
Setelah melihat-lihat dekorasi tempat diselenggarakannya pesta ulang tahun perusahaan, mereka memutuskan untuk segera pergi ke butik. Sepanjang perjalanan Dara tampak terlihat gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya tapi dia urung untuk bertanya pada Noel.
Noel sendiri sesekali mencuri pandang pada wanita yang duduk disampingnya. Dia hampir meledakkan tawanya kala melirik Dara yang tampak hendak membuka mulutnya tapi kembali merapatkannya lagi.
"Ada yang ingin kamu bicarakan Ra?" Tanya Noel karena sudah gemas melihat tingkah Dara.
"Emm begini, ini pertama kalinya saya eh maksudnya aku mengikuti acara besar di perusahaan. Apa setiap tahunnya di acara ulang tahun perusahaan akan dirayakan secara besar-besaran seperti ini?"
"Tentu, dari zaman Daddy dulu selalu dirayakan acara seperti ini dan menurutku acara ini yang menjadi paling besar karena beberapa perusahaan menawarkan kerjasama juga untuk menjadikan acara ini sebagai endors produk mereka! Memangnya ada apa?"
"Ini menurutku saja jangan terlalu dipikirkan. Kenapa kita tidak melakukan dengan cara yang lain?"
"Maksudmu?" Tanya Noel yang tidak mengerti kearah mana pembicaraan mereka.
"Begini, pesta seperti ini menurutku tidak efesien untuk semua karyawan dari kalangan atas sampai bawah. Disini yang diistimewakan adalah mereka-mereka para kolega. Padahal seharusnya mereka yang bekerjalah yang seharusnya diistimewakan untuk mengapresiasi kinerja mereka." Dara berhenti sejenak kemudian melanjutkan ucapannya.
"Menurut saya lebih baik jika mengadakan wisata karyawan saja. Jadi mereka semua karyawan akan berbaur menjadi satu dan lebih dekat. Tidak ada pembatasan dari karyawan sebagai staff maupun OB. Tidak perlu ke luar negeri maupun keluar pulau, cukup disekitar sini saja!"
"Sepertinya aku tertarik dengan pemikiranmu, coba jelaskan lagi!"
"Begini, misalkan kita bisa mengajak karyawan untuk karya wisata di Puncak Bogor. Mereka bisa mengajak salah satu keluarga mereka misalkan anak atau istrinya pasti mereka akan merasa bahagia. Selain itu kita juga bisa bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain yang mungkin skalanya lebih kecil dari perusahaan kita. Seperti pihak tour and travel."
"Aku menyukaimu!" Ucap Noel tiba-tiba dimana membuat Dara mengernyitkan keningnya. "Em mak-maksudku aku menyukai cara berpikirmu dan mengenai perihal ini aku akan sampaikan pada Daddy."
"Oh!" Jawabnya sambil menganggukkan kepalanya. "Selain itu sangat disayangkan jika uang perusahaan dihabiskan hanya untuk semalam. Daripada itu bukankah lebih baik jika uangnya untuk pesangon para karyawan atau untuk mereka yang membutuhkan. Akan lebih berkah untuk perusahaan sendiri."
"Emm tidak ingin turun?"
"Ha?" Tanya Dara yang saat ini tidak mengetahui jika mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan butik tempat mereka mengambil baju.
"Kita sudah sampai!" Jawab Noel kemudian melepaskan sealt belt sementara Dara masih mengamati sekitarnya merasa bodoh karena terus saja berbicara tanpa mengetahui situasi.
"Dasar mulut bodoh, kenapa tidak tahu situasi sih!" Geurutunya sembari keluar dari mobil lalu mengekor Noel masuk ke dalam butik.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya salah satu pegawai butik dengan ramah.
"Ya saya sudah ada janji dengan tante Mela untuk mengambil gaun dan juga jas."
"Oh baiklah, mari pak ikuti saya! Beliau sedang ada di ruangannya!"
Sementara itu sejak masuk ke dalam butik Dara tak henti-hentinya berdecak kagum dengan gaun-gaun yang dipajang. Apalagi salah satu gaun pernikahan yang sejak tadi mencuri perhatiannya. Gaun pernikahan model ball gown dengan rok yang menyentuh lantai. Serta bagian belakang punggung yang terekspos.
Tanpa sadar bukan mengikuti langkah Noel, Dara malah menuju arah sebaliknya. Wanita itu mendekati gaun tersebut lalu menyentuhnya. Halus. Sangat halus karena memang terbuat dari sutra pilihan.
"Kapan aku bisa memakai gaun seperti ini!" Gumamnya pada dirinya sendiri.
"Noel sudah datang?"
"Iya Tante." Jawabnya kemudian menyambut pelukan hangat dari Tante Mala.
Tante Mala adalah salah satu orang kepercayaan mommynya untuk mengurus semua pakaian yang akan mereka gunakan terutama jika sedang akan berkumpul ke sebuah acara seperti saat ini. Selain karena hasil rancangan milik Tante Mala yang memang bagus, mommy Retha begitu percaya karena peringai Tante Mala yang ramah dan juga gampang membaur dengan orang lain.
"Katanya berdua kok sendiri?" Tanya Tante Mala ketika melihat Noel hanya sendiri. Tidak dia berdua dengan karyawan milik Tante Mala tapi bukan itu yang dimaksud.
"Eh?" Noel terkejut karena tidak melihat Dara yang berada di belakangnya. Bukankah tadi dia sudah keluar dari mobil? Lalu kemana sekarang? Pikirnya kemudian pamit kepada Tante Mala untuk mencari keberadaan Dara. Dan benar saja setelah sampai di lantai bawah dia melihat Dara yang sedang berdiri tak jauh dari sebuah manekin yang menggunakan gaun pernikahan.
"Dara?" Ucap Noel sambil menepuk bahu Dara dimana membuat wanita itu begitu terkejut.
"Astaga... kau mengejutkanku!" Jawab Dara sambil memegang bagian dadanya yang berdetak lebih kencang.
Noel pun terkekeh melihat wajah Dara yang terkejut. Bukannya merasa kasihan tapi wajah Dara yang seperti itu malah membuatnya ingin tertawa saja.
"Tadi aku mencarimu ternyata kau ada disini, sedang apa?"
"Oh ini!" Dara kikuk sendiri untuk menjawab ucapan Noel. Masa iya dia harus mengatakan jika dirinya menyukai gaun pernikahan itu? Nanti apa yang akan Noel pikir tentangnya.
"Emm tadi aku sedang melihat-lihat setelan kantor dan ternyata aku menemukan gaun pengantin ini!" Bohongnya sambil menggosok hidungnya yang merupakan kebiasaan jika dirinya sedang berbohong.
"Oh, Tante Mala sudah menunggu lebih baik kita langsung fitting saja setelah itu makan siang!"
Dara pun mengikuti langkah Noel ke lantai dua bersama dengan rasa malunya. Dia benar-benar merutuki kebodohannya, padahal biasanya dia tidak pernah seperti ini. Apa karena dirinya yang memang sedang kebelet kawin.
"Ini Tante sekertaris aku, langsung suruh fitting bajunya aja!"
"Wah kamu memang hebat dalam memilih sekertaris El, dia sangat cantik!" Kata Tante berbisik agar Dara tidak mendengar ucapannya.
Sementara Dara masih mengamati ruangan yang lumayan luas itu. Disisi kanannya terdapat sebuah etalase besar yang didalamnya diisi oleh berjejer gaun dengan warna yang sama namun dengan bentuk berbeda. Begitu dengan setelan jasnya.
"Ini pesanan khusus milik keluarga Noel!" Ucap Tante Mala memberitahu Dara karena melihat wajahnya yang sepertinya kebingungan.
"Oh, lalu punya saya yang mana Tante?"
"Ini!" Tante Mala menunjukkan sebuah gaun yang berada di dalam etalase itu.
"Bukankah itu milik keluarga pak Noel? Pesanan khusus?"
"Ya dan punya kamu salah satunya." Ujarnya kemudian mengambil salah satu gaun berwarna hitam dengan beberapa aksen berwarna gold sesuai dengan dresscode yang sudah ditentukan.
HAY GUYS GIMANA NIH KABAR KALIAN SEMUA? RINDU NGGAK SAMA NOEL DAN DARA? MAAF BEBERAPA WAKTU BELAKANGAN INI AUTHOR NGGAK UP CERITA BARU KARENA MEMANG LAGI ADA KESIBUKAN DI DUNIA NYATA.