
Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka semua pun berjalan beriringan keluar dari restoran. Saat ini mereka sedang berjalan menuju playground dimana biasanya anak-anak akan menghabiskan waktunya untuk bermain disana.
"Uncle kita main disana yuk!" Ajak Andrea yang tampak antusias melihat banyaknya begitu permainan. Memang si kembar cenderung sedikit berbeda, jika sang kakak lebih banyak diam sedangkan sang adik lebih banyak bicara.
"Ayo!" Kata Noel kemudian menggenggam tangan Dara yang sedang berdiri disampingnya membuat wanita itu membeku seketika namun dia segera tersadar dan mengikuti langkah Noel. Entah Noel sadar atau tidak jika sekarang tangannya sedang menggenggam tangan Dara.
Sementara itu Noel tersenyum dalam hatinya, bukannya dia tidak sadar akan kelancangan tangannya. Dia memang sengaja melakukan itu semua dan berpura-pura tidak tahu karena Dara juga tidak menolak kan?
Mereka pun bermain hampir di seluruh permainan yang ada. Sampai pada akhirnya, Andrew mengajak mereka semua untuk bermain ice skating.
"Uncle aku mau main Ice skating, Iya kan Rea?"
"Hu,um... Lea juga mau main itu." Tunjuknya pada pada sebuah tempat yang ditutupi oleh es itu.
"Dingin sayang, nanti kalau kalian sakit bagaimana? Uncle bisa kena marah mommy dan Oma!" Katanya sambil melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya. Sebenarnya bukan karena itu, hanya saja dia merasa tidak enak dengan Dara. Sekarang sudah pukul tiga sore.
"Cebental saja uncle!" Ucap Andrea dengan mata penuh permohonan.
Dara yang melihat itu pun menjadi tidak tega, gadis itu pun berjongkok di depan Andrea mensejajarkan tinggi mereka.
"Andrea mau main itu?" Tanyanya kemudian diangguki oleh gadis kecil itu.
"Kita main tapi sebentar saja ya? Nanti mommy kalian cari-cari kalau kalian nggak segera pulang!"
"Iya aunty Lea cama kakak mainnya bental kok!"
Setelah mendengar jawaban gadis didepannya itu, Dara segera berdiri namun tiba-tiba saja dia merasa tengkuknya bersentuhan dengan benda kenyal. Bibir Noel.
Noel pun segera memundurkan tubuhnya, bukan dia sengaja. Tadi dia sedang mengamati interaksi keduanya dan lagi dia tidak tahu jika Dara tiba-tiba berdiri ketika dia belum sempat menarik tubuhnya.
Dara tertegun sesaat merasa ada aliran panas dari tubuhnya. Ciuman Noel pada tengkuknya membuat tubuhnya menjadi panas.
"Maafkan aku Dara aku benar-benar tidak sengaja!" Kata Noel sambil mengatupkan kedua tangannya. Wajahnya pun kini ikut merah padam seperti Dara. Tiba-tiba saja hawa sekitarnya menjadi panas padahal mereka dekat dengan area ice skating.
"Aku mengerti El!" Jawab Dara kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling yang terpenting tidak ke laki-laki didepannya itu.
"Uncle aunty ayo!" Seru Andrea yang sudah tidak sabar untuk bermain itu.
Akhirnya mereka pun bermain bersama tapi sebelum itu mereka diminta untuk memakai pakaian tebal terlebih dahulu dan juga mengganti sepatu mereka.
Dara tampak masih mematung di tempatnya ketika mereka semua sudah mulai memasuki area es itu. Tampak raut kebingungan terlihat di wajahnya dan Noel mengerti akan hal itu.
"Sayang kalian main berdua ya? Uncle sedikit ada urusan dengan aunty Dara!" Katanya kemudian berjalan menghampiri Dara yang masih setia berdiri dipinggir dan berpegang di sisinya.
"Bagaimana cara bermainnya? Bahkan sejak kecil aku tidak pernah menginjakkan kakiku di tempat seperti ini!" Batin Dara.
"Ada apa?" Tanya Noel tiba-tiba mengalihkan lamunan Dara.
"Emm itu aku a-aku tidak bisa bermain seperti ini!" Jawabnya jujur. Bagaimana lagi dia memang tidak bisa, mau berbohong juga tidak mungkin kan atau dirinya akan malu sendiri nantinya.
Sebenarnya Noel ingin tertawa melihat wajah Dara sekarang tapi dia mengurungkannya. Dia tidak mau jika nanti Dara tersinggung dan marah padanya. Apalagi sekarang usahanya sudah sampai saat ini.
"Jangan berkata tidak bisa, kau pasti bisa! Coba sekarang berjalanlah!"
"Tidak El, aku tidak mau! Sudah ku katakan aku tidak bisa!" Jawab Dara sambil menggelengkan kepalanya kemudian si kecil Andrew mendatangi mereka berdua.
"Ah em itu..."
"Aunty Ara tidak bisa bermain ice skating Drew dan dia tidak mau belajar!"
"Benarkah? Aunty ini sangat mudah!" Ucapnya sambil menunjukkan kebolehannya dalam bermain ice skating.
"Mudah untukmu anak kecil karena kau memang terbiasa melakukannya! Berbeda denganku jika biasanya aku akan membuat es dengan es batu sebanyak ini tapi sekarang aku harus menginjak-injaknya. Kan sayang!" Batin Dara.
Kemudian Dara pun tersenyum antara malu dan juga kesal. Karena dirinya yang tidak suka dipermalukan apalagi oleh anak kecil pun bertekad akan belajar bermain. Memangnya apa susahnya hanya berjalan di atas es batu anggap saja seperti berjalan di atas aspal.
Baru saja dia melangkahkan satu kakinya, tiba-tiba saja tubuhnya sudah hilang kendali.
"Aaaaa....!" Teriaknya sambil memejamkan matanya karena merasa tubuhnya akan terpelanting ke lantai dingin itu. Tapi...
Tunggu! Kenapa bokongnya tidak merasa dingin dan malah merasakan hangat. Dia pun membuka matanya.
Deg!
Pandangan mereka bertemu lagi bahkan jarak wajah mereka semakin dekat sampai Dara bisa mencium wangi mint dari mulut Noel. Sampai beberapa detik mereka di posisi itu kemudian Dara segera sadar dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Berhati-hatilah! Sekarang pegang tanganku!" Kata Noel sambil mengulurkan kedua tangannya. Dara sendiri segera menyambut uluran tangan Noel.
Perlahan Noel mulai menggerakkan kakinya, Dara pun mengikuti apa yang dilakukan Noel. Dia merasa senang ketika sudah bisa menggerakkan kakinya di atas lantai es meskipun belum seahli dua anak kecil itu dan dia sendiri juga masih sering hampir kehilangan keseimbangannya.
*******
Pukul empat sore mereka keluar dari area Mall tersebut kemudian masuk kedalam mobil. Sebelum pulang Andrea sempat meminta beberapa boneka kepada sang uncle kemudian memberikan salah satunya pada aunty Dara.
Mobil yang mereka tumpangi perlahan meninggalkan area mall. Noel meminta sang sopir agar langsung mengantar Dara menuju apartemennya karena hari sudah sore dan sebentar lagi jam bekerjanya juga sudah selesai.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama mobil yang mereka tumpangi sampai di lantai basemen apartemen Dara. Wanita itu berpamitan dengan Andrew dan juga Andrea sebelum keluar dari mobil.
"Terimakasih untuk hari ini El!" Ucap Dara dengan tulus kemudian keluar dari mobil setelah melihat anggukan dari Noel.
"Kapan-kapan kita beltemu lagi aunty Ala!" Teriaknya sambil melambaikan tangan keluar dari mobil.
"Kita ke rumah Oma ya! Mommy kalian sedang ada di sana!"
"Oke uncle!"
Sepanjang perjalanan Andrea menceritakan tentang sekolahnya dan juga teman-temannya yang ada di sekolah. Katanya dia senang karena semua teman-temannya baik padanya.
Mobil mereka pun sampai di rumah mewah itu. Setelah sampai di halaman si kembar segera turun dari mobil, mereka mengatakan jika ingin segera mandi karena tubuhnya terasa lengket.
"Mommy Oma...!" Teriak Andrea memenuhi seluruh ruangan itu. Sementara Andrew, laki-laki kecil itu juga langsung memeluk ibunya yang sedang duduk di depan tv.
"Kenapa baru pulang hmm?" Tanyanya pada kedua anaknya itu.
"Tadi masih ke mall sama uncle mom!" Jawab Andrew kemudian duduk di samping sang mommy. Tak lupa tangannya membelai perut ibunya yang katanya tempat adiknya tumbuh itu.
"Iya, tadi makan banyak telus main Ice ceketing juga. Tadi aunty Ala mau jatuh pas main Ice ceketing!" Kata Andrea saat Noel baru saja masuk dan ikut bergabung bersama mommy dan adiknya.
"Aunty Ala?" Tanya Orin sambil mengerutkan keningnya. Siapa aunty Ala?