
Sesampainya di dalam apartemen miliknya, tubuh Dara luruh seketika bersamaan dengan pintu yang tertutup. Air mata yang tadi dia tahan kembali mengalir deras melewati pipi putihnya. Dia sudah tidak kuat menahan berat tubuhnya lagi, apalagi beban pikirannya.
"Aaaaaa bodoh... bodoh... bodoh...!" Umpatnya pada diri sendiri. Kemudian melempar Hells yang sejak tadi melindungi tumit indahnya.
"Aku benci kamu Ken!"
Dara menumpahkan segala bebannya dalam sebuah tangisan. Meskipun dia menangis tujuh hari tujuh malam pun bebannya tidak akan berkurang. Semuanya tetap sama, dia yang dibodohi oleh laki-laki yang dianggapnya sebagai malaikat.
Kemudian Dara membawa tubuh ringkihnya masuk ke dalam kamar. Menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang lalu menutup wajahnya dengan bantal untuk meredam isakan dan juga jeritannya.
Sejak tadi ponselnya tak berhenti berbunyi, sementara Dara tidak ada niat untuk membuka benda pipih yang berada di dalam tasnya yang keberadaannya pun dia tidak tahu. Saat ini dia hanya ingin sendiri, dia tidak ingin ada yang tahu bagaimana rapuhnya dirinya saat ini.
Tak lama kemudian dia mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Dia masih enggan untuk sekedar meninggalkan ranjang. Hatinya sakit, kenyataan bahwa Kenan sudah menikah sungguh membuat hatinya teriris apalagi melihat siapa yang dinikahi. Bagai luka yang ditaburi garam bukannya sembuh malah membuka luka itu lebih lebar.
Karena kesal bel yang tidak berhenti dan seakan mengganggu ketenangannya, dengan terpaksa Dara pun membuka pintu untuk melihat siapa gerangan yang mengusiknya. Jika bukan orang yang penting dia akan memukul kepala orang itu.
"Kak...!"
"Nindy!" Ucapnya terkejut, kenapa bisa gadis itu berdiri di depan apartemennya.
"Kak Dara...!" Katanya lagi kemudian merengkuh tubuh Dara. Tak lama kemudian tubuh wanita itu kembali bergetar. Nindy mengelus punggung sekuat baja itu.
"Kita masuk ya kak, disini nggak enak di lihat orang nanti!" Nindy pun membawa tubuh Dara kembali ke kamarnya. Dia sudah tahu seluk-beluk apartemen milik Dara karena beberapa kali Nindy juga pernah menginap disini.
Nindy masih diam, dia juga tidak bertanya penyebab Dara sedih seperti sekarang. Dia tidak akan memaksa jika wanita itu tidak ingin bercerita sendiri. Dia hanya ingin selalu ada setiap bagaimanapun keadaan Dara karena Dara juga melakukan hal yang sama untuknya.
Setelah cukup lama menangis, Nindy tak lagi mendengar isakan dari Dara. Sekarang dia malah mendengar dengkuran halus dari wanita yang bersandar pada bahunya itu.
Nindy pun terkekeh kemudian mengatakan "Ternyata setelah menangis kamu mengantuk ya kak! Semoga besok kamu lebih baik lagi! Apapun alasanmu menangis hari ini, aku yakin pasti ada hubungannya dengan Kenan!"
Setelah mengatakan itu Nindy pun merebahkan tubuh Dara di ranjang kemudian menutupi sebagian tubuh wanita yang sekarang terlihat menyedihkan itu dengan selimut. Sedikit banyak Nindy tahu perihal Kenan sebab beberapa waktu yang lalu Dara sendiri sempat bercerita tentang siapa Kenan dan apa hubungannya dengan Dara.
Kemarin waktu Dara datang ke kafenya, entah angin dari mana tiba-tiba saja wanita itu bercerita perihal hubungan percintaannya padahal sebelumnya Dara adalah tipe wanita yang tertutup apalagi masalah percintaan. Dan hal itulah yang membuat Nindy yakin jika keadaan Dara yang sekarang pasti berhubungan dengan laki-laki itu apalagi Dara tadi sempat mengatakan 'dia brengsek'.
Setelah itu Nindy berjalan menuju balkon kamar Dara untuk menghubungi seseorang yang tadi menyuruhnya kesini, siapa lagi kalau bukan sang kakak. Tadi saat dia sedang berada di kafe menemani karyawannya bekerja tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dengan nada suara khawatir Sammy mengatakan jika Dara tiba-tiba menangis di mobilnya. Karena dia masih harus berada di pesta sampai selesai jadi Sammy menyuruh sang adik untuk melihat kondisi Dara.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya seseorang diseberang telepon sana setelah panggilan tersambung.
"Dia tidak bercerita sesuatu padamu?" Tanya Sammy lagi masih dengan penasaran dengan penyebab kesedihan Dara.
"Tidak kak, dia hanya menangis lalu tertidur. Mungkin jika besok sudah merasa lebih baik, semoga kak Dara mau bercerita!" Kata Nindy mencoba untuk mengurangi rasa khawatir dari kakaknya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan jika mungkin penyebab dari kesedihan Dara adalah Kenan. Tapi Nindy lebih memilih bungkam, menurutnya bukan ranahnya untuk mencampuri kehidupan pribadi Dara.
"Baiklah tidur lah disana, jaga dia baik-baik! Aku akan menjemputmu besok!"
"Ya kak!" Jawabnya kemudian mematikan sambungan telepon. Dia menoleh kearah wanita yang sedang berbaring di atas ranjang. Sedikit banyak mereka mempunyai kesamaan. Sama-sama tidak memiliki orang tua tetapi dirinya lebih baik karena masih memiliki kakak laki-laki yang menyayanginya. Sementara Dara, dia anak tunggal. Sanak saudaranya pun berada di tempat yang jauh.
Nindy pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Dara, dia akan merasa senang jika mungkin Dara memiliki perasaan yang sama dengan kakaknya. Tapi dia tidak bisa untuk memaksakan perasaan seseorang setidaknya bersahabat seperti sekarang saja sudah membuatnya merasa senang atas kebersamaan mereka.
****
Sementara itu di tempat pesta, Noel benar-benar merasa tidak bisa tenang. Mungkin tubuhnya berada di sini tapi pikirannya melayang entah kemana. Bayang-bayang wajah Dara yang pucat sungguh menghantui pikirannya. Tetapi karena pesta masih berlangsung tidak mungkin untuk ditinggalkan.
"Ada apa kak? Kenapa sepertinya sedang gelisah begitu?" Tanya mommy Retha melihat wajah putra semata wayangnya yang sejak tadi tidak fokus pada pembicaraan.
"Emm!" Noel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung harus menjelaskan bagaimana dengan mommynya. "Tadi Dara pulang lebih awal karena merasa kurang enak badan!"
"Oh Ya Tuhan Dara sakit?" Noel pun menganggukkan kepalanya.
"El khawatir dengan keadaan Dara?"
"Tentu saja mom, El sangat khawatir!" Ungkapnya dengan nada menggebu-gebu. "Eh tidak maksud El, El khawatir dengan Dara karena dia adalah karyawan Noel mom!"
Mommy Retha pun mencebikkan bibirnya mendengarkan penjelasan sang putra. "Kamu tidak pandai berbohong, jangan coba-coba membohongi mommy! Kamu telepon saja dulu tanyakan bagaimana keadaannya."
"Sudah mom tapi tidak ada satupun panggilanku yang dijawab!" Kata Noel dengan raut gelisah yang masih kentara.
"Mungkin dia memang kelelahan dan tidur El. Jangan khawatir besok pagi datanglah ke rumahnya mommy akan membuatkan sarapan untuk Dara!"
"Ya kurasa itu lebih baik mom!" Jawabnya kemudian ikut bergabung dengan yang lainnya.
Mommy Retha hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya. Putra yang entah siapa kedua orang tua aslinya dia pun tak tahu. Dulu waktu berpacaran dengan Jessica, Noel tidak sekhawatir sekarang tapi pada Dara yang notabenenya hanya karyawan di perusahaannya, dia tampak begitu khawatir. Tetapi mommy Retha cukup senang karena Noel sudah bisa move on dari masa lalunya.