
Pesta penyambutan mahasiswa angkatan 2018 masih berlangsung. Suasana riuh diisi musik mengentak. Alunan yang mengundang siapa saja untuk menari. Jika pun bicara, harus berteriak di dekat telinga lawan bicara. Hal ini terjadi karena kencangnya sound system. Hiruk pikuk itu menyebabkan seorang atletik muda bernama Kim Eunbi memilih menyendiri di suatu sudut. Ditinggalkan teman-temannya yang berjibaku dengan pesta. Sayangnya, sosok lain selalu mengikutinya.
Daniel masih saja bergelayut manja di bahu sang kekasih. Segala rayuan terlempar ke udara, tak mampu diserap telinga Eunbi. Dan sebagai imbalan kata-kata memabukkan itu, Eunbi memukul tangan nakal Daniel. Cubitan dan tamparan tak hentinya menyerang pemuda kelahiran Desember itu. Daniel tak kunjung kapok juga menggombali Eunbi.
Malam inagurasi yang manis di awal bulan April ini sangatlah menyenangkan. Terlalu kontras dengan pasangan tersebut. Gadis itu dongkol bukan main berada di pojok pesta, memaksa Daniel duduk di salah satu kursi. Dia benci disuruh dansa di tengah aula. Kakinya tak pandai untuk menari. Ajakan Daniel penuh paksaan. Dia janji akan mengajari cara berdansa yang baik, tetapi Eunbi tahu, Daniel pandai membual. Dia tak pandai menari. Kakinya hanya bisa mengolah bola.
“Kemarikan jasmu, Dan!” perintah Eunbi masih judes seperti biasa.
“Aigo, wae? (Ya ampun, kenapa?) Apa perlu kubuka kemejaku sekalian, biar puas melihat badanku. Perlukah kita mengadakan permainan panas?” tanya Daniel sembari berkedip. Sebuah isyarat berbahaya yang sukses membuat pipi Eunbi merona.
PLAK!
“Aduh!”
Jidat indah Park Daniel kali ini menjadi sasaran. Eunbi melotot sebal. Daniel masih saja menggodanya. Andaikan status mereka saat ini bukan sebagai pasangan kekasih, tentu saja Eunbi tak keberatan Daniel mengatakan hal semacam ini pada orang lain. Bisa dia bayangkan Cha Aeri dan Yoon Seohyun, penggila Daniel mati bahagia mendengar kata-kata itu.
“Kenapa kau menyentil dahiku?” protes Daniel menggosok bagian yang kena jentik Eunbi. Daniel yakin dahinya tergores kuku Eunbi yang dimanikur sore tadi.
“Jika bicara yang aneh-aneh, aku pergi!”
“*Aigo.... *(Seruan kaget yang berarti ya ampun, ya Tuhan) Kau marah? Baiklah maafkan aku. Nah ini, jas yang kau minta.” Daniel menyampirkan jas ke pundak Eunbi.
Gadis itu tersenyum lega. Awal musim semi ini, dia merasa nyaman menggunakan jas. Bahunya tidak akan terekspos begitu saja.
“Aku malas ada di sini. Haruskah kita pergi?” tanya Eunbi penuh harap. Untuk acara tahunan yang diselenggarakan kampus, biasanya Eunbi antutias selaku panitia. Namun tahun ini dia tidak bisa ikut serta. Pada saat pertandingan di Spanyol, pendaftarannya sedang dibuka. Tak ada lagi lowongan yang bisa diisi Kim Eunbi saat membujuk Kabag Kemahasiswaan.
“Pergi ke hatiku saja, bagaimana?” tanya Daniel merentangkan tangan, sedang menyongsong pelukan dari Eunbi.
“Mati saja kau Dan. Berhenti bicara yang aneh-aneh!”
Eunbi mengabaikan Daniel. Gadis itu memilih keluar dari acara yang sangat membosankan. Di belakangnya Daniel masih mengekor, keberatan meninggalkan acara yang paling menyenangkan untuknya. Bagi Daniel, ini kesempatan untuk lovey dovey ke sembarang orang.
“Kau ingin ke mana?” tanya Daniel, tangannya memeluk bahu Eunbi.
“Ke kafe,” balasnya enggan.
“Mengapa ke sana? Bukankah ini lebih baik?”
“Entahlah. Aku tak suka suasana yang ramai,” tanggap Eunbi menyingsing sebagian gaun yang membelit kakinya. Gadis itu lebih suka mengenakan celana ketimbang gaun ketat. Dilemparkan sepatu hak ke Daniel. Dia memutuskan jalan bertelanjang kaki.
“Ya,(Hei!) kenapa sepatumu dilepas? Sini kugendong,” kata Daniel sebal. Dia berlutut dengan satu kaki membelakangi Eunbi, bermaksud menanti sang kekasih menyandar di punggung Daniel. Sayangnya Eunbi mendorong Daniel ke arah lain. Tak sudi.
“Jangan bermimpi menirukan lakon drama, Dan. Jika tidak, kubunuh kau!” kecamnya tanpa ampun.
“Aigo.... Aku punya pacar tidak ada romantisnya sama sekali,” keluh Daniel putus asa. Tampak merana akan nasib percintaannya. Salah siapa jatuh cinta duluan? Gadis itu selalu saja menyebabkan atensi Daniel bak roller coaster. Melonjak tak karuan. Melandai dalam kecepatan gila. Selalu menantang adrenalin.
“Kalau kau tak suka, enyahlah,” damprat Eunbi tanpa emosi.
“Ya. Aku hanya khawatir kakimu lecet. Sudahlah, naik ke punggungku atau kugendong kau seperti pengantin. Aku bebas menciummu semauku,” ujar Daniel tak gentar. Sebuah perhatian yang menjurus ranah berbahaya bagi Kim Eunbi.
“Aish... Pria gila!” Eunbi berbalik ke arah Daniel. Gadis itu menyingsing roknya ke atas yang mengekspos pahanya. Hal ini tak luput dari perhatian Daniel. Matanya kelewat lapar.
“Nah begini baru benar. Romantis,” kicau Daniel mulai bersenandung.
Saking bahagianya, Daniel melaju dengan cepat menuju kafe terdekat. Kelewat senang bisa menggendong Eunbi. Napasnya yang terengah tak akan bisa membendung tenaga pemuda itu.