Hello, My Secretary!

Hello, My Secretary!
7



"Baik Bu Terimakasih atas informasinya, saya besok akan datang. Selamat siang!" Setelah mendapat panggilan tersebut Dara bersorak gembira di atas ranjang empuknya. Layaknya anak kecil yang masih berusia tujuh tahun, Dara melompat-lompat kegirangan.


Tadi dia mendapat telepon dari HRD Haidar Corp yang katanya dia lolos dan besok bisa datang untuk mengikuti seleksi interview. Meskipun belum sepenuhnya diterima tapi apa salahnya untuk berharap lagipula dia yakin dengan kemampuannya sendiri. Bukannya sombong karena memang itulah sifatnya. Dia harus optimis dengan apapun yang dia lakukan.


"Wah kayaknya aku harus bilang terimakasih sama Sam!" Gumamnya saat setelah dia duduk di atas ranjang. Ternyata capek juga lompat-lompat, entah karena memang dia yang tidak suka olahraga atau karena memang tubuhnya yang tidak lagi muda.


Dara pun segera menghubungi Sammy namun di dering terakhir panggilannya tidak ada jawaban dari seberang. Tapi bukan Dara namanya jika dia harus menyerah dalam waktu singkat, wanita itu lagi-lagi menghubungi Sam namun kembali hanya suara operator panggilan yang menjawab.


Krukk...


Aaa. Dara meringis ternyata karena senang dia jadi melupakan untuk makan siang. Karena sedang dalam keadaan bahagia akhirnya Dara memutuskan untuk membeli makanan melalui aplikasi saja. Toh sekali-kali dia memanjakan dirinya sendiri tak apa kan? Bukannya selama ini dia pelit pada dirinya sendiri tetapi dia lebih merasa berhemat saja.


****


Sementara itu ditempat lain Noel benar-benar kesal dengan Sam. Tidak sebenarnya ini semua bukan salah Sam. Laki-laki itu pasti juga tidak akan tahu jika hal seperti ini terjadi.


Saat ini mereka tengah menikmati makan siang berempat, ya berempat Noel bersama sekertaris Sam sedangkan rekan bisnisnya Reno bersama dengan Rena sang adik yang selama ini begitu menggandrungi dirinya.


"Maaf hari ini saya membawa adik saya karena dia tiba-tiba ingin mengajak makan siang dan karena aku tidak ingin membuatnya kecewa karena sebuah penolakan kenapa kita tidak makan siang bersama saja, tak apa kan?"


Noel hanya menganggukkan kepalanya, memangnya mau bagaimana lagi. Dia menyuruh Rena pergi dari restoran itu? Tak mungkin kan! Sebenarnya Noel kesal ini masih jam kantor meskipun sedang istirahat dan dia tidak ingin urusan kantor dicampur dengan urusan pribadi.


"Kalian mau pesan apa?" Tanya Rena, entah darimana gadis itu berinisiatif untuk bertanya padahal keberadaannya membuat Noel sebal.


"Sam samakan saja pesanan kita!"


"Baik pak!"


Setelah memesan mereka kembali ke pembicaraan awal diadakannya makan siang hari ini. Sebenarnya perusahaan mereka sudah lama bekerja sama dari zaman daddynya dulu. Tetapi baru-baru ini mereka menjalin kerjasama lagi yaitu sebuah pembangunan resort dekat pantai di daerah Jawa Barat.


"Saya mengucapkan terimakasih atas kerjasama terbaru kita semoga kedepannya semakin banyak perusahaan kita untuk melakukan hubungan kerjasama!"


"Ya saya rasa akan begitu jika perusahaan anda tidak melibatkan masalah pribadi." Jawab Noel dia bukan tipikal pria basa-basi. Dia lebih suka kejujuran meskipun itu akan menyakiti dirinya sendiri ataupun lawan bicaranya.


Seketika wajah Reno dan Rena menjadi pias, mereka tahu Noel memang tidak suka mencampuri urusan perusahaan dengan pribadi dan mereka sudah melihat secara langsung ketidaksukaan itu.


"Ah ya kemarin saya menaruh lamaran pekerjaan di perusahaan anda lho!" Kata Rena dengan tidak tahu malunya. Lihat kan cinta memang terkadang membuat mereka tidak memiliki muka.


"Benarkah? Semoga saja berjalan sesuai keinginan anda!" Jawabnya padahal dia tahu, dia tidak meloloskan gadis yang sekarang sedang duduk dihadapannya itu. Bukan karena masalah pribadi memang karena Rena tidak memiliki bakat akan hal itu.


Tak lama kemudian makanan datang, Noel segera untuk menghabiskannya. Berlama-lama disini membuat dia bertambah kesal apalagi jika melihat Rena yang sejak tadi pandangan matanya tak beralih untuk menatap dirinya.


Setelah menghabiskan makanannya Noel segera berdiri begitu juga dengan Sam yang baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya. Bagaimana pun juga sebagai asistennya Sam harus siap dalam keadaan apapun.


"Terimakasih atas jamuan makan siangnya, kami pamit undur diri!" Ucap asisten Sam dengan sopan. Dia sudah tahu bagaimana prosedurnya, sang boss tidak mungkin kan yang berpamitan jika masih asa dirinya. Dan benar Noel hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum tipis.


Di sepanjang perjalanan kembali ke perusahaan Noel tidak mengatakan apapun dan asisten sangat tahu penyebabnya.


"Pak, maaf atas kelalaian saya! Kedepannya hal ini tidak akan terjadi lagi!" Ucap Asisten Sam yang duduk di samping sopir itu.


"Hmm."


Matahari mulai menampakan sinarnya, menghangatkan permukaan bumi. Sinarnya merambat masuk ke dalam kamar seorang wanita melalui celah-celah jendela. Dara mengerjapkan matanya berusaha untuk mengumpulkan nyawanya.


Dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak sekolah menengah atas jadi bangun pagi bukan hal yang asing baginya. Setelah merasa nyawanya sudah berkumpul, wanita itu mulai menampakan kaki telanjangnya ke atas lantai keramik yang dingin. Dara membuka korden kamar apartemennya. Apartemen hasil jerih payahnya bekerja selama ini meskipun dia memberinya harus dengan cara mencicil.


Dara memulai ritual mandinya, hari ini perasaannya sangat bahagia. Sejak bangun tidur dia merasa bersyukur, Tuhan memberinya kehidupan yang layak meskipun dia hanya seorang diri tapi tak apa masih ada beberapa teman yang memperdulikannya.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya Dara segera bersiap-siap. Hari ini dia memakai kemeja putih layaknya orang interview pada umumnya dengan bawahan rok span hitam dan jangan lupakan high heels Lima centinya. Merasa sudah cukup, Dara segera memesan taksi online untuk mengantarnya ke gedung perusahaan Haidar Corp.


"Silahkan masuk mbak!" Ucap sopir taksi online itu dengan sopan. Dara pun menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam mobil.


Baru setengah perjalanan tiba-tiba saja mobil taksi online yang Dara tumpangi berhenti di tengah jalan.


"Ada apa pak?" Tanya Dara khawatir serta terkejut dengan kondisi mobil yang tiba-tiba berhenti.


"Maaf mbak, saya cek sebentar!" Kata sopir itu kemudian berjalan keluar dan membuka kap mobil.


Sepuluh menit berlalu tapi belum ada tanda-tanda mobil akan selesai diperbaiki. Waktu pun terus berjalan dimana membuat Dada semakin khawatir jika dirinya akan telat untuk interview.


"Bagaimana pak?" Tanya Dara karena tidak sabar wanita itu keluar dari mobil dan menghampiri sang sopir.


"Maaf mbak sepertinya saya harus membawa mobilnya ke bengkel!"


"Ah begitu ya pak!" Katanya penuh kecewa. "Ya sudah kalau begitu saya akan pesan ojek online saja! Pesanan saya selesaikan sampai disini!"


"Maaf mbak atas ketidaknyamanannya!"


"Iya pak tidak apa-apa." Kata Dara kemudian memesan sebuah ojek online untuk mengantarnya ke Haidar Corp.


"Ck, kalau gini terus bisa-bisa telat deh nyampe sananya!" Geurutunya ketika tak kunjung mendapat ojek online padahal waktunya sudah tidak banyak.


Akhirnya setelah sepuluh menit, dia pun mendapat ojek onlinenya. Dara memilih untuk menaiki ojek online saja karena waktunya sudah tidak banyak jadi lebih efektif dan efisien jika menggunakan ojek online.


Sesampainya di depan kantor Haidar Corp, Dara segera membayar ojek online yang dia naiki. Kemudian berlari memasuki gedung tinggi pencakar langit itu. Dia terlambat lima menit, Huft semoga saja interviewnya belum dimulai.


Saat hendak memasuki lift karena tidak begitu konsentrasi dengan jalan yang ada didepannya karena sedang membetulkan penampilannya, Dara menabrak bahu seorang laki-laki.


"Maaf pak saya tidak sengaja! Saya sedang terburu-buru!" Katanya kemudian meninggalkan laki-laki yang masih melongo menatapnya begitu juga dengan karyawan yang kebetulan sedang berada disana.


Noel mengepalkan tangannya, bisa-bisanya wanita itu tidak bertanggungjawab atas kesalahannya. Meskipun dia sudah meminta maaf setidaknya wanita itu bukankah bisa menunggu jika dirinya memaafkan atau tidak.


"Lihat apa kamu!" Tegurnya pada karyawan yang masih melongo menatapnya. Mereka tahu bagaimana perangai Noel. Laki-laki tidak sudah disentuh dan tidak akan menyentuh jika tidak terpaksa. Tapi lihatlah wanita yang baru saja lewat itu dengan beraninya membuat Noel yang pastinya sedang marah itu.


Mendengar teguran dari sang boss membuat mereka berlarian begitu saja. Mereka tidak ingin dipecat karena mencampuri urusan orang lain padahal mereka memang tidak berniat untuk melakukan itu.


Noel pun memasuki lift yang memang khusus untuk petinggi perusahaan itu. Sepanjang perjalanan dia menggerutu merutuki perbuatan wanita yang tidak bertanggung jawab tadi.


"Maaf pak, pihak HRD sudah menunggu pak Noel untuk interview sekertaris baru!" Kata Sam saat Noel baru saja duduk di kursi kebesarannya.


"Saya tahu!" Jawabnya kesal kemudian berkata "Jangan izinkan sembarang orang masuk ke perusahaan jika tidak memiliki kepentingan!" Lanjutnya kemudian meninggalkan ruangannya menyisakan Sam dengan kebingungannya.