
Eunbi melangkah gontai. Hari ini dia harus menghadiri latihan. Namun Nyonya Park mencegatnya di ambang pintu asrama.
“Ada apa, Nyonya Park?” tanya Eunbi ingin tahu. Manik berbalut lensa abu-abu itu menatap wajah Nyonya Park yang berdiri santai.
“Aku menerima pengajuan salah satu mahasiswi yang minta dicarikan teman sekamar. Kau keberatan menerima teman sekamar yang baru?” tanya Nyonya Park langsung.
“Aniyeyo.” Eunbi menggelengkan kepala. Asal teman sekamarnya bisa disiplin dan bersih, Eunbi akan baik-baik saja.
“Dia ingin secepatnya pindah kamar. Kau bisa meninggalkan kuncinya pada dia kan?”
“Tak masalah, Nyonya Park. Aku bisa menunggunya. Kapan dia memindahkan barang? Aku bisa membawakan barang-barangnya,” ujar Eunbi mulai menggulung lengan kemeja.
“Ah itu dia,” tunjuk Nyonya Park ke arah belakangnya.
“Seohyun?” tanya Eunbi tak percaya pada telinganya. “Yoon Seohyun ingin pindah di kamarku, Nyonya Park?”
Anggukan Nyonya Park merupakan konfirmasi yang valid. Salah satu sudut bibir Eunbi terangkat tinggi. Dia menyeringai, ingat bagaimana Seohyun menolak tawarannya semalam. Justru Seohyun yang masuk ke kandang singa dengan sendirinya.
“Setelah Yoon Sooji, aku sekamar dengan Yoon Seohyun. Rupanya aku berjodoh dengan marga Yoon,” sindir Eunbi pada Seohyun.
Muka juniornya merah padam. Tak tertahankan bagaimana Yoon Seohyun sekarang. Dia ingin punya teman sekamar, namun Nyonya Park malah menjebloskan Seohyun ke kamar gadis yang ingin Seohyun hindari.
“Nyonya Park, saya—“ Seohyun hendak membatalkan pindah kamar, tetapi pandangan Nyonya Park mengarah pada Eunbi.
“Baguslah. Eunbi-ya, temani Seohyun. Aku mau senam aerobik dulu. Bye!” Nyonya Park pergi sekenanya. Meninggalkan dua gadis itu di ambang pintu gerbang.
“Ayo angkat barang-barangmu. Aku harus latihan setengah jam lagi,” ajak Eunbi menarik lengan Seohyun.
“Eonni—“ Seohyun tak mampu menemukan kalimat yang tepat. Langkahnya hanya bisa mengikuti jejak Eunbi menuju lantai tiga.
“Barangmu banyak atau sedikit?” tanya Eunbi saat sampai di pintu kamarnya.
“Lumayan,” balas Seohyun enggan.
“Chankamman (Tunggu sebentar).”
Eunbi mengeluarkan anak kunci dari saku. Dia membuka pintu lalu masuk untuk meletakkan tas. Ketika keluar, Eunbi menyeret sebuah koper besar.
“Kemasi barang-barangmu dan pindahkan ke sini. Agar tidak repot bolak-balik menuju kamarmu dan kamarku,” jelas Eunbi mengabaikan kecanggungan Seohyun.
Seohyun mengutuki diri. Sesal menggerayangi sekujur tubuh. Kenapa dia tak bisa bertahan sedikit saja di kamar horor itu saja? Andaikan tidak penakut, pasti dia baik-baik saja.
“Kalau kau tidak menyukaiku karena Daniel, aku tak akan marah, Seohyun-ah. Perlu kau ingat, aku tak bisa menghentikan perasaan Daniel untuk tetap menyukaiku.”
“Kenapa kau begitu peduli padaku, Eunbi Eonni?” tanya Seohyun dingin. Bola mata itu menampakkan kilau kristal yang sebentar lagi meleleh.
“Karena kau keluarga Sooji. Jadi kau keluargaku juga. Aku begitu dekat dengan mereka.”
“Tapi kau bukan keluargaku,” balas Seohyun. Suaranya bergetar dipenuhi rasa tak suka.
“Memang kau bukan siapa-siapaku, tetapi aku harus menjagamu, karena kau sudah masuk otoritasku.”
Eunbi langsung pergi ke kamar paling ujung. Pintu kamar Seohyun tidak dikunci, jadi Eunbi langsung mengemasi barang-barang Seohyun.
“Jangan sentuh barangku!” hardik Seohyun.
“Lakukan sesukamu, Yoon Seohyun. Katakan pada Nyonya Park kalau kau ingin sendirian. Semoga beruntung!” tandas Eunbi segera keluar. Dia meninggalkan koper di ruang yang peuuh dekorasi mewah milik penghuni sebelumnya yang tak lain Yura.
Eunbi memilih pergi ke gedung kampus secepatnya. Tak tahan harus ribut di hari pertama mereka sebagai teman sekamar.
Seohyun langsung turun ke lantai satu. Dia mencari Nyonya Park. Sayang pembatalan usulan pindah kamar tak bisa dilakukan. Apalagi kamar yang Seohyun tinggali saat ini bakal disegel. Praktis Seohyun tidak punya kamar lagi kecuali di kamar Eunbi.
Hari yang suram untuk Seohyun. Dia kembali ke kamar, mengemasi barang. Tiga kali bolak-balik, akhirnya dia bebas menata barang di tempat yang dulunya diisi oleh kakak sepupunya.
Seohyun mengamati beberapa potret persahabatan antara Sooji dan Eunbi. Di sana, terselip foto empat orang. Dua pria mengapit dua gadis. Deret mulai kanan terdiri dari Sungwoon, Eunbi dan Sooji, Daniel. Keempatnya kompak tertawa menghadap kamera dengan cengiran yang sama. Bahagia menikmati masa SMA yang bahagia.
Seohyun tersenyum sekilas. Senang melihat foto itu. Daniel tidak di sebelah Eunbi. Sooji pernah cerita, mereka selalu bersama. Padahal Sungwoon dan Daniel adalah kakak tingkat mereka.
Seohyun membelalak tak percaya. Di belakangnya, ada wajah kecil tak sengaja tertangkap kamera. Itu wajah Seohyun, sedang mengamati Daniel dari belakang. Seohyun ingat, itu hari kelulusan Daniel. Saat itu, semua siswa SMA diwajibkan datang ke sekolah guna melepas kakak tingkat yang akan melanjutkan hidup.
“Itu aku,” gumamnya tersenyum kecil.
“Sedang lihat apa?” tanya seseorang dari balik pintu. Tiba-tiba saja mengakibatkan jantung Seohyun kaget tak karuan. Eunbi melempar tasnya lagi. Dia merebahkan diri di kasurnya yang ada di ranjang atas.
“Aniyeyo.” Rasa gengsi Seohyun kembali lagi. Dia langsung melanjutkan aktivitasnya. Menata barang secara terburu-buru.
Eunbi tak membantu. Kelasnya dibubarkan karena dosen berhalangan hadir. Jadi dia memilih tidur setelah membuka ponselnya. Daniel sedang menelponnya, ingin mengajak makan siang. Tetapi Kim Eunbi terlalu malas bertemu siapapun hari ini.
Teman sekamar itu masih canggung, terutama Seohyun yang membenci Eunbi karena menjadi pacar Daniel. Hanya waktu yang bisa mengulur hubungan ini. Hanya kejadian yang bisa menarik interaksi. Mungkinkah bila Daniel berhenti mencintai Eunbi, Yoon Seohyun akan bersikap baik pada Eunbi? Tak ada yang tahu, kecuali Seohyun itu sendiri.
*****
Wah wah waah..... mulai gelud nih dua ciwi² kece di asrama. Gimana keseruannya?