Heart Reflections

Heart Reflections
#4 Kronologi



Bodoh, jika Seohyun tak merasakan hal aneh yang diam-diam mulai mengusik pikirannya saat melihat kedekatan itu.


Pemuda itu. Park Daniel.


Seohyun kira bisa dengan mudah melupakan cinta sepihaknya pada pemuda itu, setelah sekian lama mengasingkan diri ke Amsterdam untuk merenung.


Kehadiran Eunbi dalam hidup pemuda itu, memaksanya menyerah pada kisah cinta memilukan yang selalu saja berakhir dengan jatuhnya tetes demi tetes air mata yang seperti tak pernah ada harganya.


Setelah pemakaman sang ayah usai, luka kembali menggenangi hatinya yang kian rapuh. Bukan salam rindu yang Seohyun terima dari keluarga besarnya, melainkan caci maki yang mengatasnamakan dirinya anak durhaka, karena lebih memilih meninggalkan keluarga dibandingkan pendidikannya di Korea Selatan.


Bukan tanpa alasan Seohyun berbuat seperti itu. Semua karena orang tuanya lebih memilih Saeron dibanding Seohyun.


Jika sudah seperti ini, apakah Seohyun patut disalahkan? Orang tua memang egois. Mereka lebih mengutamakan pendapatnya sendiri, hingga mengesampingkan fakta, kalau Seohyun juga putri mereka. Putri yang layak untuk diperlakukan adil, seburuk apapun perilakunya.


Hatinya tergerak untuk kembali meninggalkan Amsterdam, bukan hanya karena perlakuan keluarganya, namun juga karena Daniel. Pemuda yang sudah lama dia kagumi. Jika terbesit sebuah pikiran untuk kembali karena Seongwoo, itu kesalahan besar, karena Seohyun tak semudah itu mampu membuka hatinya yang kian rapuh untuk dijamah penghuni baru.


Tidak.Tidak semudah itu.


“Seohyun-ah, gwaencanha (tidak apa-apa)?” Seongwoo mengelus pelan bahu Seohyun. Membuyarkan lamuan gadis menyedihkan itu. Sontak atensinya berpindah fokus pada manik hitam di sampingnya.


Seohyun hanya menanggapi dengan senyuman kecil.


Polisi datang, tak lama setelah Eunbi dan Daniel pergi dari lokasi tersebut. Mereka pun ikut membawa Seohyun dan Seongwoo ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas kasus penjambretan yang membuatnya terjebak di kantor polisi.


Udara malam yang dingin, semakin memeluk erat tubuh Seohyun yang mulai menggigil. Gaun yang dia kenakan memang tidak terlalu terbuka, namun tetap saja udara dingin terus bergelayut tanpa jenuh pada sebagian tubuhnya.


Disampirkan tuxedo hitam milik Seongwoo pada kedua bahu Seohyun. Seongwoo menatap gadis itu teduh. Seolah memberikan ketenangan atas perasaannya yang kian gundah.


“Saat kami ingin pulang dari acara kampus, pemuda itu tiba-tiba datang dan menjambret dompet kekasihku. Untung saja ada teman kami yang ikut membantu menghajar laki-laki sialan ini!” tutur Seongwoo penuh kekesalan.


Andai saja tadi bukan karena Seongwoo mengkhawatirkan Seohyun yang kesulitan berlari karena gaunnya menyulitkan, Seongwoo pasti sudah menangkap penjambret itu dengan tangannya sendiri. Bila perlu, dia akan menghabisinya saat itu juga. Namun Seongwoo pandai menyembunyikan perasaannya.


Alih-alih menumpahkan emosinya yang memuncak, dia lebih memikirkan kondisi kejiwaan Seohyun yang menurutnya kian hari makin memburuk.


Setelah pulangnya Seohyun dari Amsterdam bersama Sooji, sepupunya, Seohyun sudah tidak seperti Seohyun yang dulu. Ada sesuatu yang mengganjal perasaan Seongwoo saat pertama kali melihat Seohyun setelah lama tak bertemu.


Namun Seongwoo memilih bungkam. Tak ingin meributkan sesuatu yang menurutnya aneh. Dia membiarkan gadis itu lambat laun terbuka dengan masalahya, tanpa harus dia paksa.


Senyum mempesonanya memang masih sama. Seohyun bahkan tertawa lepas, saat tengah berkumpul dengan teman-temannya.


Salah satu yang menjadi tersangka sikap Seohyun adalah keluarga besar Seohyun. Seongwoo tahu dengan jelas, bagaimana bentuk ketidaksukaan keluarganya pada Seohyun. Itu yang menjadi dugaan utama alasan berubahnya sikap Seohyun. Belum lagi soal kepergian Shin Yura yang jelas-jelas membuat mood-nya semakin buruk, dan memilih untuk pergi meninggalkan pesta yang masih berlanjut itu.


“Kalau begitu, kau tandatangani surat pernyataan ini. Kami akan memproses tindakan selanjutnya,” ujar sang polisi.


Seongwoo hanya mengangguk, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas secarik kertas yang baru saja keluar dari mesin pencetak. Menyerahkan si pembuat onar itu pada pihak berwajib. Setidaknya, mereka baik-baik saja.


########


hayo hayo hayo....


sejauh ini gimana ceritanya? komen dong. thank you ya yg udah mampir. luph luph buat pembaca.