
Tangis Seohyun akhirnya pecah. Dia tak tahan melihat dua retina itu. Andaikan Daniel miliknya, Seohyun bakal bahagia. Andaikan saja Eunbi tak pernah hadir untuk Daniel, hidup Seohyun akan sempurna.
Gadis itu kalah telak dalam aspek apapun. Pesona Kim Eunbi susah ditandingi. Seohyun merasa tak ada apa-apanya dibandingkan Eunbi.
“Paling tidak, punyalah teman yang bisa kau ajak berbagi. Jangan diam menyalahkan siapa saja. Marah-marah tak jelas seperti ini. Kau itu kekanakan, Yoon Seohyun. Egois.”
Seohyun benci mendengar petuah semacam ini. Dia ingin menjejalkan kedua tangan ke telinganya. Tak mau mendengar kata-kata Eunbi, tetapi tangannya justru terkepal. Menahan semua emosinya kembali meledak.
“Di kafe tadi aku melihatmu menangis dalam dekapan Seongwoo. Kau punya masalah yang berat. Namun, itu tak akan cukup bicara dengan pacarmu.”
Seohyun tersentak. Eunbi melihatnya di kafe? Melihat saudari kembarnya? Membayangkan Saeron semakin menambah kebencian pada Kim Eunbi.
Seohyun beranjak dari kasur, dia berniat keluar kamar lagi untuk menemui Nyonya Park. Tak mau tinggal di ranjang yang pernah ditiduri sang kakak sepupu. Kamar itu terkunci.
“Mana kuncinya?” bentak Seohyun terus memaksa pintunya terbuka.
“Kau tak diizinkan keluar kamar.”
“Geumanhae! Jangan kau ganggu aku lagi, arra!”
“Aku tak akan berhenti mengganggumu,” putus Eunbi akhirnya. Lebih baik mengatur Seohyun. Eunbi tahu, Seohyun butuh sandaran. Dia tetap akan memaksa Seohyun bicara padanya, menjelaskan alasan sedetailnya.
Bila hati seseorang susah diketuk, tak ada pilihan lain selain mendobrak. Inilah yang Eunbi lakukan. Memaksa Seohyun bicara terus terang. Eunbi tak akan mengganggu selama belum mendengar jawaban yang memuaskan dari Seohyun.
“Molla!” sahut Seohyun ketus.
Tak bisa dipungkiri. Seohyun ingin terpilih. Tetapi itu memang alasan yang lemah untuk membenci Eunbi.
“Atau kau benci karena aku menjadi pacar Daniel?”
Bibir Seohyun bergetar. Air mata itu kembali luruh, jauh lebih deras tanpa isakan. Dia benci akan kebenaran itu. Dia ingin bisa menyembunyikan semua perasaannya dari siapapun.
“Kau boleh merebutnya lagi, Seohyun-ah. Toh aku tak mencintainya. Tetapi aku punya alasan kenapa mau menerima cinta seorang ******** macam Park Daniel.”
Seohyun menggelengkan kepala. Dia benci Daniel dihina seperti itu. Daniel adalah sosok sempurna di mata Seohyun. Tanpa cela. Bukan ******** seperti yang diucapkan oleh Eunbi. Terlebih lagi Seohyun tak tahan mendengar suara Eunbi. Dia tak mau menjadi tempat curhat gadis yang dia benci mati-matian.
“Aku menyukai Ha Seungwoon.” Pengakuan Eunbi jelas mengejutkan Seohyun. Dua bola matanya semakin melebar. Tak menyangka bahwa Kim Eunbi menyukai pacar dari sahabatnya sendiri.
“Apa kau pernah mendengar cerita Sooji bagaimana dia pindah ke sana? Alasannya tak masuk akal saja, mau merawat orang sakit. Padahal dia atlet yang bagus.”
Seohyun masih diam, tetapi sorot matanya haus akan penjelasan soal Sooji.
“Sepertinya dia tak akan cerita apa-apa padamu,” ucap Eunbi kembali menyeringai. Dia memijat sikunya lagi.
Yoon Sooji sangat tertutup. Tidak akan mungkin bebas menceritakan masalah pribadi, sekalipun ke Seohyun yang notabene adalah adik sepupu.
*****
Kebongkarnya rahasia Eunbi bakal bikin Seohyun gimana? Pantengin terus ya gaes.