Heart Reflections

Heart Reflections
#3 Saudara



“Copet! Copet! Kejar dia! Aduh tasku! Aku tak bisa pergi ke Amsterdam dengan tasku!” jerit suara yang familier di telinga Eunbi dan Daniel.


Sosok gelap bertudung sedang berlari dengan kecepatan penuh. Wajahnya pias. Dia bak banteng sedang menggila. Dan bendera merahnya adalah Kim Eunbi.


“Eunbi-ya, awas!” seru Daniel berusaha menarik kekasihnya, tetapi Kim Eunbi malah melepaskan tautan mereka.


Ada suara robekan gaun. Gadis itu menendang dada si pencopet. Gemblengan keras Pelatih Shin mampu membangun mental Eunbi. Sebelum terjun di senam indah, Eunbi adalah karateka. Dengan tangan kosong, gadis itu berhasil meringkus si pencopet.


“Aigo... Begini ya kelakuan manusia zaman sekarang. Nah, rasakan perbuatan amoralmu. Daniel-ah, telepon polisi. Cepat!” bentak Eunbi mati-matian menahan si pencopet.


Daniel malah takjub dengan robekan gaun Kim Eunbi. Imajinasinya membentang jauh meninggalkan sang kekasih beradu kekuatan dengan si pencopet.


“DANIEL!”


“Eoh, wae?” tanya Daniel, benar-benar pemuda bodoh.


“Ya, pencuri gila! Beraninya mencuri tasku.” Seohyun muncul di belakang mereka. Napasnya terengah kehabisan udara. Seongwoo pun demikian. Berusaha mengejar si pencuri tas. Seohyun yang hilang kesabaran menggebuk kepala si pencuri dengan tangannya.


“Ya, Seohyun-ah, jangan pukuli dia. Kau bisa masuk kantor polisi kalau begini. Dan, telepon polisi sekarang. Sedang melihat apa sebenarnya kau hah?” hardik Eunbi semakin kesal saat menyadari arah mata Daniel. “Dasar mesum. Ya!”


Daniel belum pulih dari lamunannya. Akhirnya Seongwoo yang mengambil alih pitingan pada si pencuri. Eunbi langsung menghantam tas kecilnya ke kepala Daniel agar sadar. Jas yang dikenakan Eunbi langsung dilepas. Dia mengikat lengan jas ke pinggang untuk menutupi paha yang terekspos itu.


Dengan cepat, Kim Eunbi menghubungi polisi. Sungguh tak berguna memiliki kekasih seperti Daniel saat ini. Pikirannya mudah teralihkan ke hal-hal bersifat badaniah.


Keempat orang itu masih menahan si pencuri sampai polisi mengambil alih. Mereka diminta keterangan di kantor polisi. Sayangnya Eunbi menolak. Dia ingin cepat pulang ke asrama dan berganti pakaian yang nyaman.


“Eunbi Eonni, gomawo (terima kasih),” panggil Seohyun kikuk.


Yoon Seohyun tersenyum penuh syukur sekalipun hatinya meledak. Memangnya siapa yang masih rela pujaan hatinya dimiliki gadis lainnya? Apalagi Eunbi adalah rival terkuat selama memburu Daniel. Dengan catatan, Eunbi tak melakukan usaha apapun untuk menggaet Daniel. Berbeda dengan gadis itu. Dia melakukan apa saja, sampai nekat menyelinap masuk ke asrama putra malam-malam pada saat ulang tahun Daniel tahun lalu. Imbasnya Seongwoo kena masalah demi melindungi Seohyun dari hukuman berat.


“Sudahlah, kau sebaiknya pulang,” balas Eunbi dengan nada bersahabat.


“Jinjja? Wah aku tidak merasakan sakit sama sekali. Sudah ya, aku pulang duluan. Ayo, Dan!” Eunbi menarik lengan Daniel.


Daniel tak kalah paniknya. Dia membujuk Eunbi agar lekas diobati. Tetapi gadis itu menggelengkan kepala. Tak sudi diseret ke balai pengobatan kampus ataupun rumah sakit.


“Hei, Yoon Seohyun, kapan-kapan kalau aku kesulitan menghubungi Sooji, boleh kutanyakan kabarnya padamu?” Eunbi mendadak berbalik arah untuk menatap Seohyun.


“Ye?”


“Kau itu kan sepupunya. Dan keluarga Sooji sudah kuanggap keluargaku sendiri. Jadi kau keluargaku juga, benar kan?” tanya Eunbi terkekeh pelan.


“Ye?” ulang Seohyun tak pasti.


Eunbi kembali melanjutkan langkah. Setelah tahu dirinya terluka, dia menyadari rasa sakit di lututnya. Jadi Daniel lagi-lagi menggendong Eunbi dari belakang.


Anehnya Seohyun tidak cemburu melihat mereka seperti itu. Lebih khawatir dengan keadaan Eunbi yang terluka.


NOTE :


--ah : Partikel akhiran nama yang digunakan untuk memanggil orang yang lebih muda atau sebaya. Partikel –ya digunakan untuk huruf vokal, semntara partikel –ah digunakan untuk huruf konsonan.


Eonni : Panggilan perempuan untuk kakak perempuan.


Ye : Ya. (Formal)


Omo : Ya Tuhan.


Jinjja : Benarkah?