Hello, My Secretary!

Hello, My Secretary!
27



Matahari mulai menampakan sinarnya, menghangatkan permukaan bumi dengan sinarnya. Seorang anak manusia yang tengah merasakan patah hati mulai membuka perlahan matanya yang berat. Mata sembab itu menyapu pemandangan sekitar kamarnya. Dia sendiri. Padahal tadi malam dia merasa Nindy datang atau mungkin dia sedang berhalusinasi tadi malam. Dia pun terkekeh mengingat nasib buruk yang menimpanya tadi malam.


Dara pun menurunkan kaki jenjangnya ke lantai yang dingin. Mengajak kakinya pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Hari ini masih libur dia akan memanfaatkan untuk bermalas-malasan dan melupakan kejadian tadi malam. Setelah selesai mencuci wajahnya, Dara memutuskan untuk keluar mengambil air minum. Menangis semalaman membuat tenggorokannya kering kerontang.


"Pagi kak Dara, maaf aku udah lancang pakai dapur kakak!" Kata Nindy yang mana membuatnya terkejut. Dia kira semalam hanya halusinasi jika Nindy datang tapi ternyata gadis itu memang datang untuk menemaninya.


"Pagi Nin, seharusnya yang minta maaf aku pasti kalian khawatir sama aku ya?"


"Emm iya kak, aku khawatir banget soalnya kakak bilang kak Dara nggak enak badan jadinya aku langsung kesini deh!"


"Iya terimakasih ya! Jadi nggak enak ngerepotin kalian!" Ucapnya kemudian duduk di meja makan sambil kembali meminum air putih yang dia ambil.


"Sama-sama kak! Makan nih tadi aku bikin omlate aja soalnya di kulkas kak Dara udah nggak ada isinya!" Kata Nindy sambil tersenyum mengingat dirinya tidak menemukan apapun di dalam kulkas milik orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu.


"Hehe iya aku belum sempet belanja tahu sendiri akhir-akhir ini lagi sibuk banget sama masalah kantor!"


"Hmm sama kakak juga gitu kok, kadang aku kasihan kerja sampai larut malam, pagi-pagi banget udah berangkat lagi!"


Saat mereka asyik berbincang-bincang tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari arah depan.


"Ada tamu kak?"


"Iya, siapa ya pagi-pagi gini udah kesini?"


Tanpa pikir panjang dan mengganti pakaian tidur yang semalam dia kenakan, Dara pun membuka pintu apartemennya. Betapa terkejutnya dia melihat sosok tampan yang sekarang sedang berada di depan apartemennya dengan senyuman secerah mentari pagi itu.


"El?" Ucap Dara begitu terkejut melihat Noel sepagi ini sudah berada di depan apartemennya. Apalagi sekarang sedang hari libur.


"Pagi!" Sapanya menghiraukan perkataan Dara serta raut terkejut dari wajahnya yang masih terlihat sembab.


"Pagi El, ada apa?" Tanyanya ketika dia sudah bisa mengendalikan rasa terkejutnya.


"Emm semalam kamu pulang awal dan nggak enak badan jadi aku kesini di suruh mama buat anterin bibir." Jawabnya sambil menunjukkan paper bag yang dia bawa.


"Di suruh mama?"


"Iya." Jawabnya lagi, sebenarnya bukan sepenuhnya mamanya yang menyuruhnya untuk datang. Lebih tepatnya itu inisiatif dari dirinya sendiri. Tapi apalah daya dirinya yang kaku dan gugup hanya bisa menjawab asal pertanyaan Dara.


"Oh masuk aja, aku ambilin minum bentar ya!"


Noel pun mengikuti langkah Dara masuk ke dalam ruang tamu apartemen milik Dara. Ini kali pertamanya dia memasuki apartemen milik orang yang dia sukai entah sejak kapan itu. Biasanya dia hanya akan mengantar Dara sampai basemen bawah saja sesuai dari permintaan wanita itu. Tapi sekarang untuk pertama kalinya dia memasuki apartemennya, selangkah untuk lebih dekat lagi.


Tak lama kemudian keluarlah Dara dengan sebotol minuman kaleng yang memang biasa dia siapkan di lemari pendingin. Saat ini dia sudah berganti pakaian yang lebih layak.


"Maaf nunggu lama!"


"Iya, nih kamu sarapan dulu pasti belum sarapan kan!" Ucapnya sambil menyodorkan paper bag yang dibawanya tadi.


Dara pun hanya tersenyum sambil menerima paper bag tersebut, ingin menolak tapi rasanya tidak sopan. Mereka sudah berniat untuk memberi yang seharusnya kita terima dengan senang hati bukan?


"Terimakasih!"


Baru saja Noel hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba saja keluarlah seorang gadis dari dalam apartemen Dara.


"Kak El?"


"Nindy?" Kata mereka secara bersamaan dimana membuat keduanya menjadi salah tingkah.


"Emm iya kak, kemarin kakak bilang kak Dara nggak enak badan jadi aku datang kesini buat temenin kak Dara!"


"Oh!" Jawabnya sambil menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian Nindy pun pamit karena ada sesuatu hal di kafe miliknya yang harus dia tangani. Sekarang tinggallah mereka berdua, tiba-tiba suasana tampak lebih canggung dari sebelum-sebelumnya.


Ini pertama kalinya untuk Dara bersama dengan laki-laki dalam satu ruangan setelah kejadian itu. Jujur suasana membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Tiba-tiba saja dia merasa cemas dengan dirinya sendiri.


"Dara, kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat lebih pucat dari sebelumnya!"


"Emm baik-baik saja. Apa bisa kita keluar? Hari ini aku mau belanja di supermarket!" Katanya untuk menghindari berduaan lebih lama dengan laki-laki dalam satu ruangan yang benar-benar membuat pikirannya tidak karuan. Padahal dia tahu, itu adalah Noel yang tidak mungkin akan melakukan tindakan buruk padanya. Tapi rasa cemas tetap saja menghinggapinya.


"Tentu saja, pergilah bersiap terlebih dahulu!"


Dara pun segera bersiap-siap, tak lupa membawa tas serta ponselnya. Setelah selesai bersiap-siap mereka segera turun ke bawah dimana mobil Noel berada. Karena rasa terkejutnya Dara sampai lupa darimana Noel tahu lantai tempatnya tinggal dan bahkan nomor apartemennya. Sebelumnya Dara bahkan tidak memberitahu mengenai lantai tempat tinggalnya selama ini.