Heart Reflections

Heart Reflections
#30 Berita Buruk



Lotte World.


Di sinilah mereka sekarang.


Sebuah taman bermain terluas di Seoul. Beragam permainan luar biasa ada di sana. Mulai dari biang lala, roller coaster, bahkan rumah berhantu.


"Kenapa kita ke sini? Kita bukan anak kecil!" ujar Seohyun berbisik, saat keduanya akhirnya menginjakkan kaki di dalam.


"Ini adalah tempat kencan yang sempurna. Ayo, temani aku naik itu! Aku penasaran!" tunjuk Seongwoo pada area permainan roller coaster. Sebuah wahana berbentuk kereta yang meluncur sangat cepat. Jeritan mereka yang naik, bahkan sampai terdengar mengusik indra pendengaran Seohyun. Sepertinya itu ide yang buruk.


Seohyun menggeleng. "Shiro! Sepertinya itu menakutkan," tolak Seohyun ketus.


"Ya, jangan takut. Peluk saja aku, kalau kau tak kuat," usul Seongwoo menggoda. Menaikkan kedua alisnya. Itu menyebalkan.


"Jangan harap!" Seohyun segera melangkah cepat menjauhi Seongwoo. Pemuda memang menyebalkan, kalau sudah berpikiran aneh.


Perasaannya ketar-ketir saat duduk di atas wahana tersebut.


Di kanannya, ada Seongwoo yang sudah menatapnya aneh. Mereka diduk di kursi paling belakang. Posisi di mana rasa terlempar semakin kuat.


"Kkeokjeongma. Na yeogi isseo (Jangan khawatir. Ada aku di sini.)" ujar Seongwoo menenangkan. Menggenggam erat tangan Seohyun.


Wahanya dijalankan secara bertahap. Mulanya pelan, semua masih aman terkendali. Perasaan Seohyun masih cemas tingkat biasa. Seiring berjalannya waktu, teriakan keras mulai terdengar. Kalimat kutukan menguar, seiring wahana itu menghempas para penunggang.


Yang lebih mengejutkan, itu suara Seongwoo. Pemuda yang dari awal bergaya paling berani dan kuat, dia nyatanya malah berteriak paling keras. Menyumpahi sang pemegang kendali untuk menghentikan wahana. Seongwoo benar-benar ketakutan setengah mati. Nyawanya seolah ikut terhempas jauh. Runtuh bersama harga dirinya di depan Seohyun yang malah menatapnya jengah.


Lagi-lagi Seongwoo membuatnya malu.


"Aigo, aku tiba-tiba merasa tua mendadak," keluh Seongwoo.


"Seohyun-ah, mianhae, eoh?!" Langkah Seongwoo masih tak terarah. Memaksakan keduanya untuk berlari menyusul Seohyun. Kepalanya masih pusing bukan main. "Seohyun-ah, jebal," pintanya


Langkah Seohyun terhenti. Emosi sudah berada di puncak kepalanya. "Ya! Gong Seongwoo! Tidak bisakah kau membuat hariku tenang? Sekali saja?! Kenapa kau selalu seperti ini?! Aku merasa tersiksa! Aku merasa terbebani karena cinta yang kau berikan padaku! Aku lelah!" Lagi-lagi gadis itu meledak.


Wajah Seongwoo sudah memerah menahan tangis. Dia tak menyangka kalau Seohyun akhirnya akan begini. Sepertinya, dia salah mencari ide.


"Kenapa kau selalu membuatku kebingungan?! Kau tahu bagaimana perasaanku! Tapi kenapa kau masih berjuang?!"


"Seohyun-ah, aku—"


"Jangan menyelaku!" bentaknya. "Aku takut membuatmu terluka. Kau tahu, kan, kalau aku masih belum bisa melupakan Daniel Oppa? Aku tidak ingin menyakitimu. Jebal, ireohke hajima, (Tolong, jangan seperti ini.)" tangis gadis itu akhirnya pecah. Dia tak sanggup menaha rasa bimbang yang mendera pada batinnya.


Sejak pertengkarannya semalam dengan Eunbi, Seohyun sadar, jika dia sudah menyakiti Seongwoo secara tidak langsung. Memberikan harapan palsu padanya, alih-alih belajar mencintainya dengan tulus.


Seongwoo adalah pemuda yang begitu baik. Saking baiknya, dengan mudah dia dapat dibohongi. Seohyun sangat merasa bersalah.


"Jangan katakan apa pun lagi soal Daniel. Aku tulus mencintaimu. Apa pun yang terjadi." Seongwoo menggenggam tangan Seohyun erat. "Tidak masalah, jika kau masih mencintainya. Aku bahkan tidak pernah memaksamu untuk membalas perasaanku. Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Itu saja." Wajah tampan Seongwoo menunduk lemas. Pasrah dengan keadaan. "Termasuk mendamaikanmu dengan Saeron." Pandangannya kembali menegak. Menunggu reaksi gadis itu.


Rahang Seohyun mengeras. Diikuti bunyi gemeletuk gigi-giginya. Dia menahan emosi. Namun belum sempat melampiaskannya karena Seongwoo sudah membungkam bibirnya dngan jari telunjuknya.


"Dia sakit. Sangat parah. Kau hanya harus tahu itu saja. Selebihnya, tanyakan saja pada adikmu yang malang itu."


Dunia Seohyun seakan runtuh.


Sakit?


Ia tidak salah dengar, kan?