
Sementara itu di tempat lain seorang laki-laki tengah berdiri di dekat pagar balkon kamarnya. Pandangannya lurus ke depan tapi entah dengan pikirannya yang sepertinya sedang menerawang sesuatu yang jauh disana. Seakan sejauh matanya memandang yang berada didepannya adalah layaknya sebuah film perputaran dari masa lalunya.
"Ayo turun sarapannya udah siap sayang!" Ucap seorang wanita dari arah belakang laki-laki tersebut. Kemudian melingkarkan tangannya memeluk erat sang suami.
Mendengar suara istrinya, laki-laki bernama Kenan itu segera membalikkan badannya lalu melepaskan pelukan dari istrinya. Kemudian pergi begitu saja tanpa berniat untuk membalas ucapan dari istrinya. Sementara itu hanya bisa mengepalkan tangannya menahan semua amarah yang selama ini dia simpan.
"Kamu kira dengan semudah itu kamu bisa melepaskanku Ken?" Tanyanya pada Kenan yang sudah hendak membuka pintu kamarnya.
"Peduli apa yang kamu lakukan sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu!" Jawabnya dengan dingin kemudian membuka pintu kamarnya dan membantingnya dengan kencang hingga menimbulkan suara yang nyaring.
"Ken, selamanya kamu hanya milikku. Aku nggak peduli kamu cinta atau nggak. Jika kamu tidak bisa mencintaiku, aku juga tidak bisa membiarkanmu untuk menyukai siapa pun itu! Terutama wanita kampungan itu!" Teriaknya merasa frustasi dengan sikap suaminya yang tak pernah menganggapnya sebagai istri yang sebenarnya jika tidak berada dengan orang lain.
Kenan segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah yang memang baru beberapa waktu belakangan ini dia tinggali bersama dengan keluarga kecilnya. Tapo langkahnya terhenti setelah mendengar suara seorang bocah perempuan yang memanggil manggil namanya.
"Papa...papa...!" Teriak bocah itu kegirangan melihat sang papa yang keluar dari kamarnya. Kenan yang melihat wajah girang putrinya itu pun tak kuasa untuk menolak. Dia segera melangkahkan kakinya menuju Sabbrina yang sedang duduk di meja makan bersama dengan pengasuhnya.
"Anak papa sudah bangun ya?" Tanya Kenan dengan suara lembut. Meskipun dia tidak menyukai mama dari anak yang sekarang duduk di sampingnya itu tapi bukankah anak kecil ini tidak bersalah lalu kenapa harus mendapatkan kebencian yang bukan penyebab dirinya.
"Makan yang banyak sayang, papa masih ada urusan di luar!" Katanya kemudian mencium pipi gembil bocah perempuan berkuncir kuda itu.
"Papa masih kenyang nanti papa makan diluar, papa tinggal dulu! Jangan nakal nurut sama bibi ya!" Setelah mengucapkan itu Kenan kembali melanjutkan langkahnya. Dia tidak tahu harus kemana yang dia tahu, dia harus segera menyelesaikan urusannya dengan Dara. Apapun yang terjadi Dara adalah miliknya. Daranya adalah separuh dari hidupnya, wanita yang begitu sangat dia cintai sejak dulu maupun sampai kapan pun waktu berputar.
Sementara itu ditempat lain, Dara baru saja keluar dari mobil milik Noel. Sebelum tiba di pusat perbelanjaan mereka sempat sedikit berdebat. Dara menyuruh Noel untuk kembali ke rumah karena dia masih bisa berbelanja sendiri sementara Noel tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk menemani Dara kemanapun dia pergi. Dara sendiri merasa tidak enak apalagi kejadian tadi malam masih berputar-putar diingatnya bagaikan sebuah adegan film. Tetapi sejak semalam dia sudah bertekad untuk melupakan semuanya, apa yang terjadi tadi malam bukan lah hal yang patut untuk diingat.
"Ayo kita belanja!" Ucap Noel dengan mudahnya kemudian menggenggam tangan Dara untuk segera masuk ke tempat yang sebelumnya sudah dia tanyakan pada Dara. Sementara Dara sendiri merasa benar-benar tidak enak. Hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan tapi melihat keintiman mereka pasti akan menimbulkan hal-hal buruk mengenai pemikiran orang-orang yang melihatnya. Apalagi sekarang Dara sudah benar-benar tidak bisa mempercayai seorang laki-laki lagi. Pengalamannya dengan para lelaki sungguh membuat hatinya sangat terluka.
Pertama, pengalaman buruknya dengan sang ayah yang memilih untuk pergi dengan selingkuhannya dibanding bersama ibunya yang sudah banyak berkorban untuk mereka. Apalagi setelah kejadian itu ibunya menjadi sakit-sakitan sampai meninggal dunia.
Lalu sekarang laki-laki kedua yang juga menyakiti hatinya, Kenan. Orang yang dia pikir dapat dia percaya sepenuhnya. Tapi ternyata semuanya hanya angan-angan untuknya. Laki-laki itu melukai hati dan juga jiwanya. Dia hanya bisa berharap kedepannya untuk hidup yang lebih layak lagi.
"Kenapa melamun?" Tanya Noel yang melihat Dara memandang dengan tatapan kosong ke arah depannya.
"Ah itu tidak, hanya sedang berpikir apa saya yang harus dibeli nanti!" Kilahnya agar Noel tidak mengetahui sebenarnya apa yang dia pikirkan dan apa yang terjadi semalam. Dia merasa tidak perlu melibatkan Noel lagipula memang ini tidak ada sangkut pautnya dengan sang boss besar. Lagipula keluarga Noel sudah cukup baik padanya.
"Benarkah?" Tanya Noel menelisik, mengamati perubahan wajah Dara yang dia yakini memang menyembunyikan sesuatu dibelakangnya. Apalagi mengingat kejadian semalam yang tiba-tiba saja Dara merasa kurang sehat padahal yang dia tahu Dara adalah orang yang bertanggung jawab dan perfeksionis. Dia tidak akan meninggalkan pekerjaannya kecuali memang keadaanya yang benar-benar mendesak.
Tapi Noel urung untuk bertanya lebih lanjut, dia memilih untuk menunggu cerita dari mulut Dara sendiri meskipun itu tidak mungkin karena hubungan mereka yang memang belum sedekat itu sampai harus menceritakan hal-hal pribadi. Tapi Noel akan berusaha untuk menghargai sikap Dara, mungkin dengan cara itulah hubungan mereka dapat menjadi semakin dekat kedepannya.