Hello, My Secretary!

Hello, My Secretary!
25



Dia sangat tahu siapa wanita itu, dia adalah Sabbrina teman satu SMA nya dulu. Dara tidak terlalu begitu mengenal dengan baik siapa Sabbrina karena memang mereka beda kelas. Hanya saja nama Sabbrina cukup terkenal kala itu, sebagai salah satu most wanted di SMA nya. Selain karena cantik, Sabbrina cukup pintar yang menjadi saingannya terdahulu dan yang terutama Sabbrina adalah salah satu anak orang kaya. Orang tuanya adalah pemilik perusahaan salah satu ojek online yang cukup terkenal.


Wanita itu tersenyum entah kenapa senyum yang dia tunjukkan Dara merasa bukanlah senyum yang tulus tetapi lebih ke mengejek. Apakah mereka terlibat perseteruan di masa lalu? Tapi rasanya tidak, semasa SMA dia lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Lalu kenapa wanita itu rasanya sangat membencinya.


"Selamat pak Noel atas perusahaannya! Ah ini Dara teman SMA kita kan sayang?" Tanya Sabbrina entah kenapa membuat telinga Dara menjadi panas. Apalagi mendengar penekanan pada kata terakhirnya, seperti memberitahu dimana dirinya sekarang.


"Benarkah? Wah aku rasa setelah ini kalian bisa mengadakan reuni, bukankah pak Kenan dan Bu Sabbrina baru saja menetap di Indonesia?"


"Ah iya pak, suami saya harus melanjutkan perusahaan yang ada di luar negeri tapi sepertinya saat ini takdir berkata lain sehingga membuat kami harus kembali ke tanah kelahiran!" Jelas Sabbrina panjang lebar. Wanita itu tersenyum mengejek sementara Dara harus memasang wajah tembok. Menutupi hatinya yang kian berdarah tetapi tak terlihat.


"Em kita ke tempat lain, sepertinya Sierra tidak nyaman berada di sini!" Kata Kenan yang merasa suasana semakin menegang dan sebelum Sabbrina mengatakan hal-hal yang akan lebih menyakiti Dara.


"Kami permisi pak!" Pamitnya kemudian mengapit lengan Sabbrina agar segera pergi dari sana.


Sementara itu Dara sedikit bisa bernafas lega, hanya sedikit tidak banyak karena mereka masih berada dalam satu ruangan apalagi sekarang mereka dalam satu negara, bukankah rentan pertemuan mereka juga semakin sering?


Dara merasakan sekujur tubuhnya kaku dan juga panas. Apalagi matanya yang kian memanas sebisa mungkin dia menahan laju air mata yang akan turun. Dia tidak boleh sedih dan menangis. Untuk apa menangisi hal yang tidak perlu seperti itu. Ya meskipun hatinya merasa berbanding terbalik.


"Pak, bisakah saya pulang terlebih dahulu!" Kata Dara sambil memegang ujung jas milik Noel. Sementara Noel sendiri baru saja menyapa tamu yang lainnya.


"Ya Tuhan Dara, kau terlihat sangat pucat sekarang! Ada apa denganmu?" Tanya Noel panik melihat wajah pucat Dara apalagi dengan keringat sebesar biji jagung itu. Noel kemudian menyentuh kening dan juga leher Dara yang ternyata panas. Dara hanya bisa pasrah, dia merasa kekuatannya sudah habis. Jika tidak dia pasti akan memarahi Noel yang lancang menyentuhnya.


"Aku tidak apa-apa hanya sedikit kelelahan saja mungkin karena akhir-akhir ini lembur!"


"Tapi wajahmu sangat pucat dan ini, suhu tubuhmu sangat panas! Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang."


"Tidak perlu El, aku hanya lelah dan istirahat semalam di rumah pasti akan mengurangi rasa sakitku!"


"Baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu!"


Noel terdiam sejenak apa yang dikatakan Dara ada benarnya, jika dia pergi meninggalkan pesta hari ini pasti daddynya akan marah karena ketidakprofesionalannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menyuruh Sammy mengantarkan Dara pulang. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Dara apalagi melihat kondisinya yang sekarang lemah seperti ini.


"Pulanglah dan beristirahat, gunakan waktu liburmu besok untuk beristirahat!" Ucapnya kemudian ikut mengantarkan Dara sampai ke mobilnya setelah Sammy membawa mobilnya ke depan pintu masuk hotel.


"Pastikan dia pulang dengan selamat Sam!"


"Baik tuan!" Kata Sammy kemudian memacu kendaraannya meninggalkan hingar-bingar suasana hotel.


Di dalam mobil, Dara sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Hatinya benar-benar sakit. Selama ini dia dengan setia menunggu laki-laki itu tapi hari ini penantiannya selama bertahun-tahun terjawab sudah. Orang yang dicintainya sepenuh hati ternyata sudah menikah dan lebih parahnya mereka sudah mempunyai seorang putri.


Dara merasa hidupnya benar-benar hancur, seharusnya dia tidak mempercayai penuh laki-laki itu. Seharusnya dia tahu diri jika Kenan tidak mungkin meninggalkan keluarganya demi wanita miskin sepertinya. Seharusnya Dara juga tidak termakan rayuan Kenan sehingga membuatnya menjadi jijik pada dirinya sekarang.


Sementara itu Sammy ingin menanyakan keadaan Dara yang tiba-tiba saja menangis. Tapi diurungkan ketika melihat wajah Dara yang begitu menyedihkan sehingga dia hanya memberikan sekotak tissue untuk Dara.


Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang ada. Sammy masih fokus dengan kemudinya sementara Dara sudah berhenti menangis meskipun terkadang air matanya masih mengalir begitu saja tanpa diminta.


"Mau aku antar sampai dalam?" Tawar Sammy melihat wajah kacau Dara. Selama mengenal Dara, dia tidak pernah melihat wajah kacau Dara seperti ini. Biasanya wanita itu akan menampilkan senyum manisnya yang seperti tanpa ada beban pada bahunya tapi sekarang Dara sangat menyedihkan.


"Tidak Sam, kembalilah pasti Noel memerlukan bantuanmu!"


"Tapi...!"


"Kembalilah Sam, aku baik-baik saja!" Ucapnya sambil tersenyum meyakinkan meskipun terpaksa. Dia tidak ingin Sammy khawatir dengan keadaannya.


"Baiklah, istirahatlah!" Katanya kemudian meninggalkan Dara.