Heart Reflections

Heart Reflections
#21 Pacar Baru



Eunbi menatap kosong Daniel. Tadi kakak kembarnya bertanya. Sekarang Daniel. Memang ada apa dengan diri Eunbi?


“Aniya.”


“Kelihatannya ada sesuatu yang serius, apa pelatihmu memarahimu? Apa kau...” Daniel berhenti sejenak untuk memikirkan reaksi Eunbi sebagai dampak ucapannya, “bertengkar dengan ibumu lagi? Yang mana?”


“Pelatihku. Karena lututku masih sakit, aku kesulitan menyinkronkan dengan musik. Dan tanganku terkilir. Ini saja masih sakit. Kalau kau tidak menghabiskan minumanku, tentu saja kalengnya jadi kompres!”


Eunbi mengerucutkan bibir. Kesal memandang kaleng yang Daniel buang sembarangan.


“Mwo? Tanganmu terkilir? Mestinya pergi ke klinik. Kajja!” Daniel menyeret Eunbi hendak ke klinik. Eunbi menahan langkah mereka dan menginjak kaki Daniel lagi.


“Paboya! Pikirmu kau bawa aku ke mana, hah?” gertak Eunbi.


Daniel terkekeh pelan. Sadar bahwa mereka hendak menerobos pintu asrama putra. Bakal geger dua asrama itu jika tahu Eunbi seenaknya melenggang di asrama putra.


“Klinik,” jawab Daniel polos.


“Tak usah. Besok saja aku ke sana!”


“Perlu aku temani?”


Eunbi bungkam. Akhirnya dia mengangguk. Daniel tetap akan menyusulnya walau dilarang.


Keduanya kembali duduk bersisian di tanah. Menikmati langit yang pekat berbalut awan tebal. Daniel merentangkan tangan Eunbi. Dipijat dengan pelan bagian yang terluka.


“Pikirmu mau memijat ke mana?” tegur Eunbi menyadari tangan genit Daniel. Daniel secara sengaja memijat bagian lengan atas bagian dalam yang membuat Eunbi geli. Dipelototi Daniel kesal.


“Tidak. Tidak,” jawab Daniel buru-buru memijat dengan benar. Tangannya turun ke bagian siku.


“Awas macam-ma—”


Ucapan Eunbi terjeda. Daniel mencium kening Eunbi dengan cepat disusul kekehan senang.


“PLAK!”


Kali ini bahu Daniel yang kena tamparan Eunbi. Sang kekasih sebal sekali dengan mata mesum Daniel. Semestinya Daniel bersama gadis lain. Dalam hati Eunbi menjerit penuh siksa. Berharap memiliki pacar berkualitas dalam sikap. Daniel benar-benar, ya ampun, menjengkelkan sekali. Apalagi Eunbi benci skinship.


“Ayo kita putus. Lihat, siapa yang tak bisa hidup?” tantang Eunbi membuang napas keras-keras.


“Eo. Menderitalah sesukamu. Aku tak peduli. Kubilang aku tak mencintaimu. Jadi perasaanmu sesudah ini bukan urusanku,” balas Eunbi kalem nan menohok.


Jantung Daniel jumpalitan. Dia tak rela malam ini berakhir sebagai sahabat lagi.


“Andwae....” Daniel mencolek lengan Eunbi, berlagak menggemaskan.


“Aku tak punya cadangan kekasih. Seohyun saja sudah punya Gong. Aeri oke-oke saja. Tapi aku tak tahan dengan bau susunya. Ayolah, mianhae. Aku hanya bercanda. Toh aku tak macam-macam kalau akalmu masih waras. Kalau kau luluh, barulah aku yang khilaf,” papar Daniel beralasan.


TAK!


Eunbi menyentil kening Daniel. Betapa gemasnya Kim Eunbi pada Daniel yang kadar mesumnya di luar batas. Penasaran sejak usia kapan Daniel mengerti hal-hal erotis.


“Sudahlah. Aku pulang ke asrama saja. Besok harus pergi ke klinik. Jemput aku jam dua siang,” kata Eunbi berusaha menyembunyikan senyum. Pasalnya Daniel sedang memamerkan dua gigi depannya yang mirip Dunky, tokoh keledai dalam kartun Sherk. Padahal banyak yang menyamakan Daniel dengan kelinci, Eunbi tetap yakin Daniel mirip Dunky.


“Assa. Kita kencan besok?”


“Siapa yang kencan?” Eunbi sewot sekali.


“Uri (kita).” Dada Daniel berdesir. Inilah hebatnya bila sedang jatuh cinta. Menyebut mereka sebagai ‘kita’ sangatlah menyenangkan bagi Daniel.


“Sesukamu saja, Park Daniel.” Eunbi menyerah berdebat. Dilemparkan selimut Daniel tepat di mukanya.


“Paling tidak, cucilah kain lusuh ini. Baunya kecut sekali!”


“Yah... Padahal aku berharap kau akan membawanya karena dingin. Besok kau akan mengembalikannya dengan keadaan bersih dan wangi,” gumam Daniel pura-pura kecewa.


“Mworagoyo?” tanya Eunbi, matanya berbahaya. Kode merah.. Daniel menciut salah omong.


“Pikirmu aku binatu, Daniel-ah? Sinting kau ya. Kemari kau!” Eunbi hendak menjewer Daniel yang kabur duluan. Sebab hal paling menyakitkan disiksa Eunbi adalah jeweran yang membuat telinga berdenging dan berdenyut lima hari.


“Aishh.... Semoga saja aku bisa melupakan Ha Seungwoon dan jatuh cinta dengan siapapun yang tampan, asal tak semesum Daniel,” rutuknya kembali ke asrama, melalui pintu rahasia yang aman tak terjamah oleh mata pengawas asrama


*****


Bagaimana cerita ini? Suka kan sama kapel si NielBi?