
Kim Eunbi berlari seperti biasa. Matanya yang berbingkai kacamata bulat sedang mengabsen satu per satu anggota asrama putri. Setelah itu dia membubarkan barisan untuk olahraga sendiri. Ada yang melakukan split, ada yang lari dan lainnya. Gadis itu melepas kacamata, lalu memilih duduk di salah satu bangku untuk perenggangan.
“Heol, punggung yang seksi. Jadi ingin memelukmu, Eunbi-ya.” Daniel bergabung di sebelahnya. Duduk bertopang dagu dengan mata berbinar. Badannya segar usai mandi. Terbukti dengan rambut basah disisir ke belakang.
“Pergi sana. Jangan ganggu aku!” usir Eunbi seketika. Dia berkonsentrasi pada aktivitasnya sendiri.
“Aigo... Aku tak akan mengganggumu. Hanya duduk di sebelahmu saja,” sangkal Daniel keras kepala.
“Matamu yang olahraga. Jelalatan ke mana-mana. Lihat apa kau hah?” Eunbi akhirnya sibuk menutupi jaketnya yang tidak di-risleting. Bukan main kesalnya memergoki Daniel sedang mengintip belahan dadanya.
“Mati kau, Dan!”
Keduanya berlari sekencang mungkin. Tawa Daniel meledak sampai-sampai semua pasang mata menyaksikan adegan yang sudah biasa namun tak pernah membosankan.
“Ya, berhenti di sana!”
“Tidak, aku mau lihat lebih banyak lagi!” tanggap Daniel mengerahkan semua kekuatan untuk berlari kencang.
Dia sedikit berharap Eunbi bukan gadis atletik. Sayang energi seorang Kim Eunbi tak pernah habis. Sampai akhirnya Eunbi berhenti sejenak. Daniel mencuri lihat di belakangnya. Betapa kagetnya Daniel menyaksikan sebuah sepatu melayang dan menghantam dahinya. Pelakunya malah pacarnya sendiri, yang tak sabar untuk merajam Park Daniel!
“Puas kau sekarang?” tanya Eunbi berkacak pinggang.
“Aigo, Eunbi-ya, cium dahiku sebelum benjol. Bibirmu adalah kompres paling mujarab untukku!” Tangan Daniel menunjuk bekas ujung sepatu menghantam dahi. Suaranya bergetar. Pening bukan main, tapi dia berusaha menemukan sosok Eunbi yang mendadak jadi empat bayangan.
“Chagiya, Kim Eunbi, Yeobo, di mana kau? Kenapa kepalaku pengar?” tanya Daniel lepas kendali. Akhirnya rebah di kaki Eunbi. Posisinya tak tertahankan. Sungguh mengenaskan nasib casanova yang tak kunjung bertobat itu.
Eunbi menutup mata. Tak tahan menjadi tontonan gratis.
“Aniya. Aku tak mau melepaskan belahan hatiku. Shireo! My life, my everything, I am sorry. Seriously.” Daniel berkata sok kebaratan pakai bahasa Inggris. Persis lakon drama nan tragis ala Romeo. Sayang Juliet-nya tidak bisa mendayu-dayu. Yang ada brutal bukan buatan pada sang kekasih.
“Hana (Satu)...” Eunbi mulai menghitung. “Deul (Dua)....”
“Baiklah baiklah!” Daniel mengalah. Cengiran bodoh menjadi pemandangan terakhir Eunbi sebelum Daniel hengkang dengan riang.
Eunbi menepuk dadanya, mengontrol suasana hati yang meledak-ledak.
“Aigo.... Aku ingin jatuh cinta sungguhan dengan laki-laki normal. Heran kenapa Daniel yang harus jadi pacarku. Ingin kucampakkan secepatnya kalau tidak berubah!” gumamnya tak karuan.
NOTE :
Chagiya : Panggilan sayang untuk pacar. Yeobo biasanya digunakan untuk pasangan suami istri.
*Edtaaaahhhhhh gemes nggak sama ulah Daniel? Minta ditabokin deh ya. Siapa yang pengen punya pacar lucu macem Daniel?
Besok masih ada moment Kangbi lho, Gengs. Masih ketagihan kan? Ya sudah, ditunggu komentar dan sukanya. Terima kasih gengs, sudah mampir ke lapak kami.
Woke dah edisi hari ini kepoin lapak Aurelia, judulnya Tell Me Why, gengs*.
Sudah completed kok. Kepoin ya buat yang maniak Nam Woohyun dan Park Chorong. Baper dah baper.