
Seohyun sendiri tidak mengerti bagaimana cara menerjemahkan perasaannya yang kian hari makin carut-marut. Bukan hanya soal dia yang sekamar dengan Eunbi, tapi juga soal pesan elektronik yang dia terima dari saudari kembarnya di Amsterdam.
Beribu kata rindu tak pelak membuat gadis itu muak. Dia bahkan tertawa sinis, saat melihat kabar jika gadis cantik pemilik wajah serupa dengannya akan berkunjung ke Tanah Goryeo. Bukankah gadis itu sudah gila? Seohyun benar-benar malas menemuinya.
Ia melempar ponsel ke atas ranjang. Larut kembali membenahi pakaiannya yang masih berantakan ke dalam lemari baru dari kayu berwarna biru muda. Warna favoritnya.
"Kamar ini terlalu rapi. Aku tidak menyangka Eunbi Eonni akan serapi ini." Atensinya masih fokus melihat seisi kamar yang tak terlalu luas seperti kamar lamanya. Tangannya terus bergerak lincah, melipat satu per satu pakaiannya asal. Tiba-tiba ponselnya bergetar, membuat gadis itu terjengit kaget.
Ia lempar asal kaos berwarna cream itu kembali masuk ke dalam koper, begitu mendengar getarannya semakin dahsyat. Itu pasti Seongwoo.
Dilempar tubuhnya ke atas ranjang empuk. Memerhatikan layar ponselnya yang menampilkan nama pemuda bermarga Gong itu.
"Eoh, Seongwoo-ya, wae?"
Seohyun memang tidak pernah berubah. Masih saja keras kepala. Dia tidak ingin memanggil Seongwoo dengan embel-embel Oppa pada nama belakangnya. Lidahnya seperti alergi, mengingat mereka berdua sudah terbiasa menjadi sahabat.
Bola matanya berputar jengah. Dia mendecak sebal. "Arasseo! Nanti aku akan menemuimu di tempat biasa. Kkeunheo (Aku tutup)!" Seohyun langsung mengakhiri panggilan tersebut. Mood-nya benar-benar sedang memburuk.
Masa bodoh dengan barang-baranya yang masih terlantar di atas lantai. Dia tak mau ambil pusing. Sohyun segera meraih jaket denim favoritnya. Meluncur dengan cepat keluar dari kamar. Apa lagi kalau bukan untuk menemui Seongwoo? Dia tak peduli, jika Eunbi meledak saat melihat kamarnya yang berantakan.
Satu hal yang harus dia lakukan terlebih dulu saat ini adalah mencari Eunbi. Gadis menyebalkan itu, menurut Seohyun, karena bagaimanapun juga, dia adalah ketua asrama putri. Dia butuh izin darinya untuk keluar dari ruang lingkup asrama ini.
"Ke mana gadis serba perfect itu?!" gumamnya kesal, melihat ke kanan dan kiri. Menyisir taman kampus yang megah, lalu berlari menuju gedung latihan. Mungkin saja Eunbi di sana.
Nihil. Eunbi tidak berada di sana. Napas Seohyun terbuang berat. Dia memutuskan untuk langsung pergi saja. Masa bodoh jika Eunbi akan menanyainya panjang lebar nanti. Waktunya sudah terbuang percuma.
Ujung sneakers butut itu terantuk-antuk pada dinginnya lantai lift. Padahal, dia saat ini sedang berada di lantai tiga, namun rasanya butuh waktu lama agar sampai di lantai bawah, atau itu hanya perasaan Seohyun saja? Entahlah. Gadis itu terlalu lelah menunggu.
Tiba di lantai dua, lift berhenti. Seorang pemuda masuk ke dalam. Membuat Seohyun bungkam, lalu lebih memilih mundur ke sudut belakang ruangan lift yang tak cukup besar.
Itu Daniel.
"Annyeong, Seohyun-ah," sapa Daniel ramah. Dengan senyum mempesona andalannya, yang membuat Seohyun hampir sesak napas. Dia bahkan menahan napasnya sendiri yang berakhir dengan cegukan kecil.
Daniel buru-buru mendekati gadis yang seolah menghindarinya. Takut? Entahlah. Daniel bingung.
"Gwaencanha?" tanyanya khawatir.
Seohyun mengangguk cepat. "Gwaen—Hiks—Canhayo—Hiks"
******
***Hayo hayo~~~~ Apa yang terjadi selanjutnya?
Seohyun masih lanjut baper nggak sama Daniel***?