
Eunbi geram sekali. Seohyun seenaknya saja keluar asrama saat jam malam sedang berlangsung. Tidakkah dia tahu konsekuensinya berkeliaran di area asrama? Nyonya Park tak pernah memberi ampun untuk penghuni yang melanggar aturan.
Sekali pun Eunbi baru saja pulang dari halaman belakang melalui pintu rahasia, tetapi rasanya terlalu salah membiarkan Seohyun keluyuran tak jelas. Disusul langkah Seohyun dari belakang. Tak pernah sehati-hati ini berada di luar kamar, was-was pengawas wanita bakal memberi detensi lagi untuk Yoon Seohyun. Seohyun terlihat sangat kepayahan. Dia tahu hal ini lewat pesan Daniel. Daniel baru berpapasan dengan Seongwoo yang kena detensi lagi di lorong. Mereka berdua sedang berada di atap, insomnia lagi.
Pacar Seohyun memang membuat keributan di seberang sana. Suaranya jelas mengejutkan banyak orang. Cepat-cepat Eunbi menuju atap asrama, mendapati Seohyun berada di ambang pembatas. Perutnya sedang bersandar di pagar. Kakinya terangkat sedikit, tamatlah riwayat sepupu Sooji itu.
Dada Eunbi berdesir hebat. Dia ngeri melihat orang yang menyandarkan tubuh di pagar pembatas. Kedua kakinya terasa berat, namun dia memaksa untuk mendekati Seohyun.
“Seohyun-ah, gwaencanha. Kemarilah. Aku akan membantumu. Jebal,” bujuk Eunbi lembut.
Sayangnya Yoon Seohyun menganggapnya angin lewat. Dia melirik seberang gedung dengan tajam. Semakin kesal mendengar teriakan Seongwoo. Mengungkapkan perasaan cinta di waktu tidak yang tepat.
Siapapun benci hubungan mereka terekspos di tempat umum. Apalagi mengganggu orang tidur. Seohyun tercekat. Dia malu sekali melihat Daniel sedang memegangi Seongwoo yang mendadak gila. Ketakutan bukan main. Hilang pikiran hanya karena Seohyun sedang bersandar di pagar dengan sebagian badan menjulur ke bawah.
“Ya, Gongceongie! Na jukeosipeo anigeotun!” balas Seohyun yang menjerit. Dia kembali ke kamar, menabrak Eunbi.
Eunbi kesal. Tak hanya bahunya saja. Kini sikunya semakin nyeri. Disusul langkah cepat Seohyun di kamar mereka. Eunbi mengunci kamar dari dalam. Anak kunci milik Seohyun yang masih menancap di lubang pintu pun dia simpan dalam saku, memastikan Seohyun tidak seenaknya keluar kamar nanti.
“Ya,” panggil Eunbi menarik selimut juniornya. Semakin Eunbi pikirkan, dia kesal saja pada sikap tak sopan Seohyun.
Seohyun balas menatap tajam Eunbi. Badannya langsung memunggungi ketua asrama begitu saja.
“Lepaskan aku. Aish!” bentak Seohyun. Dia benci disentuh Eunbi. Tak bisakah malam ini dia menenangkan diri tanpa gangguan siapapun? “Apa sih maumu?”
“Duduk. Setelah itu aku akan berhenti mengganggumu,” gertak Eunbi semakin memaksa Seohyun duduk di ranjang.
Atensi Seohyun menjadi. Tetapi dia menuruti sang penghuni lama kamar itu. Dia memalingkan wajah ke mana pun, asal tak melihat wajah Eunbi.
“Apa salahku, Yoon Seohyun?” tanya Eunbi dengan lugas.
Seohyun memejamkan mata. Derai air mata nyaris pecah lagi. Memang apa salah Eunbi? Hanya karena dia kekasih pria yang Seohyun sukai, Eunbi harus menerima perlakuan tak adil seperti ini.
“Eobseoyo (Tidak ada)!”
Eunbi tak percaya. Terlebih lagi Seohyun meneriakinya. Bahasa tubuhnya menunjukkan kejujuran bahwa dia benci setengah mati pada Eunbi.
“Malhaebwa! (Ngomong) Yang jujur! Tatap mataku!”
******
Apa salah Eunbi? Makin sengit aja drama dua pesenam indah ini. Tunggu bab selanjutnya ya. Makasih yang udah suka cerita ini.