Heart Reflections

Heart Reflections
#31 Cedera



Ruangan luas berdinding kaca itu terasa sesak. Padahal hanya ada dua manusia yang mengisi ruangan itu. Udara pengap mengisi tempat yang menjadi ruang latihan pribadi Eunbi. Tak ada latihan hari ini. Suara musik pun telah dimatikan sejak pertengahan siang.


Eunbi yang datang tepat waktu untuk latihan sore, malah disambut oleh tatapan dingin Pelatih Shin. Setelah interogasi yang menohok, Eunbi akhirnya mengiyakan kebenaran yang dia ingin sembunyikan dari Pelatih Shin. Entah dari mana pelatih beraura dingin tahu. Kabar kunjungan Eunbi ke rumah sakit seketika membangkitkan atensi Kwon Boa. Terlebih lagi Eunbi tidak menyanggah soal pemeriksaan sikunya.


Kini hukuman push up seratus kali harus dia lakukan berbonus omelan Pelatih Shin yang berulang kali.


“Lagi!” Pelatih Shin membentak keras.


Napas muridnya terengah. Tetapi dia menurunkan badannya ke lantai. Ambruk sejenak selama beberapa detik. Lalu terangkat kembali. Ini push up ke-81 yang Eunbi lakukan.


“Sudah kubilang, kesempatan emas itu lenyap kalau kau cedera!” dumel Pelatih Shin berdiri tegak di depan Eunbi. Ujung sepatu nyaris menempel di dahi murid kesayangannya.


“Tidak cukup luka di lututmu, kau menambah kekhawatiran dengan cedera. Ada apa denganmu, Eunbi-ya? Kau tak boleh sakit sekarang. Lagi!”


Eunbi bergerak kembali menuruti perintah pelatihnya. Keras bukan main didikan Boa. Hukuman tak pernah kenal kompromi. Eunbi harus menahan rasa nyeri yang menjerat sikunya lagi. Dia tak boleh mengeluh, atau Pelatih Shin memberi hukuman double lainnya.


Setiap kali membentur lantai, Pelatih Shin akan mengomel. Lalu terdiam saat Eunbi mengangkat tubuh. Selalu berulang sampai genap seratus. Tak ada kekuatan untuk mendebat wanita berusia 39 tahun itu. Eunbi hanya menurut, membuktikan bahwa dia sanggup menjalani hukuman.


“Kemarin latihanmu tidak maksimal. Jadi mari lakukan gerakan seperti biasanya.”


“Aku harus menggabungkan latihanmu dengan latihan anak-anak lainnya. Jika kau tak berusaha keras besok, terpaksa aku akan memilih orang lain,” ucap Pelatih Shin menepuk pundak Eunbi.


Senyuman Pelatih Shin penuh kekesalan. Alih-alih menghibur, tekanan terus membebani Eunbi. Hatinya terkoyak. Tidak. Dia tidak mau menyerah. Lagi-lagi di ruang latihan, Eunbi sendirian. Berlatih lagi sampai dadanya meledak kelelahan.


Segala sakit, lelah dan air mata, dia tasbihkan pada esok hari. Dia tak mau berlarut-larut dalam keputusasaan. Bertahan menggapai apa yang dia impikan. Seraut wajah ayahnya membangkitkan gairahnya. Senyuman meledak penuh kepuasan. Mana kala Eunbi berhasil menyelesaikan tariannya.


“Aneh, kenapa saat ada Pelatih Shin, aku tak bisa bergerak?” gumamnya kembali melentingkan tongkat pitanya. Lalu tangannya kembali menggenggam tongkat dengan sempurna setelah terlontar satu meter ke atas seusai berputar dua kali.


Langkah Eunbi terseok. Seluruh sendi terasa sakit. Dia menyusuri jalan setapak yang mengarah ke gedung asrama. Hiruk pikuk atlet perempuan berbagai jurusan menyambut Eunbi di ruang santai. Seluruh canda tawa menghiasi asrama putri. Eunbi memutuskan tidak ikut bercengkerama. Terlalu lelah dan dehidrasi menjadi alasan Eunbi lekas masuk ke kamar.


*****


*Ada yang merasa kayak Eunbi? Mati-matian berjuang menggapai cita-cita? Kaya apa ceritamu?


Tunggulah cerita empat tokoh ini merajut mimpi masing-masing*.