Heart Reflections

Heart Reflections
#14 Sepuluh Tahun



Tiga jam lamanya Kim Eunbi berkutat dengan . Pita sepanjang dua meter itu merah mencolok. Memutar, menarik, menjulurkan, melempar dan menangkap. Dia berimprovisasi untuk menemukan gerakan indah.


Peluh tak henti mengalir. Dia kelelahan. Salahnya sendiri melewatkan sarapan. Konsentrasinya pecah sejak awal latihan. Segala gerakan dia sesuaikan dengan irama lagu. Tetapi performanya menurun. Gerakan Eunbi terlambat setengah tempo. Tak pelak sang pelatih marah-marah soal kinerja yang buruk itu.


“Pertandingan di depan mata. Apa kau menganggap ini arena bermain, Kim Eunbi?” hardik Pelatih Shin begitu saja. Hilang kesabaran menemukan kesalahan dalam langkah kaki Eunbi. Dia heran mengapa anak didiknya tidak berlatih dengan benar. Kondisi Eunbi tak ubahnya pesenam amatiran.


“Maafkan aku, Pelatih. Aku merasa pusing,” balas Eunbi menggenggam erat gagang pita. Eunbi khawatir bakal jatuh pingsan kalau tak memiliki pegangan apapun.


“Tidak ada pusing-pusingan. Kau sehat. Ayo, lakukan dari awal!”


Gadis itu tak punya pilihan. Mendebat Pelatih Shin hanya akan menambah hukuman. Latihan ini kelewat intensif. Dia tidak boleh berhenti untuk sekadar minum. Pelatihnya terus memaksanya berlatih mulai dari awal, sekecil apapun kesalahannya. Pitanya terlilit dua kali. Nyaris saja Eunbi tergelincir yang membuat cedera. Pelatih Shin tetap tak peduli. Sampai akhirnya Pelatih Shin menyudahi sesi lathihan itu. Menyerah untuk mengomeli Eunbi.


“Aku akan menyerahkan kesempatanmu masuk Taerung kalau besok masih seperti ini,” kecamnya sebelum keluar dari ruang yang luas itu.


Kosong lagi. Hampa. Napas Eunbi tersenggal. Dia langsung ambruk memegangi pergelangan kakinya. Entah sejak kapan dirinya kehilangan kendali. Tak bisa menyelaraskan gerakan dan musik. Semua badannya mendadak kaku bila sudah berada di ruang latihan. Padahal dalam sebulan ke depan, Eunbi akan bertolak ke Spanyol untuk pertandingan senam indah.


Memikirkan Jaehwan saja, terkadang Eunbi berdesis nyeri. Apalagi Jaehwan sedang menciduk popularitas. Saudaranya baru saja memenangkan kontes survival di TV. Tak heran penggemarnya bertambah. Semakin menjadi ibunya menyayangi Jaehwan. Eunbi, putrinya yang berusaha keras mendulang prestasi, sama sekali tak dianggap.


Jaehwan tak jelas arah masa depannya mau ke mana. Impiannya sejak awal menjadi hakim, surut karena kasus ayahnya. Sang ayah menyerang seorang pria yang menjadi pria idaman istrinya. Tak terima, si korban melaporkan penyerangan itu ke kantor kepolisian. Padahal Kim Minwoo adalah korban perasaan sang istri yang berkhianat. Hatinya jauh lebih terluka dibanding fisik pria – yang kini menjadi ayah tiri si kembar Kim.


Sepuluh tahun lamanya, Kim Minwoo meringkuk di penjara. Semuanya bermula dari keterangan Jaehwan yang menjelaskan apa yang dia lihat. Jaehwan tak tahu, alasan ayahnya menyerang pria itu.


Akhirnya, Jaehwan membanting minat dan bakatnya ke musik. Dia merasa tak pantas menjadi hakim. Sebab keadilan tak diperoleh sang ayah kandung. Untungnya hubungan Eunbi dan Jaehwan membaik. Jaehwan bersyukur akan keterbukaan hati Eunbi. Mau memaafkan diri Jaehwan. Sebagai balasan syukur itu, Jaehwan banyak membuat lagu. Setiap hari mengirim rekaman suara, meminta saran pada Eunbi, mana melodi yang indah untuk dijadikan sebuah lagu.


Seringkali Eunbi dibuat jengkel, meminta Jaehwan tak lagi mengirim pesan-pesan yang memenuhi memori ponsel. Namun Jaehwan masih saja gigih meminta saran. Berdalih bahwa lagu itu khusus didedikasikan pada Eunbi.


*******


Besok ada kedekatan Jaehwan dan Eunbi. Jangan lupa kasih bintangnya ya gaes. thank you.