Heart Reflections

Heart Reflections
#19 Energi Sejuta Terajoule



Eunbi tak bisa tidur. Pikirannya terlalu penuh akan rasa cemas. Dipegangi tangannya sejak tadi. Gadis itu sibuk mencari minyak oles di sudut meja dan lemarinya. Nihil.


Turun ke bawah pun enggan. Apalagi sang pelatih bakal mendepak Eunbi sebagai perwakilan kampus dalam pertandingan persahabatan. Sebagai seorang pesenam, pantang mengalami cedera.


Kini lihatlah apa yang terjadi. Eunbi melukai dirinya sendiri. Pelatih Shin tak akan menoleransi Eunbi. Dia menekankan kemenangan harus ada dalam genggaman, sekali pun sang atlet menjerit sakit diterpa cedera.


Tak ada pilihan. Eunbi terpaksa turun ke bawah dan membeli sekaleng minuman isotonik dari vending machine. Perasaannya membaik kala sensasi dingin menyentuh epidermisnya. Dia duduk di salah satu bangku, sembari menanti isinya menghangat sendiri. Disingkap roknya sedikit. Luka di lututnya dipenuhi bercak coklat yang mengering.


Lekat dalam telinganya, Pelatih Shin mengomel tanpa henti. Semua badan Eunbi adalah aset. Tak boleh ada setitik luka yang mengganggu kelenturan dan keseimbangan sang pesenam. Eunbi malah diteriaki tak bertanggung jawab. Terlalu bodoh untuk peduli pada orang lain, saat Eunbi menjelaskan kenapa dia terluka. Ditambah lagi, dia terkilir di tangan.


Eunbi belum punya cukup keberanian untuk datang ke klinik yang tersedia di Universitas Haneul. Pelatih Shin akan mengganti pesenam lainnya kalau ketahuan kena flu. Apalagi masuk klinik untuk sekedar konsultasi.


Tak ada pilihan. Eunbi akan memeriksa di rumah sakit lainnya. Atau membeli analgesik di apotik yang bisa dititipkan lewat Jaehwan. Menyuruh Park Daniel pergi ke apotik sama saja membocorkan rahasia. Sama saja seperti meneriakkan kesalahan Eunbi di telinga Pelatih Shin dengan lantang. Daniel pasti akan memborong banyak obat yang tak perlu.


Bila sebelumnya Eunbi tak ambil pusing atas decak iri teman-teman pesenam, hanya karena dia selalu terpilih masuk kontingen utama, maka hari ini dia berbeda.


Persaingan. Dia rasakan tekanan itu. Jiwanya kali ini kompetitif. Keinginannya satu. Merebut medali untuk membuktikan pada ibunya, bahwa dia punya ayah yang berhak menerima kasih sayang yang sama besarnya.


Park Daniel.


Seperti biasa, mengajaknya keluar. Mengendap di sudut asrama untuk melepas rindu. Padahal mereka setiap hari bertemu, tetapi Daniel berlagak tidak bertemu satu dasawarsa lamanya.


Tanpa harus menjawab panggilan Daniel, Eunbi memutar arah. Menyelinap dari pintu rahasia yang Aeri, teman sebelah kamarnya bocorkan. Gadis onar itu tak sengaja keceplosan, bicara pada teman sekamarnya, persis di belakang Eunbi.


Semestinya Eunbi melaporkan ke Nyonya Park selaku pengawas asrama agar pintu itu disegel. Eunbi malah mengabaikannya. Disimpan informasi penting itu untuk dirinya sendiri.


Engsel pintu itu tak pernah berderit. Siapapun yang menggunakannya aman. Sebab ada yang menumpahkan baby oil alih-alih minyak ter ke engsel. Eunbi menduga, pelakunya adalah Aeri. Sebab Aeri pernah menanyakan apakah Eunbi punya baby oil beberapa bulan yang lalu.


Baguslah. Eunbi lebih suka tak bertemu Aeri. Gadis itu bakal meminta macam-macam agar kebandelannya tidak terendus. Apa jadinya sang ketua ikutan melanggar aturan asrama?


****