
Malam harinya Dara sudah bersiap dengan pakaian kasualnya yang semakin memperlihatkan auranya. Dara memilih memakai blouse warna putih dengan perpotongan V-neck dan straight pants berwarna murstad sehingga membuat tampilannya begitu elegan. Selera pakaian Dara cukup bisa dikatakan baik meskipun dia tidak menggunakan pakaian mahal tapi Dara dapat mengubahnya menjadi mengagumkan. Apalagi kepiawaiannya dalam mix and match pakaian.
"Hallo kau sudah sampai?" Tanyanya pada seseorang diseberang sana. Kini dirinya sedang berada di dalam mobil lebih tepatnya taksi online pesanannya.
"Belum kak, aku sedang ada di jalan. Tadi masih menunggu pergantian shift karyawan."
"Oh baiklah!" Dara memutuskan panggilannya.
Awalnya dulu dia mengira jika Nindy adalah gadis yang menyebalkan karena pertemuan pertama mereka yang kurang baik. Tapi lama-kelamaan setelah mengenalnya, Dara menyukai sifat Nindy yang terbuka. Padahal usia mereka berbeda tapi jika berbicara dengan Nindy membuatnya serasa seperti remaja karena pribadi Nindy yang ceria. Nindy sebenarnya adalah gadis baik hanya saja karena ketidakadaannya orang tua membuatnya menjadi haus kasih sayang. Apalagi dia hanya hidup dengan kakak laki-lakinya yang sibuk bekerja.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, Dara pun sampai ke restoran yang menjadi tempat janji temu mereka berdua. Setelah membayar ongkos taksi online, Dara berjalan masuk kedalam restoran itu. Restoran dengan konsep glamour yang berada di rooftoop sebuah gedung.
Dara tampak mengamati sekitar ternyata dirinya memang datang lebih dulu. Dia pun mengambil tempat duduk yang letaknya dekat dengan teralis pembatas sehingga dia dapat mengamati pemandangan kota dari atas sana.
Tak lama kemudian seorang waiters perempuan datang sambil menyerahkan buku menu padanya. "Silahkan mau pesan apa kak?" Tanya waiters tersebut dengan ramah.
"Aku pesan coffe late saja dulu masih menunggu teman!"
"Oh baiklah kak, silahkan ditunggu!"
Waiters itu pun pergi dari meja Dara. Dara sendiri juga tidak enak jika harus memesan terlebih dahulu dan juga merasa tidak enak jika memesankan milik Nindy, takut jika gadis itu tidak menyukai pesanannya.
Tak lama kemudian gadis itu datang dengan senyumnya yang mengembang. Buru-buru gadis itu memeluk Dara erat layaknya adik yang sudah tidak bertemu sang kakak dengan waktu yang cukup lama.
"Hey cepat lepaskan pelukanmu dan duduk!"
Nindy pun terkekeh memperlihatkan gigi kelincinya kemudian duduk tepat di depan Dara.
"Maaf kakakku tidak bisa datang, katanya dia masih ada urusan dengan bossnya! Tapi aku sudah mengatakan jika kak Dara di terima kerja disana. Dan apa kak Dara tahu bagaimana reaksi kak Sam?"
Dara menggedikan bahunya dia memang tidak mengerti dan tidak ingin menebak bagaimana reaksi laki-laki yang sudah dianggap sebagai sahabatnya itu.
"Dia sangat senang kak hahaha! Aku rasa kakak memang menyukai kak Dara!"
"Jangan membual cepat pesan makanan untukmu!" Nindy pun mengerucutkan bibirnya, selalu seperti itu jika dia mengatakan kalau kakaknya itu menyukai Dara. Dara selalu menampiknya padahal kan tidak salah jika hanya menyukai. Nindy bukannya tidak tahu jika sampai saat ini Dara sedang menunggu seseorang hanya saja Nindy tidak ingin Dara berada di lubang ketidakpastian laki-laki yang entah seperti apa modelnya Nindy juga tak tahu itu.
Dulu Dara pernah bercerita padanya, tidak banyak hanya dia mengatakan jika saat ini sedang menunggu seseorang di masa lalunya. Dan saat Nindy bertanya kemana dia hingga membuatnya menunggu seperti ini, Dara berkata jika dia juga tidak tahu tetapi dia yakin 'dia' akan datang suatu saat nanti dan Dara akan menunggu waktu itu datang.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan pun datang. Makanan berbau daging yang menjadi pilihan mereka untuk disantap malam ini. Hari ini Dara ingin menjadi dirinya yang lain, jika biasanya Dara adalah wanita hemat hari ini dia ingin menjadi wanita yang sedikit boros.
Nindy menceritakan tentang boss di tempat bekerja kakaknya yang nantinya juga akan menjadi boss Dara.
"Kata kakak dia sebenarnya adalah orang baik dan hangat pada keluarganya!" Ucap Nindy sambil menyuapkan sepotong daging steak pada mulutnya.
"Oh ya?" Tanya Dara. Hangat? Heh pasti Sammy sedang membual pada adiknya. Batin Dara.
"Iya dan kalau kakak bekerja dengan baik, si boss tidak segan-segan untuk memberikan gaji double. Kakak sering mendapatkannya!"
"Tapi dia juga baik kak, pernah beberapa kali berkunjung ke kafe ku juga!" Kata Nindy masih tidak terima jika boss tempat kakaknya itu kurang baik seperti yang dikatakan oleh Dara.
"Terserah padamu saja! Cepat habiskan makananmu. Apakah malam ini kau mau menginap ke apartemenku?"
"Lain kali saja kak, aku masih harus menyusun laporan akhir bulan."
"Baiklah!" Jawab Dara dengan lesu padahal dia ingin Nindy ikut bersamanya sekedar sebagai teman berbagi kisah. Entah mengapa akhir-akhir ini Dara merasa begitu kesepian. Padahal Dara hidup sebatang kara sejak SMA. Tetapi entahlah rasanya dia ingin mempunyai seseorang yang siap untuk dia bagi kisahnya.
Saat mereka asyik menyantap makanannya tiba-tiba saja pandangan Dara terkunci pada sosok laki-laki yang sekarang sedang berdiri sedikit agak jauh dari tempatnya. Dara tidak bisa melihat wajahnya keseluruhan karena laki-laki menghadap samping. Tapi Dara sangat yakin jika itu adalah 'dia' meskipun mereka sudah tidak bertemu cukup lama tapi Dara masih sangat mengingat jelas wajahnya.
"Ken!" Gumamnya tetapi tatapannya tetap menuju pada seorang laki-laki yang jauh berdiri disana. Tunggu sebentar laki-laki itu sedang bersama seorang perempuan?
Dara pun berdiri, dia ingin memastikan jika apa yang dilihatnya tadi tidak salah tetapi dia berharap itu salah. Entahlah apa maksudnya hanya hatinya saja yang tahu. Sedangkan Nindy gadis itu tampak mengerutkan keningnya melihat Dara yang tampak berbinar dan sedih secara bersamaan.
"Hey kak, mau kemana?" Tanya Nindy saat Dara perlahan mulai meninggalkan mejanya. Dara sendiri tidak mendengar pertanyaan dari Nindy, rasanya dia seperti kehilangan kendali tubuhnya sendiri.
Dia berjalan mengikuti laki-laki itu yang juga meninggalkan mejanya. Laki-laki itu tampak sedang mengejar wanita yang tadi sedang duduk bersamanya. Dan saat Dara berjalan cepat tiba-tiba saja…
Brugghhh…
Tidak sengaja Dara menabrak seorang waiters yang sedang membawa minuman sehingga membuat minuman yang dibawa waiters itu tumpah. Dan yang lebih sialnya lagi minuman itu tumpah ke jas seseorang yang kebetulan sedang duduk disana bersama seorang lainnya.
"Ah maaf tuan, saya tidak sengaja melakukannya! Mbaknya ini yang tiba-tiba saja menyenggol bahu saya!" Kata waiters itu dengan nada yang terbata-bata. Bukannya waiters itu ingin menyalahkan pelanggan yang lainnya tetapi melihat wajah laki-laki yang jasnya sudah basah itu membuat nyalinya ciut. Sementara Dara wanita itu masih lekat memandang bayangan laki-laki yang kini semakin jauh.
"Hey nona, tolong dimana rasa tanggung jawabmu!" Kata laki-laki itu dengan nada dingin. Dara masih tak bergeming menatap lekat jauh disana membuat laki-laki itu semakin kesal.
"Hey nona bodoh! Apa kau tuli ha?" Mendengar teriakkan disampingnya membuat Dara kembali ke alam sadarnya. Gadis itu pun menoleh dan seketika pandangan mereka terkunci...
.
.
.
.
.
.
.
.
kira-kira siapa ya yang ketemu Dara?