Heart Reflections

Heart Reflections
#22 Cepat



Malam semakin larut, namun Pelatih Lee masih setia memerhatikan Seohyun dan Seongwoo yang sudah kelelahan karena berlari mengitari lapangan basket indoor.


Itu sudah putaran yang ke-21 kali. Kaki Seohyun ingin copot rasanya.


Karena kecerobohan Seongwoo yang menciumnya di koridor kampus, mereka berdua terpaksa mendapatkan hadiah istimewa dari pria paruh baya itu. Salahkan Seongwoo yang tak pernah bisa menahan perasaannya sendiri. Selalu saja melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dulu. Seohyun saja heran, sebenarnya pemuda itu punya otak atau tidak.


"Ya! Ppali (Cepat), ppali!" teriak Pelatih Lee keras, saat netranya menangkap Seohyun yang mulai menurunkan tempo berlarinya.


Wajah putih mulus itu semakin terlihat pasi. Bibirnya sudah kering dan pucat. Seohyun sudah benar-benar tidak sanggup lagi jika harus berlari 50 putaran. Ingin sekali rasanya menyiksa wajah tampan kekasihnya itu. Ah, bahkan untuk berpikir pun, Seohyun sudah tak sanggup.


"Seohyun-ah, gwaencanha?" bisik Seongwoo, saat langkahnya kini sejajar dengan Seohyun yang sudah kepayahan.


Gadis itu bungkam. Membuka suara sedikit saja, dia benar-benar tak sanggup.


"Itu hadiah dariku untuk kalian. Seharusnya kalian sadar, apa yang sudah kalian lakukan di area kampus!" omel Pelatih Lee kesal. "Dan kau, Gong Seongwoo! Kau mau aku depak dari tim?! Bodoh! Kau bahkan membolos latihan penting!" ucapannya terus merepet ke mana-mana. Membuat telinga Seongwoo gatal.


Langkah Seohyun tiba-tiba berhenti. Membuat Seongwoo ikut berhenti dengan wajah bodohnya, karena penasaran. "Waegeurae, Seohyun-ah?!"


"Ya! Kenapa kalian berhenti?!" Pelatih Lee buru-buru ambil langkah cepat mendekati keduanya dengan wajah penuh amarah. Digenggam erat tongkat ajaib miliknya. "Ya! Kalian mau melawanku?!”


"Ya! Sikkeuro (Berisik)! Kalian tidak bisa diam?" teriak Seohyun. Akhirnya dia meledak. Terlalu lama menahan emosi, membuatnya lepas kendali. Bahkan, Pelatih Lee pun ikut terdiam. "Aku lelah! Jangan membuat hidupku lebih lelah lagi! Kalian menyebalkan!"


Alih-alih meminta maaf karena kelancangannya pada Pelatih Lee, Seohyun malah melenggang begitu saja, meninggalkan Pelatih Lee dan Seongwoo dengan langkah satu-satu. Seolah penatnya sudah hilang. Seohyun benar-benar muak, berada di sana terlalu lama dan mendengarkan ocehan Pelatih Lee yang tak bermutu itu.


"Ya, Seongwoo-ya, ada apa dengan gadis itu?" bisik Pelatih Lee pelan. Dia merasa takut melihat sikap frontal anak asuh Pelatih Shin itu. Pelatih dan muridnya memang tak jauh beda.


"Cepat kembali ke kamarmu! Awas saja kalau aku sampai menemukanmu tidak ada di kamar!" ancam Pelatih Lee, serius. Menatap lekat manik hitam Seongwoo. Mengintimidasinya.


Lagi-lagi Seongwoo hanya bungkam. Menganggukkan kepalanya pelan. Dia pun sudah sangat kelelahan hari ini.


—HEART REFLECTIONS—


Seohyun membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kamar terlihat remang, karena lampu utama sudah dia matikan.


Tubuhnya sungguh terasa sakit. Bahkan untuk digerakkan pun rasanya sulit. Dia membuang napasnya berat.


Roommate-nya, Kim Eunbi, belum juga datang. Entah ke mana gadis itu, Seohyun tak mau terlalu memikirkannya, karena akhirnya dia pasti akan merasa kesal sendiri, saat membayangkan gadis itu tengah menggandeng mesra lengan Daniel. "Andwae, andwae," gumamnya pelan. Menggelengkan kepalanya cepat. Mengenyahkan segala pikiran anehnya.


Ia menenggelamkan wajahnya di bawah selimut. Menutupi seragam tidurnya yang kebesaran.


Lagi-lagi dia kembali memikirkan perihal pertemuannya tadi dengan Saeron. Dia sebenarnya malas untuk memikirkan kejadian tadi. Mengingatnya saja, dia sudah malas. Namun, seperti ada sesuatu yang aneh di antara Saeron dengan Seongwoo.


Jika dipikir-pikir, entah sejak kapan Seongwoo pindah haluan. Biasanya Seongwoo sangat kesal jika melihat Seohyun menangis dan ingat akan perlakuan kasar keluarganya.


"Sebenarnya, ada apa dengan laki-laki itu?" gumamnya bingung. Menerawang jauh, memaksakan logikanya untuk berpikir.


Melihat dari sikapnya, Seongwoo seolah ingin mendamaikan dirinya dengan Saeron. Bukankah itu aneh?