Hello, My Secretary!

Hello, My Secretary!
10



Setelah menyelesaikan panggilan telepon dari perwakilan HRD tersebut, Dara memutuskan untuk memberitahu kabar bahagia itu pada Nindy, bagaimana pun juga Nindy adalah orang terdekatnya saat ini.


Jika mengingat tentang Nindy, dia menjadi teringat pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Dimana gadis itu yang datangnya entah darimana tiba-tiba saja memaki dan terus melontarkan kata-kata pedas hanya karena sebuah salah paham.


Dulu Dara adalah seorang guru les privat untuk anak sekolah menengah atas. Waktu itu Dara baru saja lulus dari kuliahnya dan karena belum mendapatkan pekerjaan tetap Dara memtuskan untuk menjadi guru les privat saja. Kebetulan saat itu Dara mempunyai murid seorang pria yang kebetulan juga tampan.


Dara tidak mengajar setiap hari melainkan pada hari Sabtu dan Minggu saja sesuai permintaan anak laki-laki itu. Mereka sangat dekat bahkan Dara sudah menganggap laki-laki itu seperti adiknya sendiri. Namun karena kedekatan itulah menimbulkan salah paham dari seseorang pihak laki-laki muridnya itu.


Saat itu Dara sudah mengajar hampir lima bulan dan dia sudah mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah perusahaan tetapi Dara masih melanjutkan profesinya sebagai guru les privat sambil mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan S2-nya.


"Sudah lama ya kak?" Tanya seorang laki-laki muda yang baru saja datang. Tanpa diminta laki-laki itu langsung duduk di depan Dara.


"Tidak juga Ar, baru sepuluh menit." Jawabnya sambil melihat ke arah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Maaf tadi sedikit ada masalah jadi aku terlambat!"


"Ya tidak apa-apa, pesan lah minum dulu! Mungkin kau haus?"


"Iya aku sangat haus dan masalah tadi menguras tenaga dan juga pikiranku!"


Dara pun tertawa mendengar kata-kata yang menurutnya cukup konyol untuk anak seusia Ardian. Masalah yang menguras tenaga dan pikiran? Hey mereka masih SMA, masalahnya jauh lebih ringan daripada masalah yang Dara sudah hadapi.


"Cepat buka buku matematikamu, kata mamamu kemarin kau mendapat nilai kurang baik?"


"Ah tidak juga, bukan kurang baik hanya saja sedikit turun dari hasil kemarin!" Jawabnya seakan dia juga tidak sedang bersalah.


Tak lama kemudian pesanan minuman Ardian datang. Setelah mengucapkan kata-kata yang biasa digunakan seorang waiters, waiters itu pun pergi. Kini tinggallah mereka berdua. Dara dan juga Ardian lebih sering mengadakan les privat di rumah besar milik Ardian tapi kali ini Ardian ingin suasana baru katanya jadilah mereka di sini sekarang. Sebuah kafe yang instagramble untuk anak milineal sekarang.


Dara pun melihat hasil ulangan milik Ardian, sebenarnya dia anak yang pintar hanya saja terkadang rasa malas lah yang mendominasi.


"Letak kesalahannya masih sama ya? Kenapa emangnya, kamu belum mengerti cara mengerjakan soal yang ini?" Tanya Dara sambil menunjuk teks yang sedang dia pegang.


Ardian pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit merasa bersalah padahal guru cantiknya itu sudah mati-matian mengajarinya tapi memang dirinya saja yang sedikit bebal akan soal tersebut. "Aku terkadang lupa dengan rumusnya dan waktunya juga tinggal sedikit kemarin!"


"Begitu ya, kan sudah aku bilang kerjakan dulu soal yang menurut kamu mudah. Jika seperti itu kan pasti akan lebih banyak mendapat nilainya!"


Saat mereka sedang asyik berbincang sambil tertawa tiba-tiba saja seorang gadis yang menurut Dara usianya setara dengan Ardian itu datang. Wajahnya sudah merah padam dan matanya berkaca-kaca.


"Jadi gara-gara cewek ganjen ini, lu tinggalin gue di salon sendiri?" Teriak gadis itu marah tanpa memperdulikan pandangan orang sekitarnya.


Sementara itu Dara hanya memijat pangkal hidungnya, siapa gadis ini? kenapa tiba-tiba dia yang baru datang lalu menyebutnya apa tadi 'ganjen'? Heh yang benar saja.


"Nin pelanin suara lu dulu deh! Berisik banget sih!" Kata Ardian yang merasa tidak enak dengan pengunjung yang lain.


"Heh lu suruh gue pelan-pelan ngomongnya setelah lihat perselingkuhan lu?" Tanyanya sambil menunjuk tepat ke arah dada Ardian.


"Maaf, sepertinya disini ada kesalahpahaman!" Kata Dara yang sekarang sudah mengerti kenapa gadis itu tiba-tiba datang lalu berteriak-teriak seperti orang kebakaran jenggot.


Habis sudah kesabaran Dara, apalagi mendengar gadis itu menyebutnya dengan Tante. Heh yang benar saja, memangnya wajahnya setua itu apa?


"Nindy please deh! Ini tuh guru les gue."


"Mana ada guru les ngajarnya di kafe? Lu jangan bohongin gue deh Ar!"


"Tolong ya anda jangan menuduh orang sembarang, saya itu guru les privat Ardian. Mamanya yang menyuruh saya untuk menjadi guru les Ardian beberapa bulan belakangan ini. Ar lebih baik kamu selesaikan urusan kamu dengan pacar kamu dulu, les sampai disini saja!" Ucapnya dengan kesal kemudian membereskan buku-bukunya setelah itu melenggang pergi meninggalkan dua anak manusia yang masih bau kencur itu. Dara sudah tidak ingin menjadi sorotan para pengunjung yang lain, apalagi karena hanya masalah salah paham. Bisa anjlok reputasinya.


Beberapa setelah kejadian hari itu, Ardian kembali menghubunginya dan mengatakan ingin bertemu diluar. Dara pun menyanggupinya dan mengatakan mereka bisa bertemu setelah dia pulang bekerja.


Sore harinya sepulang bekerja Dara menuju lokasi yang sudah Ardian berikan. Dara tidak mengerti kenapa Ardian tiba-tiba meminta untuk bertemu padahal jadwal les mereka masih beberapa hari lagi.


"Maaf sudah menunggu lama ya?" Tanyanya saat baru sampai dan yang sangat mengejutkan ternyata Ardian tidak sendirian. Laki-laki itu bersama gadis yang kemarin datang melabraknya. Tiba-tiba mood Dara hilang begitu saja. Dia masih kesal dengan ucapan gadis didepannya ini yang sekarang tengah menundukkan kepalanya.


"Nggak kok kak, silahkan kak Dara pesan dulu!"


Dara pun memesan minuman, setelah itu mereka semua tampak diam sambil menunggu minuman pesanan Dara tiba. Setelah menunggu beberapa saat, minuman itu pun datang.


"Kak, ada yang ingin Nindy bicarakan!"


Dara mengerutkan keningnya tak mengerti, apa yang ingin gadis itu bicarakan padanya? Apa mau memakinya lagi. Jika seperti itu lebih baik dia pergi saja dari sana sekarang.


"Hay kak, aku Nindy. Aku ingin minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tidak tahu jika kakak memang guru les privat Ardian. Aku pikir Ardian berselingkuh dibelakangku karena Ardian tidak mengatakan apapun perihal les privatnya!" Katanya sambil tetap menundukkan kepalanya, entah karena malu atau takut untuk menampakkan wajahnya.


"Ck, jika gue beritahu lu, lu pasti tetep nuduh gue yang nggak-nggak!" Jawab Ardian yang sepertinya memang sedang kesal dengan sang kekasih.


"Oke-oke kalian jangan ribut. Nindy kamu tidak perlu khawatir Ardian sudah seperti adikku sendiri! Dan kamu Ardian jangan sembunyikan apapun dari kekasihmu. Kalian sepasang kekasih jadi harus terbuka satu sama lain terlepas apa yang akan terjadi nantinya!" Entah kenapa Dara malah mengatakan hal itu. Rasanya dia sudah seperti seorang pakar cinta saja padahal cintanya sendiri juga sedang rumit-rumitnya.


Setelah hari itu, kini Dara memiliki dua murid yaitu Ardian dan juga Nindy kekasihnya. Bahkan sampai sekarang hubungan mereka masih baik-baik saja. Tetapi sekarang Ardian harus berada di luar kota karena pekerjaannya.


"Hallo kak Dara ada apa?" Tanya suara seorang perempuan dari seberang sana.


"Aku ingin memberitahu kabar gembira padamu! Aku diterima bekerja di Haidar Corp!"


"Wah benarlah? Selamat ya kak, Nindy tahu kak Dara pasti bisa!"


"Haha iya terimakasih. Jadi untuk merayakannya aku akan mengajakmu makan malam diluar nanti? Bagaimana apa kau bisa?"


"Tentu saja kak!"


"Baiklah kalau begitu. Oh ya jangan lupa aja Sam juga, ini semua karena berkatnya juga. Nanti alamat restorannya akan aku kirimkan!"


"Oke kak!"


Dara mematikan panggilannya, tidak apa kan hari ini dia sedikit boros untuk merayakan pekerjaan barunya? Lagipula dia tidak pernah makan malam diluar. Jika pun iya itu pasti karena memang ada yang mengajaknya. Bukan lebih tepatnya jika ada yang mentraktirnya.