Heart Reflections

Heart Reflections
#2 Retakan yang Tak Merekat



Suasana kafe lenggang tanpa diisi pengunjung. Kebanyakan sedang menghadiri malam inagurasi. Hanya mereka berdua yang menjadi pelanggan. Eunbi memilih duduk di salah satu kursi terdekat di jendela. Daniel yang menyadari pun meminta Eunbi memilih kursi lain.


“Ayo pindah. Dingin,” ucap Daniel.


“Aniya (Tidak). Aku ingin duduk di sini. Pesta tadi membuatku sesak,” balas Eunbi setengah berbisik.


“Aigo... Kukira kalau sakit bagaimana?” Daniel mengerucutkan bibirnya, sedang berpikir. “Baiklah. Sesukamu saja. Aku mau pesan minuman dulu, kau mau apa?” tanya Daniel melirik banner berisi menu di salah satu dinding.


“Latte saja,” balas Eunbi enggan.


Daniel menghampiri pelayan yang ada di balik konter. Dia kembali beberapa menit kemudian dengan segelas latte hangat bergambar hati dan sepiring brownis. Cengiran bodoh tak absen menyertainya.


“Kenapa pesan satu?” protes Eunbi curiga.


“Minum dulu selagi hangat,” perintah Daniel menyendok brownis manis.


Eunbi menurut. Dia menyesap buih manis itu. Diletakkan cangkir itu di meja, lalu Daniel menyambar cangkirnya. Tangannya memutar dan langsung meminum di bagian bibir Eunbi menyentuh cangkir sebelumnya.


“Sedang apa kau?” Dahi Eunbi berkerut bingung. Heran pada perilaku ganjil Daniel.


“Kau akan memukulku kalau aku menciummu. Jadi biarlah cangkir ini yang kucium,” balas Daniel terkekeh pelan.


Malam masih saja tenang. Daniel selalu mengajukan pertanyaan yang ditanggapi datar oleh Eunbi. Jelas bahwa cinta itu sangat sepihak. Mau bagaimana lagi, sulit rasanya meminta putus di saat Daniel tebar cinta pada Kim Eunbi. Apalagi banyak yang mendukung pasangan fenomenal di Universitas Haneul. Sang pesenam galak mampu membius hati Casanova macam Park Daniel. Tak heran, dengan kehadiran Eunbi membuat kaum adam di Universitas Haneul dirudung suka cita. Setidaknya mereka kebagian gadis cantik.


“Oh, itu, Seohyun!” tuding Daniel saat mengalihkan pandangan ke jendela. “Ah... Dia dengan Seongwoo,” tambahnya lagi dengan nada yang merendah.


“Kenapa? Kau mau mengganggunya?” balas Eunbi dengan mata menyipit.


“A... Aniya. Aku hanya ingin menyapa mereka. Haruskah kita mengundang mereka duduk di meja kita? Jika ramai lebih seru.” Daniel berkelit. Dia tak enak hati dengan sikap Eunbi.


“Jangan ganggu mereka Dan. Tidakkah kau sadar betapa sulitnya hati perempuan saat melupakan pria yang disukainya malah membenciku? Mungkin Yoon Seohyun tidak sekuat aku saat melihat Sungwoon Sunbae bersanding dengan Sooji,” ucapnya lirih.


“Aigo.... Arasseo (Mengerti). Aku tak akan menyapa mereka,” sahut Daniel sebal.


Dia sangat memahami perasaan Eunbi. Namun, lebih tak suka mengingat kenangan kelam mereka. Daniel tahu diri, dia hanyalah pelarian hati Eunbi untuk melupakan Sungwoon. Memang sulit mengubah hati Eunbi untuk seratus persen tertuju padanya. Daniel mulai sadar, posisi Seongwoo sama persis dengan dirinya sekarang. Seohyun sedang belajar melupakan Daniel dengan cara mencintai Seongwoo.


“Maaf, aku membuat mood-mu kacau. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain?” Usulan Daniel untungnya disambut baik.


Daniel mengamit lengan Eunbi. Keduanya berjalan dengan tenang. Semilir angin menyeruak, menyebabkan genggaman mereka semakin erat. Betapa menentramkan suasana seperti ini. Langit cerah. Mereka merencanakan hari esok untuk mengisi CV di berbagai perusahaan. Daniel yang malas kuliah mulai berambisi. Belakangan ini dia kuliah dengan benar. Segala tugas dikerjakan secepatnya. Pemuda itu mengejar waktu. Tahun ini harus lulus bersama sang kekasih.