Heart Reflections

Heart Reflections
#6 Aku Janji Padamu



Kim Eunbi mendengus kesal. Dia ditinggalkan dalam keadaan pakaian terbuka yang koyak. Kakinya masih berdarah. Rambutnya semakin kisut akibat menahan si pencopet. Keadaan seperti itu mudah saja disalahpahami sebagai korban pelecehan seksual.


Sayangnya dia harus menunggu di tepi taman dengan satu-satunya jas milik Daniel sebagai penghangat badan. Tas selempang berisi dompet dan ponselnya tak sengaja terbawa oleh Daniel. Pemuda itu sudah menyelempangkan tas mungil Eunbi saat memanggul sang kekasih yang terluka lututnya. Daniel lupa mengembalikan tas itu. Buru-buru menghilang untuk mencari sesuatu.


Tak ada ponsel, tak ada uang. Eunbi malah kedinginan di awal musim semi. Mengomel soal Daniel yang tak bertanggung jawab. Meninggalkannya tanpa penjelasan ke mana sahabatnya yang naik level jadi pacar itu pergi.


“Dasar Daniel. Kenapa lama sekali. Ke mana dia sebenarnya, hah?” makinya tak karuan. Dia memilin ujung lengan jas. Berdecak semakin kesal. Kesabarannya pupus disebabkan rasa perih yang menjadi. Dia butuh obat untuk menyetrilkan luka. Gadis itu memiting pelaku tanpa sadar lututnya membentur aspal yang berbatu. Lukanya memang agak dalam.


Daniel sudah menawarkan Eunbi pergi ke rumah sakit untuk perawatan agar lututnya tidak memiliki parut. Sayangnya Eunbi menolak mentah-mentah dengan alasan buang-buang uang.


“Eunbi-ya, Eunbi-ya!” Suara Daniel muncul dari kegelapan. Daniel, pria yang mencintai Eunbi itu muncul dengan dua bungkus beda warna dan ukuran. Di tangan kanannya, sebuah kain kasa dan salep baru saja Daniel beli di apotik yang agak jauh. Sedang aroma harum sandwich menggoda dari bungkus plastik satunya.


“Syukurlah kau di sini. Aku takut kau sudah hilang,” kata Daniel masih mengatur napas. Dadanya sesak ingin meledak. Dia menarik lengan Eunbi agar duduk kembali ke bangku besi yang dingin.


Plak!


“Aduh!” Tak terhitung berapa kali Daniel kena tampar Eunbi sejak mengenalnya. Gadis itu punya kebiasaan memukul Daniel. Pada pemuda lain, dia tidak melakukannya, kecuali kalau sikap mereka melampau batas. Untuk malam ini saja, Daniel sudah menghitung enam belas kali merasakan tamparan cinta dari gadis bertemperamen tinggi.


“Sedang apa kau?” semprot Eunbi. Pasalnya Daniel tiba-tiba menarik kaki Eunbi ke pangkuan Daniel. Hal ini menyebabkan Eunbi risih. Sebelumnya Daniel terang-terangan melihat robekan gaun Eunbi. Tentu saja ulah Daniel mengagetkannya.


“Hanya mengobati lukamu. Diamlah!” balas Daniel yang mengomel.


“Shireo (tidak mau)!” tepis Eunbi kasar. Dia menarik kain kasa dan salep dari genggaman Daniel.


“Ya. Gunakan tanganmu untuk makan sandwich saja. Aku ingin mengobati lukamu!” dumel Daniel tak kalah keras mendebat Eunbi. “Aku dokter cintamu, arra?”


Eunbi mendelik. Tangannya siap menjambak Daniel. Tak tertahankan emosinya. Bad mood semakin menjadi. Ingin sekali Kim Eunbi mencampakkan Daniel, tetapi dia tak sanggup mematahkan hati lebih banyak orang. Sikapnya bisa menyambungkan harapan sekaligus keputusasasaan bagi banyak pihak. Kim Eunbi butuh timing yang pas untuk melakukannya.


“Pertempuranmu tadi berakhir epic. Masalahnya lututmu yang terluka. Diam sajalah, atau kucium kau nanti.” Daniel mengancam dengan suara sensual yang dibuat-buat.


“Bicara apa kau, Dan? Kujadikan—“ Ucapan Eunbi terputus. Sebab Daniel menyerang keningnya dengan cepat. Sentuhan lembut itu sesaat mengejutkan si titisan Nyonya Park. Ya, bila Kim Eunbi melanjutkan karir sebagai pendidik di Universitas Haneul.


“Geumanhae. Kau menggemaskan kalau marah,” ucap Daniel sungguh memuji Eunbi. Dia tersenyum manis dan mengelus puncak kepala Eunbi.


“Berhenti bilang begitu. Aku tak tahan mendengarnya!” omel Eunbi, kakinya lemas berada di pangkuan Daniel. Dia lebih rileks dengan maksud Daniel segera mengobati lukanya. Semakin keras kepala, semakin gencar Daniel menggodanya.


Demi Tuhan! Kenapa harus Daniel yang mengejarku mati-matian? Memangnya tidak ada laki-laki waras yang lebih baik apa? pikir Eunbi merana. Karbonmonodioksida dia hempaskan dengan kasar lewat rongga mulutnya. Gadis itu menyerah untuk bersiteru. Dia merasa sebagai pengasuh Park Daniel yang kekanakan.


“Ya, Park Daniel Pabo (Bodoh)! Siap-siap saja kau patah hati. Siapa tahu aku jatuh cinta sungguhan dengan pemuda yang lebih manly dibandingkan dirimu, Dan!”


“Andwae (Jangan)! Kau hanya boleh jatuh cinta padaku. Aku priamu, arrasseo?”


Tangan Daniel sibuk mencubit kedua pipi Eunbi dengan gemas.


“Lepas!”


“Shireo!” Daniel memonyongkan bibir Eunbi. Bibirnya sendiri tak kalah mengerucut seperti ikan pollack. Hendak mencuri kesempatan untuk mencium Eunbi.


“DANIEL!”


“Aduh!”


Tangan Eunbi berhasil meninju perut Daniel. “Cepat obati kakiku. Sebelum jam malam muncul. Aishh dasar lamban!” perintah Eunbi dengan arogan.


Pasangan itu masih saja bersiteru. Daniel telaten mengobati luka itu. Sayangnya mulutnya tak pernah bisa disaring. Seringkali dia menggoda Eunbi dengan memijat paha gadis itu. Sampai akhirnya sebuah jeweran keras menghentikan ulahnya yang nakal. Walau jadian, sulit sekali menakhlukkan hati sang serigala betina yang disukai Daniel.


“Bagus ya. Malam inagurasi sudah usai, kalian masih mesra-mesraan di sini, hm?” Suara itu mencetuskan suasana angker. Sesaat keduanya membeku. Kompak menatap arah belakang.


Nyonya Park, si pengawas putri yang kondang akan tampilan seksi itu bertelekan pinggang. Atribut pesta telah ditanggalkan. Riasan untuk pesta telah raib tanpa sisa. Nyonya Park mengenakan setelan training-nya yang biasa.


“Nyonya Park,” panggil Eunbi tergagap. Sibuk menutupi robekan gaunnya.


“BALIK!” teriaknya kencang. Mengakibatkan dua sejoli berhamburan tak tentu arah menuju asrama masing-masing. Kim Eunbi terpincang-pincang, belum tuntas diberi perban untuk menutupi lukanya.


Bahkan dua sandwich hangat itu tertinggal, menyebabkan Nyonya Park cengar-cengir ketiban camilan malam.


“Ada untungnya juga menjadi pengawas asrama,” gumamnya lantas menyomot salah satu panganan sedap itu.


NOTE :


Aegyeo : Bersikap menggemaskan.