
Seohyun melempar asal coat-nya. Jatuh begitu saja ke samping ranjang. Dia pun ikut membanting tubuhnya ke atas kasur asrama. Menangis sepuasnya di atas sana, sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
Rasanya sakit.
Sesak.
Bagaimana tidak? Dia tidak habis pikir, gadis bodoh itu akan datang menemuinya. Menyebut namanya saja Seohyun muak. Apalagi melihat wajahnya. Dia bahkan benci menatap cermin. Cermin selalu membuatnya ingat kepada saudari kembarnya itu.
Tidak ada satu pun kenangan berharga yang sudah dia lalui bersama Saeron. Semua bentuk ketidakadilan itu sudah terjadi sejak mereka kecil. Tak ada yang bisa dimengerti dengan mudah oleh Seohyun kecil. Yang dia tahu, seluruh keluarganya lebih memilih untuk memberikan perhatian penuh pada sang adik. Sementara dirinya, harus berjibaku dengan kerasnya hidup seorang diri.
Itu menyulitkan.
"Wae?! Wae?! Wae ireohke appeuda?! (Kenapa rasanya sesakit ini?)" Seohyun berteriak sekeras-kerasnya. Melampiaskan rasa sesak yang selama ini sudah dia tahan.
Berusaha untuk bersikap biasa saja dan terkesan cuek, nyatanya tak bisa menutupi hatinya yang kian rapuh, tergerus dendam yang tak pernah pudar membara.
Seolah bersikap ketus dan dingin, namun pada kenyataannya, dia tak setegar itu. Tawanya yang terkadang membuat telinga Seongwoo sakit, itu hanya topeng untuk menutupi luka di hatinya. Seohyun tidak sekuat itu. Berdiri sendiri melawan dunia yang semakin mencekiknya.
"Kenapa aku harus terlahir, jika mereka sama sekali tak menggubris keberadaanku? Apa aku patung? Apa aku mayat?" teriaknya menggebu-gebu. Seolah berbicara pada kedua orang tuanya. Mengutarakan kalimat yang tak pernah berani dia katakan selama ini.
Eunbi yang berada di depan pintu, urung untuk masuk. Keningnya mengerut, tangannya tergantung di udara, bersiap untuk memutar handle pintu.
"Seohyun? Bukankah tadi—?" Kalimatnya ikut menggantung. Kepalanya malah bertambah sakit. Baru saja dia melihat Seohyun bersama Seongwoo di kafe. Belum lama dia dan Jaehwan makan, tiba-tiba Seohyun sudah berada di kamar sambil menangis dan berteriak. Tidak selemah dirinya yang dia lihat tadi.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Ada Seohyun di sana. Terkejut, saat melihat Eunbi yang juga berada di depan pintu.
"Ah—aku—itu—baru saja sampai."
Seohyun tak menggubris sama sekali keberadaan seniornya itu. Dia lantas pergi dengan jaket ber-hoodie yang menutupi wajah sembabnya. Sudah terlalu lama dia menangis. Dia muak jika terus-terusan berada di dalam kamar.
Ruang latihan senam.
Ia buka hoodie-nya, lalu melemparnya asal. Pakaian khusus latihan sudah dia pakai. Melakukan sedikit pemanasan dan peregangan otot sebelum memulai latihan, sambil menarik cairan yang tak henti-hentinya mengalir dari lubang hidungnya.
Matanya masih terus saja menangis.
Setelah dirasa cukup, dia langsung menyalakan musik. Alunan musik bertempo lambat mulai menggema di dalam ruangan luas yang sudah dilapisi sebuah karpet khusus di atas lantai.
Ia menari mengikuti irama lembutnya musik menggunakan bola khusus yang biasa digunakan untuk alat senam indah.
Jiwanya mulai terbang tinggi. Larut dalam balutan musik yang terus mencengkram jiwanya untuk merasakan kenikmatan tiada tara. Melupakan sejenak rasa sakit yang sebelumnya membuat hatinya hancur.
Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Seongwoo di sana. Menatapnya serius di depan pintu yang terbuat dari kaca. Senyum di bibirnya mengembang. Kagum pada sosok Seohyun yang terlihat begitu mempesona, saat tengah fokus pada latihannya. Meski dia masih junior dan belum memiliki penghargaan apapun, kemampuannya tidak bisa diragukan lagi.
"Mwohae? (Sedang apa?)"
"Kkapjagiya (Ngagetin aja)!" seru Seongwoo terkejut, saat suara menggelegar memenuhi indra pendengarannya. Dia sontak menoleh, dan melihat tubuh molek Pelatih.Kwon.
"Kau, sedang apa di sini?" tanyanya ketus. Sifatnya yang seperti itu, sudah menjadi rahasia umum. Dewi cantik jelita yang memiliki hati sedingin es. Siapapun pasti akan tunduk padanya.
Seongwoo, dengan cengiran bodohnya, membuat Pelatih Shin merapatkan bibirnya kuat-kuat. Menahan tawa, karena raut wajah itu sungguh menggelikan. Wajah takut yang menggemaskan. Seongwoo langsung angkat kaki dari sana.
"Dasar anak muda."
********
Btw terima kasih untuk para pembaca yang mampir ke cerita aku dan Aurelia ya . ^^