Heart Reflections

Heart Reflections
#5 Tak Lagi Sama



Alih-alih kembali ke asrama, Seongwoo malah memarkirkan kuda besinya di pinggiran Sungai Cheongye yang saat itu masih dipadati banyak orang. Dia hanya menuruti kemauan sang kekasih yang memaksa tidak ingin pulang sementara waktu.


Berada di asrama hanya akan membuat perasaan Seohyun semakin buruk, mengingat asrama itu banyak menyimpan kenangannya bersama Yura juga Daniel.


Jika bisa memilih, Seohyun ingin segera lulus dari kampus itu dan memulai hidupnya yang baru, jauh dari masa lalu yang semakin mencengkeramnya erat untuk tidak bisa berlari ke mana pun yang dia inginkan.


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kau harus menjaga kesehatan tubuh serta pikiranmu,” ujar Seongwoo yang sudah mendudukkan bokongnya di samping Seohyun. Memandangi pertunjukan kecil air mancur yang mengeluarkan warna-warna indah memikat mata dengan sekaleng minuman bersoda rasa jeruk kesukaan Seohyun. “Minumlah. Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.”


Seohyun menatap Seongwoo iba. Dia tidak mengerti, apa sebenarnya yang ada di dalam benak pemuda itu. Jelas-jelas Seohyun tahu, bahwa hatinya masih disinggahi Daniel, namun Seongwoo malah nekat semakin memperdalam perasannya pada Seohyun.


Seperti tengah menatap cermin. Seohyun mengerti apa yang sebenarnya Seongwoo rasakan.


Rasanya seperti ada jutaan pedang menghunus tanpa ampun hati kecilnya yang berharga. Sakit. Setidaknya, itu yang dia rasakan, saat mengetahui Daniel lebih mencintai Eunbi dibanding dirinya.


“Laki-laki bodoh!” Seohyun tersenyum getir. Menundukkan pandangannya setelah mengambil alih minuman bersoda tersebut dari tangan Seongwoo.


Kening Seongwoo mengernyit bingung. “Apa maksudmu?”


Pandangan Seohyun kembali terangkat. Dia menatap manik hitam Seongwoo lekat. “Bodoh. Kau!” tekannya.


Seongwoo bungkam. Dia tak bisa mencerna arah dari pembicaraan yang Seohyun cetuskan.


Lagi-lagi Seohyun mendengus geli. Wajahnya kembali tertunduk. “Kau tahu dengan pasti apa yang tengah aku rasakan, tapi mengapa kau malah tetap pada pendirianmu?” Pandangannya kali ini terkunci pada wajah Seongwoo. Meminta pemuda itu menjawab. “Sakit, bukan?”


“Seohyun-ah—“


Senyum masamnya kembali terukir. “Kau tahu bahwa aku masih mencintai dia, tapi kau malah semakin berusaha untuk tetap berada di sisiku. Apa kau bodoh?”


“Ya! Yoon Seohyun!”


“Aku tak bisa mengendalikan perasaanku seenaknya. Aku masih belum bisa melupakan dia. Aku—“


“Kau tahu sendiri jawabannya, bukan?” Seongwoo menyela kalimat yang tengah Seohyun ungkapkan. “Aku sama sepertimu. Aku tak bisa mengendalikan perasaan ini semauku. Saat aku sudah menjatuhkan hatiku padamu, aku akan terus mencintaimu! Berharap suatu saat kau mau membuka perasaanmu padaku. Sepenuhnya.” Nada bicara Seongwoo semakin menurun. Mencari simpati dari pikiran Seohyun yang sebelumnya sudah terselimuti kabut putus asa dan amarah.


“Tidak, Seohyun-ah!” Intonasinya meninggi. “Tidak sama!” Seongwoo menarik napasnya yang mulai tersenggal karena rasa tertekan di dalam dirinya membuat gelisah. Dia takut, Seohyun kembali mengabaikannya, karena Daniel. “Daniel sudah memiliki Eunbi. Kau tidak bisa merebut posisi itu!” Ada jeda panjang antar kalimatnya. Dia ragu untuk mengatakannya, namun akhirnya keluar begitu saja.


Eunbi.


Lagi-lagi nama gadis itu disebut.


Seperti sebuah tamparan keras yang membuat tingkat kesadaran Seohyun kembali normal. Memaksanya menelan pil pahit kenyataan, jika Daniel sudah memiliki kekasih.


“Kau harus hargai Eunbi. Meskipun kau membencinya dan sering bersikap ketus dan acuh padanya, itu tak pelak membuat dia balas membencimu.” Kalimat bijak Seongwoo mulai muncul ke permukaan.


“Kau tidak lihat bagaimana sikapnya padamu tadi? Dia bahkan membiarkan gaunnya robek, serta kakinya terluka hanya untuk menolongmu. Aku tahu bagaimana pedulinya Eunbi padamu. Aku tahu!”


“Geumanhae!”


“Ani! Aku tidak akan pernah berhenti untuk membuatmu bangun dari mimpimu itu. Bagaimanapun juga, Daniel sudah bersama Eunbi sekarang. Dia bukan lagi Daniel yang dulu. Kau harus ingat itu.”


Tak ingin terlibat lagi dengan ocehan panjang Seongwoo, Seohyun lebih memilih bungkam. Membuang pandangannya ke kanan. Menerawang jauh pemikirannya. Menahan agar emosinya tak ikut tumpah bersama derai air mata yang kian deras mengalir. Dia tenggak minuman bersoda itu hingga hampir tandas. Menekan kuat-kuat amarahnya yang menggelegak.


Meski dalam hati Seohyun membenarkan kalimat sarkastik Seongwoo, namun dia menampiknya kuat-kuat, karena ego masih saja menguasai jalan pikirannya.


NOTE :


Oppa : Panggilan perempuan ke pria yang lebih tua/ kekasih.


Geumanhae : Berhentilah


Ani : Tidak.


Baper nggak sama Seongwoo? Pengen kan punya pacar sekaliber Seongwoo, yang pengertian banget kalo ceweknya belum lepas dari bayangan sang gebetan?