinya mereka yang ada di perusahaan Kenan memperlakukannya dengan sangat baik atau entah itu hanya perasaanya saja.


"Silahkan Bu, ruangan pak Ken ada di sana. Itu sekertaris Zul sudah menunggu anda!"


"Ah ya terimakasih!" Jawabnya sambil tersenyum kemudian menuju ke arah sekertaris Zul yang memang sepertinya sudah menunggu kedatangannya.


"Ah tidak apa-apa nona Dara kami memakluminya!" Jawab sekertaris Zul tak kalah sopannya.


"Panggil saja Dara, jangan nona!"


"Kalau begitu baiklah sekertaris Dara, silahkan masuk tuan sudah menunggu anda! Ah bukan maksud saya sudah menunggu dokumen yang anda bawa!" Kata sekertaris Zul kemudian membukakan pintu ruangan Kenan.


Sejenak Dara menghembuskan nafasnya, mengatur degup jantungnya yang sejak tadi bertalu-talu. Dia tahu ini tidak mudah apalagi Kenan adalah orang terlama yang pernah mengisi hatinya. Berbagi kisah senang sampai sedih bersama. Banyak hal yang sudah mereka bagi apalagi dengan Dara yang tidak memiliki saudara dekat.


Perlahan Dara melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut. Aroma parfum milik Kenan menguar mengisi indera penciumannya. Dia masih ingat ini adalah aroma parfum yang dulu dipakai Kenan dan Dara menyukai aroma itu hingga membuat Kenan tidak beralih ke merk lain.


Sunyi. Ruangan itu sangat terasa sepi. Hanya jam yang berputar di dinding yang menimbulkan suara. Dara sedikit mengerutkan keningnya, bukannya tadi sekertaris Zul mengatakan jika Kenan menunggunya. Tapi dimana Kenan? Laki-laki itu belum menunjukkan batang hidungnya.


Tiba-tiba saja tubuh Dara tersentak ketika merasakan seseorang memeluknya dari belakang kemudian mengatakan sesuatu dengan suara begitu parau.


"Aku merindukanmu! Sangat-sangat merindukanmu!" Ucap laki-laki itu dengan masih memeluk tubuh Dara dengan erat. Sementara Dara seakan terhipnotis, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Rasanya tubuhnya begitu kaku untuk bergerak sedikit saja.