
Sore harinya mereka kembali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan dari villa sampai masuk ke dalam pesawat tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun diantara mereka berdua. Mereka seperti hanyut dalam pikirannya masing-masing.
Setelah pesawat mengudara kurang lebih selama satu jam setengah akhirnya pesawat mereka tiba di Bandara internasional Soekarno-Hatta.
"Pulang bersamaku saja!" Akhirnya Noel mengeluarkan suaranya juga setelah diam sejak tadi.
"Tidak perlu pak, saya bisa memesan taksi online!" Jawab Dara yang merasa tidak enak. Apalagi sekarang Noel berubah menjadi baik semakin membuatnya ngeri. Sifat Noel yang seperti ini malah membuatnya takut.
"Saya tidak menerima penolakan!"
Akhirnya Dara pun pasrah ikut masuk ke dalam mobil milik Noel yang sudah terparkir di depan lobby bandara.
"Pak, antara kan Dara dulu ke apartemennya!" Perintahnya pada sang sopir sementara Dara hanya duduk diam disamping sang boss.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mobil yang mereka tumpangi sampai di basemen apartemen Dara. Setelah mobil berhenti Dara segera keluar dari mobil tersebut. Namun sebelum keluar Noel lebih dulu menahan lengannya yang hendak membuka pintu mobil.
Dara tersentak seketika, genggaman tangan Noel pada lengannya menimbulkan efek yang cukup menakutkan untuknya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Terimakasih sudah merawatku saat sedang sakit semalam!" Ucap Noel dengan tulus. Padahal lelaki itu jarang sekali mengucapkan terimakasih pada karyawannya kecuali mereka telah mendapatkan tender besar.
"Eh iya pak tidak perlu berterimakasih lagipula itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai sekertaris bapak!"
Bukannya senang Noel malah berdecak kesal mendengar jawaban dari Dara. Noel kesal karena Dara begitu formal padanya padahal jika dengan Sam, Dara tidak akan seformal itu.
"Bisakah jika kita tidak sedang di kantor ataupun tidak sedang bekerja bicara saja seperti biasa tidak perlu seformal itu?"
"Eh tap-!"
"Pergilah, aku tidak ingin mendengar jawabanmu yang hanya berisi penolakan!" Jawab Noel pada akhirnya kemudian melepaskan cengkeramannya pada lengan Dara. Sementara itu Dara pun segera keluar dari mobil tersebut sembari mendengus kesal atas tingkah bosnya yang kekanakan itu.
"Apa sih sebenarnya maunya itu!" Geurutunya sepanjang jalan memasuki apartemen miliknya.
Setelah melihat Dara sudah masuk ke dalam gedung apartemennya, Noel segera menyuruh sang sopir untuk segera kembali ke rumah karena dia merasa badannya belum benar-benar sembuh seutuhnya. Dia merutuki kebodohannya yang tidak hati-hati dalam mengonsumsi makanan sehingga membuat alerginya menjadi kambuh. Jika saja dia tidak makan nasi goreng seafood itu mungkin dia tidak akan sakit dan bisa menikmati pemandangan pulau Bali. Tapi bukankah menikmati wajah Dara juga tak kalah mengasyikkan? Tidak tidak apa yang sedang dia pikirkan! Noel segera membuang jauh-jauh pikirannya tentang Dara. Tapi dia juga tidak mengerti kenapa sekarang dia menjadi kesal ketika Dara lebih dekat pada orang lain.
Apakah karena dia jatuh cinta pada Dara? Sepertinya tak mungkin meskipun jantungnya berdetak lebih cepat ketika berdekatan dengan Dara tapi dia tidak bisa langsung mengambil kesimpulan jika dirinya telah jatuh cinta pada Dara. Bisa saja karena dirinya kagum dengan Dara kan?
Noel tidak memungkiri jika Dara adalah sosok yang baik dan juga cantik. Tapi dia masih merasa jika apa yang dirasakannya sekarang bukanlah tentang cinta. Tetapi tentang apa? Noel akan memantapkan hatinya kembali. Jika memang dia jatuh cinta pada Dara maka dia akan melakukan apa saja untuk membuat wanita itu berada disampingnya.
*****
"Kamu ikut saya!" Perintah Noel saat berada tepat di depan meja kerja Dara.
"Kemana pak?"
"Ikut saja jangan banyak tanya!" Perintahnya. Meskipun dia sudah jatuh cinta pada Dara tetapi entah kenapa sikap tegasnya masih saja ada. Bukankah jika dia tetap seperti itu akan mempersulit dirinya sendiri agar Dara mengetahui isi hatinya sendiri.
Sementara itu Dara juga tidak mengerti dengan sikap bossnya akhir-akhir ini. Noel terkadang terlihat baik dan dewasa tapi juga tak jarang dia bersikap kekanak-kanakan. Dara yang masih mencintai orang dimasa lalunya tentu saja tidak peka dengan apa yang Noel ingin tunjukkan padanya. Dara hanya menganggap Noel sebagai atasan dan juga teman sesuai yang laki-laki itu minta padanya.
"Dara mau kemana?" Tanya Sam saat mereka kebetulan berpapasan ketika keluar dari lift sedangkan Sam hendak masuk ke dalam lift.
"Aku tidak tahu," Jawab Dara sambil mengangkat bahunya karena memang dia benar-benar tidak tahu. Setahunya hari ini si boss tidak ada jadwal pertemuan maupun kunjungan proyek tapi entah kenapa tiba-tiba mengajaknya keluar dan tanpa memberitahu kemana tujuan mereka.
Sam terus memandang punggung Dara yang kian menjauh, entah bagaimana dia merasa jika sang boss sepertinya tertarik dengan Dara. Ah dia harus cepat-cepat untuk mengungkapkan isi hatinya sebelum keduluan Noel. Tapi bagaimana jika nanti Dara menolaknya? Dia juga takut bila nanti Dara akan menjauhinya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil yang sama dengan Dara yang duduk disamping Noel sesuai permintaan laki-laki itu. Padahal Dara sendiri lebih nyaman jika dia duduk disebelah sopir.
"Ke TK. Cendrawasih pak!" Perintahnya pada sang sopir ketika melihat sang sopir masuk ke dalam mobil.
Dara tampak mengernyitkan keningnya, ke TK. Cendrawasih? Mau apa? Apa mau menjemput anaknya yang sedang bersekolah disana? Tapi bukankah Pak Noel belum menikah? Batin Dara.
"Ehm!" Noel tampak menetralkan suaranya sebelum bertanya pada Dara "Dimana keluargamu tinggal Dara?" Tanyanya karena merasa penasaran dengan sosok wanita yang sekarang duduk disampingnya. Sebab setahunya Dara hanya tinggal seorang diri.
"Eee!" Dara tampak berpikir apakah dia mau menjawab pertanyaan pribadi seperti itu atau tidak. "Ibu saya sudah meninggal pak ketika saya kelas dua SMP sedangkan ayah saya, saya tidak tahu keberadaannya!"
"Bukankah sudah aku bilang jika diluar pekerjaan, bisakah kita bicara secara normal saja!" Geramnya karena Dara tetap saja berbicara layaknya atasan dengan bawahan.
"Tap-"
"Sudah aku tidak mau mendengar lagi ucapanmu jika masih saja berbicara dengan formal! Menyebalkan!" Geurutunya kemudian mengalihkan pandangannya keluar. Menikmati panasnya udara kota Jakarta.
"Yang menyebalkan itu bukan aku tapi kau! Dasar bocah labil!" Batin Dara.
"Baiklah kita akan berbicara layaknya teman jika sedang ada di luar perusahaan!" Ucap Dara kemudian ketika melihat Noel yang tampaknya merajuk itu. Bagaimana orang seperti itu bisa memimpin sebuah perusahaan? Batinnya bergejolak ketika mengingat siapa itu Noel.
Tanpa Dara tahu Noel menyunggingkan senyumnya, akhirnya dia bisa sedikit lebih dekat dengan Dara.