Heart Reflections

Heart Reflections
#23 Jangan Mati



Pintu kamarnya terbuka. Roommate-nya akhirnya datang. Mood Seohyun menjadi semakin buruk.


Alih-alih memberi salam, Seohyun malah keluar begitu saja dari dalam kamar. Membiarkan sunbae-nya itu sendirian dengan raut bingung.


Jaket ber-hoodie yang dia sambar dari gantungan, kini tengah melilit tubuhnya. Dia rapatkan jaket itu erat-erat. Pikirannya sudah menerawang terlalu jauh. Membuat kepalanya sakit bukan main. Mungkin udara malam bisa membuatnya rileks sejenak. Gadis itu sampai di atap asrama. Sebuah tempat yang cocok untuk menenangkan diri.


Dipandanginya lamat-lamat suasana sekitar asrama yang tampak lengang. Tak ada siapapun yang lewat, kecuali seseorang yang tengah mengendap-endap untuk membuka pintu pagar pembatas asrama putra dan putri.


Keningnya mengernyit penasaran, seketika dia terkekeh. Dia tahu pasti siapa orang itu. Cha Aeri. Gadis yang dulu dijadikan saingan untuk merebut perhatian Park Daniel


"Ckkk!" Decakan sebal keluar dari mulutnya. Menertawakan kebodohannya sendiri, karena masa lalu yang begitu memuakkan namun indah. Masa-masanya saat berjuang merebut hati pemuda tampan yang mirip anak anjing itu.


Seohyun sudah berusaha berbesar hati, namun dia tak sekuat itu. Nyatanya, dia masih saja dihantui rasa cemburu saat memikirkan apa yang sedang Daniel dan Eunbi lakukan bersama. Seongwoo saja tidak cukup untuk mengalihkan pikiran gadis itu dari Park Daniel. Miris.


Senyumnya kembali mengembang, saat melihat Aeri sudah naik ke lantai dua asrama putra. Selangkah lagi, dia akan sampai di ruang laundry, tempat biasa Daniel bersemayam saat malam hari. Apalagi kalau bukan mencuci baju, dan yang pasti, pemuda itu hanya memakai celana pendek dan kaos kebesaran. Dia ingat momen itu dan diam-diam merindukannya.


"Seongwoo-ya, mianhae. Jinjja mianhae," gumamnya. Meski dia sudah berusaha untuk membuka hatinya pada Seongwoo, Seohyun tetap saja tak bisa melupakan Daniel.


Tubuhnya terasa lunglai. Dia menyandarkan perutnya pada dinding pembatas. Mirip seperti orang yang ingin bunuh diri. Seohyun tak peduli. Dia hanya sedang merasa kelelahan.


"Ya! Seohyun-ah! Jangan bunuh diri!"


Teriakan keras menggema di sekitar lorong dari kejauhan. Menepis kesunyian yang sempat terjadi. Membuat Seohyun terkejut, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Melihat ke arah seseorang yang berteriak.


"Dasar bodoh!" dumelnya dalam hati, saat melihat beberapa orang mulai keluar satu per satu dari kamar. Saling mengintip dari celah pintu untuk mencari asal teriakan Seongwoo. Memfokuskan atensinya hanya pada Seohyun yang sudah merasakan malu. Kekasihnya itu memang menyebalkan.


"Seohyun-ah, jebal! Jangan mati! Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu!" Lagi-lagi si bodoh itu berteriak. Di belakangnya sudah ada Daniel yang memegangi tubuh Seongwoo agar tenang.


Ia terus menunduk malu, terlebih saat Eunbi datang mendekatinya dengan perlahan. "Seohyun-ah, gwaencanha. Kemarilah. Aku akan membantumu. Jebal," pinta Eunbi lembut.


Seohyun hanya bisa mendecak sebal, lalu menatap Seongwoo di seberang sana dengan tatapan kesal.


"Ya! Gongceongie! Na jukeosipeo anigeoteun (Aku tidak ingin mati)!" jerit Seohyun frustasi, lalu pergi begitu saja menuju kamarnya. Menabrak bahu Eunbi dengan perasaan malu yang luar biasa.


NOTE :


Gongcheongie : Gabungan dari marga Gong dan Meongceongi (bodoh), artinya Si Gong yang Bodoh.


*Gemes sama tokoh yang mana nih?


Seohyun atau Eunbi?


Atau mungkin Seongwoo dan Daniel?


Kalo Ravenura dan Aurelia gemesnya sama bias masing-masing. Kibar kapelnya sendiri. wkwkwkw*.