Heart Reflections

Heart Reflections
#20 Parfum



Eunbi langsung menutup pintu dengan hati-hati. Tempat itu dipenuhi semak belukar yang rimbun. Hati-hati Eunbi menyusuri jalan setapak yang akan membawa ke halaman belakang asrama putra sebelahnya.


Siluet Daniel sedang duduk di bawah pohon terlihat jelas. Eunbi duduk di sebelahnya tanpa suara. Daniel langsung terkekeh senang. Disambut badan Eunbi dengan pelukan hangat serta selimut yang Daniel bawa.


“Kenapa bawa minuman satu? Punyaku mana?” tanya Daniel menyadari sekaleng dalam genggaman Eunbi. Daniel segera menandaskan minuman itu dengan cepat.


“Ya, itu minumanku!” Eunbi tak terima. Diinjak sepatu Daniel keras-keras.


“Augh.... Sakit sekali!” balas Daniel yang sedikit berteriak.


Eunbi segera menekap mulut Daniel. Khawatir pengawas asrama sedang jalan-jalan di halaman belakang.


Hukuman terberat adalah dikeluarkan dari kampus, bila ketahuan berduaan di area sekolah saat jam malam. Keduanya jelas pelanggar aturan paling pantang dilanggar.


“Hm... Tanganmu harum sekali,” goda Daniel cekikikan. Hidungnya mengendus telapak tangan Eunbi yang menekap mulut Daniel. Dia memberikan dekapan lagi. Terlalu senang bisa memeluk Eunbi. Bagi Park Daniel, pacarnya itu bagai energi sejuta terajoule yang meledakkan isi hatinya.


Dia akan bersemangat dalam hal apapun, asal bisa melihat Eunbi.


Daniel beruntung bisa mengencani sang sahabat yang dia kenal sejak SMA. Walaupun dia tahu, Eunbi belum bisa move on dari Ha Seungwoon. Gadis itu masih butuh waktu untuk benar-benar mencintai Daniel sepenuhnya.


Daniel tak masalah. Asal Eunbi tak mengusir Daniel seperti kucing buangan. Entah menjadi teman atau pacar, Daniel akan menganggap Eunbi sosok yang sama. Pemberi energi kehidupannya.


Setiap genggaman ataupun pelukan Daniel pada Eunbi, seolah menggambarkan betapa berartinya Kim Eunbi. Daniel sadar, dia bukan pria yang baik. Menggoda gadis lainnya sekadar candaan. Tetapi Daniel hanyalah pria yang setia pada gadis yang sama. Terus memancing kecemburuan Eunbi dengan berbuat onar. Yang didapat sebaliknya. Kim Eunbi membiarkan Daniel bersenang-senang, justru malah menyukai Seungwoon diam-diam. Padahal status Seungwoon dan Sooji sebagai pasangan.


Seohyun. Eunbi teringat lagi pada gadis yang terus menangis di depan matanya. Baik di kafe maupun di kamar mereka. Entah ini perasaan Eunbi atau apa, aura kedua sosok itu berbeda. Seohyun di kafe terlihat lebih lemah dan harus dilindungi. Sementara di kamar, Seohyun kembali ke sisi angkuhnya.


Benar! Eunbi tersentak dengan pemikirannya sendiri.


Parfumnya sangat berbeda. Apalagi penampilannya. Sejak pagi, Seohyun mengenakan celana jeans dan hoodie. Aromanya khas atletik. Penuh keringat akibat seringnya pemanasan. Sedang di kafe, Eunbi tak yakin akan aroma Seohyun. Mana mungkin Seohyun secepat itu ganti baju dengan gaun terusan dalam sekejab.


“Eunbi-ya nayana (pilih aku).... Saranghae....” dengung Daniel masih memeluk Eunbi. Dahunya yang tajam, ditekankan ke bahu Eunbi. Gemas.


“Minggirlah. Baumu tak enak,” sergah Eunbi mendorong bahu Daniel.


“Aku akan mandi begitu kembali nanti. Hari ini aku lelah sekali usai bertanding dengan Timnas Korea Selatan. Mereka sedang uji coba sebelum bertanding untuk Piala FIFA” gumam Daniel melepas tautan mereka.


“Bukankah itu kehormatan?” tanya Eunbi tak terlalu tertarik.


“Eo. Tentu saja, tetapi hari ini agak menakutkan. Walau hasil skor kami unggul, pelatih marah-marah dengan absennya Seongwoo,” beber Daniel mengabaikan reaksi dingin Eunbi.


“Pasti ada masalah,” ujar Eunbi setuju. Dia menebak Seongwoo sengaja tak bertanding demi menenangkan Seohyun. Barangkali masalah Seohyun jauh lebih berat dari kelihatannya. “Benar. Hari ini juga bukan hari yang baik,” lanjutnya lagi.


“Kenapa kau muram Eunbi-ya?” tanya Daniel penasaran