Heart Reflections

Heart Reflections
#15 Rekaman Suara



“Aku hanya terlalu merindukanmu, makanya kubuat lagu ini untukmu,” dalihnya pada suatu hari. Malam-malam saat hujan deras, Jaehwan mampir ke asrama Eunbi untuk memberikan rekaman suara.


Tetapi karena Eunbi buta nada, melodi itu tak ubahnya deheman orang mengantuk.


“Molla. Molla. Molla!” tegas Eunbi menampik rekaman suara. Dia menutup telinga dan matanya, sebab Jaehwan menyenandungkan lirik merdu itu. Jaehwan tahu, Eunbi harus mendengarnya langsung kalau rekamannya ditepis mentah-mentah.


“Pergilah, Kim Jaehwan. Atau aku akan membuatmu menginap di rumah sakit selama lima minggu!” ancam Eunbi lekas memasang kuda-kuda. Dia siap melumpuhkan Jaehwan dengan gerakan karate. Patah tulang pada tulang punggung tak ada salahnya bagi Jaehwan.


Mendengar ancaman itu, buru-buru Jaehwan pergi. Meninggalkan ponsel Eunbi yang berbunyi tanpa henti diberondong banyak melodi-melodi yang harus dia dengarkan.


Eunbi tersenyum mengenang kejadian beberapa waktu lalu. Sudah seminggu lamanya Eunbi tidak bertemu Jaehwan. Dia pun langsung menghidupkan ponsel untuk menghubungi sang kakak yang pernah dia anggap mati dalam kehidupannya.


Sebenci-bencinya Eunbi pada masa lalu nan kelam keluarga mereka, dia sadar, memaafkan yang telah terjadi jauh lebih mudah dan menentramkan dibandingkan mengungkit dalam bara dendam.


Toh mereka masih anak-anak saat ayah kandung mereka menghajar pria yang kini menjadi ayah tiri. Tak ada pilihan. Semuanya yang telah terjadi, tak akan bisa dijungkirkan kembali sebagaimana awal mulanya.


“Hei, Jaehwan-ah? Sibuk?” Eunbi mengirim pesan.


Tak lama kemudian, Jaehwan balas menelponnya.


“Tidak. Aku sedang buat lagu lagi,” kata Jaehwan bersemangat. Dari seberang, terdengar gema instrumental lembut. Dawai gitar sedang dipetik.


Eunbi menghela napas. Semestinya dia tak usah mengirim pesan pada Jaehwan kalau disuruh mendengarkan lagu-lagu ciptaannya.


“Ah, begitu, ya sud—“


“Tunggu sebentar. Aku akan mengajakmu makan. Kau ingin makan apa?”


“Entahlah. Apa saja,” balas Eunbi malas berpikir. Nafsu makannya sedang tidak ada saat ini.


Inilah ada untungnya dengan keberadaan Jaehwan. Jaehwan menyewa studio musik bersama teman-teman sekampusnya. Pemuda itu selalu mengajak Eunbi keluar bila sama-sama senggang. Terkadang Daniel cemburu melihat Eunbi menghabiskan waktu dengan saudara dibandingkan pacarnya sendiri.


Gadis itu bersiap-siap. Dia mengenakan jaket merah dan segera keluar dari pusat latihan. Terlalu penat berada di ruang yang penuh beban sebagai juara itu. Selain bersaing dengan lawan, menjadi atlet itu bersaing dengan dirinya sendiri. Banyak yang menilai Eunbi hebat, tetapi Kim Eunbi menyakini dirinya masih kurang. Hanya gadis biasa saja. Berjuang melakukan upaya terbaik tanpa ambisi berlebihan.


Kini dia terlalu lelah menjadi seorang atlet. Dia butuh istirahat sejenak.


Hei!


Langkahnya terhenti. Terlalu terperangah akan pikiran yang baru saja melintas. Eunbi ingin menyerah? Melepaskan semua mimpinya?


Tidak!, batinnya yang lain menjerit tak terima. Ingat kata-katamu di depan ibumu Eunbi-ya! Ayahmu sedang menunggu kedatanganmu di rumah lama kalian!


Kini langkahnya bimbang. Haruskah pergi menemui Jaehwan? Ataukah bertahan di dalam ruang pengap untuk berlatih?


Setelah dua langkah maju, gadis itu berbalik ke ruang latihan, menyetel ulang musik dan bermain dengan pita. Dia terlalu keras pada dirinya sendiri. Liburan tak akan ada gunanya. Sebab waktu pertandingan semakin dekat.


“Argghh.....”


Jeritan menggema di ruang kosong. Eunbi mendekap tangannya sendiri. Tak sengaja menginjak ujung pita. Dia terjerembab dengan siku membentur lantai. Eunbi meringis menahan rasa sakit. Dilempar gagang pita, putus asa karena sulit menangkap ujung pita sembari memelintir badannya.


*****


**Btw makaciwwww yang sudah mampir baca ke sini ya. Dukungan kalian mendongkrak semangat kami lho.


salam hangat


Ravenura dan Aurelia**.