
Brak....
Noel membelalakkan matanya melihat pemandangan didepannya. Sang sekertaris yang memejamkan matanya lalu si tua bangka yang bahkan sudah melepaskan jasnya dan membuka kancing kemejanya. Tanpa basa-basi Noel pun menendang pria itu hingga tersungkur ke depan.
"Bajingan! Berani-beraninya kau menyentuh sekertarisku!" Umpatnya kemudian kembali memukul Jeremi di area wajahnya tepat di samping bibirnya membuat bibir pria itu sobek dan mengeluarkan darah. Sang sekertaris pun membelalakkan matanya, dia segera membantu tuanya untuk bangun.
Sementara itu Noel segera melepas jasnya untuk menutupi tubuh Dara yang kini tinggal menggunakan blouse tanpa lengan memperlihatkan lengan atas putihnya. Untung hari ini Dara memakai celana bahan kain yang panjang jika tidak entah apa yang akan terjadi.
"Dara... bangun!" Ucap Noel sambil menepuk ringan pipi Dara. Gadis itu masih diam dan memejamkan matanya.
"Hey buka matamu! Atau ku potong gajimu?"
"Hey... hah...!" Karena kesal Dara yang masih enggan membuka matanya, Noel pun menggedong Dara ala bridal style keluar dari restoran. Melihat sang boss yang tampak kesulitan menggedong perempuan, sang sopir pun berinisiatif membuka pintu mobil bagian belakang.
"Cepat ke rumah sakit!" Teriak Noel pada sang sopir yang baru saja membuka pintu mobil pada bagian belakang kemudi.
Noel merebahkan kepala Dara di pangkuannya. Entah kenapa dia merasa khawatir dengan keadaan Dara. Apalagi mengingat kata Sam beberapa hari lalu yang mengatakan jika Dara hidup sebatang kara.
Ya beberapa hari yang lalu Noel sedikit mengulik kehidupan pribadi sekertarisnya itu. Ada hal yang menggelitik hati Noel pada sekertarisnya tentang mengapa wanita itu sampai usia yang terbilang sudah cukup matang untuk ukuran seorang wanita untuk menikah tapi belum menikah juga. Noel sebenarnya ingin bertanya sendiri tapi rasanya tidak pantas jika harus bertanya apalagi Dara sendiri tidak ingin kehidupan pribadinya dicampur adukkan dengan pekerjaan.
"Lebih cepat lagi pak!" Perintah Noel saat melihat wajah Dara yang semakin pucat. Entah kenapa nalurinya sebagai manusia mengatakan jika dia harus melindungi Dara.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun sampai di klinik terdekat karena rumah sakit letaknya agak jauh dari restoran yang mereka tadi kunjungi. Apalagi sekarang sudah siang dan dipastikan jika sebentar lagi macet akan melanda.
Noel segera menggendong kembali tubuh Dara masuk ke dalam klinik tersebut. Dia segera merebahkan tubuh semampai Dara ke dalam brankar yang sudah disediakan di ruang unit gawat darurat.
"Cepat periksa keadaannya!" Perintah Noel pada suster jaga. Mereka pun segera mendorong tubuh Dara ke dalam ruang pemeriksaan. Sementara Noel masih menunggu diluar.
Sambil menunggu Dara yang sedang diperiksa, Noel segera mengambil ponselnya yang ada di saku celana. Dia tampak mendial nomor seseorang.
"Mundurkan jadwal rapat di perusahaan! Oh ya Sam satu lagi blacklist semua yang berhubungan dengan JJ group."
"Baik pak tapi kalau boleh tahu sekarang pak Noel ada dimana? Dan mau makan siang dengan apa?" Tanya seseorang diseberang sana yang ternyata adalah asisten Sam. Asisten Sam adalah orang yang selalu menyiapkan makan siang untuk sang boss sesuai dengan permintaan awalnya.
"Aku sedang ada di klinik Bunga Citra, jangan bertanya siapa yang sakit! Kirimkan saja makananku ke sini! Terserah makanannya apa!" Setelah mengatakan itu Noel segera menutup panggilannya karena melihat dokter yang memeriksa Dara juga sudah keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Noel saat melihat dokter itu melintas didepannya.
"Nona tidak apa-apa pak hanya kelelahan saja dan sepertinya sejak pagi perutnya juga belum terisi makanan. Saat ini nona masih belum siuman, nanti setelah siuman suster akan membawakan makan untuk nona dan nona bisa pulang hari ini juga tetapi menunggu infus nya habis terlebih dahulu. Mungkin sekitar tiga atau empat jam."
Merasa tidak ada yang ditanyakan lagi dokter itu pun segera undur diri. Sementara Noel masuk ke dalam ruangan Dara.
Di dalam sana Dara tampak masih memejamkan matanya, tangan sebelah kirinya terhubung dengan selang infus.
Noel membuang nafasnya sedikit kasar, kemudian mendudukkan dirinya di kursi samping tempat Dara berbaring. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini, peduli dengan siapapun kecuali keluarganya. Apalagi dengan seorang wanita, dia merasa jika wanita adalah makhluk paling menyebalkan mengingat bagaimana dulu dirinya yang dibuang begitu saja oleh wanita yang telah melahirkannya sendiri. Dan mengingat bagaimana penghianatan sang mantan kekasih tidak tahu dirinya.
"Emh...!" Suara lenguhan Dara saat kesadarannya mulai kembali. Tak beberapa lama kemudian perlahan matanya mulai terbuka. Dia tampak mengamati sekeliling tempatnya berbaring.
Berbarengan dengan Dara yang membuka matanya, seorang suster juga masuk dengan membawa sebuah nampan berisikan satu mangkuk sup dan juga beberapa kaplet obat.
"Nona bagaimana perasaan anda sekarang?" Tanya suster itu saat melihat Dara yang sudah membuka matanya dan perlahan ingin mendudukkan dirinya namun karena masih lemah diapun merasa kesulitan.
"Jangan menyusahkan orang lain lagi!" Ketus Noel tetapi tangannya dengan cekatan membantu Dara untuk duduk.
"Emm terimakasih pak!" Jawab Dara dengan suara lirihnya. Jika saja dirinya tidak sedang sakit mungkin mereka sudah terlibat akan perdebatan seperti biasanya.
Sang suster pun undur diri setelah menyerahkan makanan dan juga obat pada Dara. Sementara Noel kembali duduk ditempatnya sambil memainkan ponselnya. Dara yang merasakan perutnya memang benar-benar sudah lapar pun segera menghabiskan semangkuk supnya.
Tak lama kemudian terdengar pintu ruangan Dara diketuk seseorang dari luar.
Tok...tok...tok...
"Masuk!"
"Pak ini makan siangnya, Ya Tuhan apa yang terjadi padamu Dar?" Kaget Sam saat melihat kondisi Dara yang tampak lemah. Gadis itu sedikit terkejut dengan teriakan Sam yang memekakkan telinga itu.
"Aku-!"
"Dia pingsan karena kelaparan, huh untung saja aku segera membawanya ke sini!" Kata Noel memotong ucapan Dara. Dara hanya mencebikkan bibirnya kesal mendengar Noel yang seakan membanggakan dirinya sendiri. Huh kekanak-kanakan!
"Dara jangan membuat dirimu sendiri lelah! Kau juga manusia bukan robot!" Nasihat Sam pada sang pujaan hati.
"Hey Sam, kau kesini mau mengobrol dengan wanita itu atau-?"
"Eh iya maaf pak, saya hanya terlalu khawatir dengan kondisi Dara!" Jawab Sam kemudian menyerahkan kotak makan yang tadi dia beli kepada sang bos.
"Huh!" Dengusnya. Entah kenapa dia merasa kesal saat Sam memperhatikan Dara. Apalagi melihat respon wanita itu. Padahal kan dirinya yang bersusah payah membawa Dara sampai ke klinik dan menyelamatkannya dari si tua bangka itu. Tapi Dara tidak sedikitpun mengucapkan terimakasih padanya. Itulah yang membuat Noel semakin kesal.