Heart Reflections

Heart Reflections
#27 Janji 20 Tahun Lamanya



Eunbi bangun lebih awal. Dia segera membersihkan diri dan melakukan pemanasan seperti biasa. Untungnya jadwal latihan yang akan dia lakoni berlangsung jam empat sore. Masih ada waktu untuk pergi ke rumah sakit.


Usai memimpin apel pagi, dia melakukan jogging. Dia mengarahkan kakinya ke luar gerbang asrama. Sengaja menggunakan baju training olahraga agar tidak ada yang tahu. Gadis enerjik itu menyimpan ponsel dan dompetnya di balik saku celana.


Lebih baik berangkat lebih awal. Siapa tahu Pelatih Shin memajukan jadwal latihannya. Eunbi ingin berlatih nanti saja. Tangannya masih susah digerakkan. Bakal bermasalah kalau Pelatih Shin menemukan tangan Eunbi yang terkilir.


Ia berlari sampai menemukan blok pertokoan yang ramai. Setelah memastikan tak ada siapapun yang melihat, dia segera mencegat taksi yang akan membawa ke rumah sakit.


Betapa tercengangnya atlet muda itu setelah serangkaian tes dia lakoni. Dokter menjelaskan tak ada masalah apapun terhadap Eunbi. Otot lengannya terlalu lelah menahan beban. Tulangnya baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat untuk memulihkan ototnya.


“Kenapa kau belum juga datang, Park Daniel?” dumel Eunbi tak karuan.


Di gerbang rumah sakit itu Eunbi sudah menunggu Daniel. Pesannya sejak subuh pun belum terbaca. Lima belas menitnya telah terbuang sia-sia.


Ini sudah hampir jam dua siang. Semestinya Daniel sudah menjemputnya sekarang. “Ah sudahlah. Mungkin sedang latihan.”


Eunbi memilih berpikir positif. Akhirnya Eunbi singgah di sebuah kafe yang menjajakan sandwich enak. Hari ini Eunbi melanggar janjinya. Lidahnya tak bisa menahan godaan seperti itu. Dia harus berlatih lebih keras lagi demi menurunkan berat badan.


“Eunbi, kau Eunbi kan?” sapa seseorang dari arah yang berlawanan.


Senyum memikat, tampilan segar dengan aroma wood lembut. Setelan kemeja berbalut jas putih membuat mata Eunbi memicing heran.


“Nuguseyo?” tanyanya.


“Eo. Kau tidak ingat? Hwang Minhyun. Ini aku, tetanggamu. Aku tinggal di bawah rumahmu. Ingat kan?”


Eunbi tercenung sejenak. Dia tak pernah merasa punya tetangga. Gadis itu bahkan tidak kenal dengan anak laki-laki itu.


“Kita pernah berjanji bakal menikah bila bertemu lagi saat itu. Kau menangis tak rela melihatku pindah. Ingat?”


“Neo?!” Eunbi kali ini terkejut menyadari siapa laki-laki bersetelan jas dokter itu. “NEO?” ulangnya masih tak percaya. Lantas Eunbi terbahak-bahak mengenali Minhyun.


“Astaga aku baru ingat. Kau yang selalu bermain dengan saudaraku. Mengomeli betapa joroknya Jaewhan. Minhyun Oppa, mianhae. Aku benar-benar lupa.”


“Tak masalah. Astaga... Sudah lama sekali. Hampir dua puluh tahun. Kau masih kecil sekali saat itu. Apa kabarmu, Eunbi-ya?” Minhyun memangkas sikapnya untuk bersikap formal setelah sekian tahun tak berjumpa.


“Kabarku baik. Kau kerja di sini?”


“Tidak. Aku melanjutkan magang di sebuah klinik universitas. Kebetulan hari ini aku hendak menemui kenalanku.”


Eunbi mengangguk kecil. Sangat luar biasa Minhyun mengenali Eunbi. Sekian tahun semestinya mereka tidak saling mengenal. Sebab wajah bisa berubah.


“Aku sebenarnya ingin mengobrol banyak denganmu, tapi kenalanku sedang menunggu. Boleh meminta nomormu Eunbi-ya. Sekalian saja ajak saudaramu. Kita reunian.”


Senyuman Eunbi mengembang. Dia mengeluarkan ponsel dari saku. Dicatat nomor yang Minhyun dikte. Minhyun sangat puas karena akhirnya mereka terhubung kembali.


Mereka berpisah dalam lambaian kecil. Minhyun melanjutkan langkah, semakin masuk ke bagian rumah sakit.


*****


eaaaaakkk ada pendatang nambah bumbu cinta. bagaimana kelanjutan cinta Daniel?