
Saat pintu lift terbuka, Seohyun buru-buru mengambil langkah seribu. Kabur begitu saja meninggalkan Daniel yang kebingungan, lalu sedetik kemudian terkekeh geli.
"Matilah aku! Matilah aku!" rutuk Seohyun kesal, sepanjang langkah kaki membawanya ke sebuah kafe yang berada tak jauh dari lingkungan universitas.
Lehernya memanjang sempurna, mencari sosok tinggi dengan coma hair-nya yang menawan, namun itu tak cukup untuk menarik perhatian Seohyun. Padahal, jika Seohyun ingin melihat lebih jauh, gadis-gadis lain malah histeris melihat pemuda itu dari dekat. Seongwoo terlalu bersinar.
"Ke mana si bodoh itu?!" gumamnya kesal. Biasanya Seohyun mudah mengenali Seongwoo dengan cepat dari jarak puluhan meter. Namun detik ini, aromanya saja tidak terendus hidung sensitifnya. Dia mulai kebingungan.
Bruk....
Secangkir latte panas terguling dari atas nampan yang menyenggol lengannya. Tumpah ruah membasahi pinggiran kemejanya. Sontak dia menjerit kepanasan. "Ya! Neo micheoseo (Kamu gila ya?)?!" umpatnya kasar. Meregangkan ujung kemejanya agar menjauh dari kulit pinggulnya.
"Jwoseonghaeyo, jwoseonghaeyo, (maaf)" ujar gadis itu. Dia menegakkan pandangannya, lalu bertubrukan dengan manik hitam milik Seohyun. Manik yang serupa dengannya.
Seohyun bungkam. Tak lagi melanjutkan sumpah-serapahnya yang sudah ada di ujung bibir. Mengantri, untuk siap diluncurkan.
Gadis pemilik wajah serupa dengan Seohyun kini ada di hadapannya. Tanpa kabar berita.
"Eonni—"
Seohyun buru-buru menunduk. Melihat jam yang melilit sempurna di pergelangan tangan kirinya. "Sial, aku terlambat," sergahnya. Memotong kalimat gadis itu.
Langkah sudah Seohyun layangkan, namun tak pelak membawanya angkat kaki dari sana. Cengkraman erat pada lengannya menahan laju kakinya.
Ia menoleh dengan raut kesal level maksimal. Menatap manik coklat yang tak asing. "Seongwoo-ya?!"
Seongwoo, menarik kedua gadis itu menuju kursi yang sebelumnya sudah dia tempati. Membiarkan keduanya duduk tenang berhadapan
"Ya! Apa maksudmu?!" Seohyun sudah tak lagi dapat menahan rasa kesalnya. Dia muak saudari kembarnya, Yoon Saeron.
"Saeron-ah, bicaralah dengan eonni-mu. Aku pergi dulu," ujar Seongwoo halus. "Dan kau! Jaga dongsaeng (adik) dengan baik. Arachi (Paham)?!"
Bodohnya, Seohyun malah mengangguk patuh. Dia terhipnotis.
Selepas langkah panjang membawa Seongwoo menghilang dari pandangannya, kesadarannya kembali waras. Dia menolehkan pandangannya pada Saeron. Menatapnya tajam. "Mau apa kau ke sini?! Belum puas, membuat hidupku menderita?!" paparnya sinis.
"Lalu??! Haruskah aku mencemaskan wanita itu?" Kalimat ketus terus saja meluncur dari bibir tipisnya. "Hah, yang benar saja!"
"Eonni, bantu—"
"Jangan panggil aku eonni. Aku bahkan tidak mengenalmu!"
Seohyun memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Malas, jika harus berlama-lama dengan saudari kembarnya itu. Hatinya terlalu sakit, karena saat menatap wajah itu, jutaan kalimat kasar dari keluarga besarnya terus berdengung di telinga. Seohyun muak. Dia lelah.
"Eonni!"
Teriakan itu tidak dia pedulikan sama sekali. Bahkan Seongwoo yang melangkah mendekatinya pun dia abaikan. Dia terlalu marah.
"Oppa, nan otteohkaji (aku harus bagaimana)? Seohyun Eonni benar-benar sudah membenciku," ujar Saeron panik. Dia ketakutan, sambil menangis dalam rangkulan Seongwoo. Dia tak bisa menahan perasaannya sendiri. Perih rasanya.
"Lebih baik kau terbuka saja padanya. Ceritakan soal penyakitmu dan alasan keluargamu lebih memilih untuk memerhatikanmu dengan ekstra. Gadis keras kepala itu tidak akan mau mengerti, jika kau masih saja bungkam!" usul Seongwoo bijak.
Menceritakan soal penyakit seriusnya pada Seohyun? Saeron bahkan tak pernah berniat untuk menceritakannya. Dia hanya tak ingin membuat kakaknya itu sedih dan merasa bersalah. Lebih baik dia pergi dengan membawa rasa benci di hati kakaknya, dibandingkan rasa sedih dan putus asa. Saeron sangat menyayangi kakak kembarnya itu.
Kepalanya menggeleng. Membuat kunciran kudanya bergoyang. "Tidak, Oppa. Aku tidak ingin membuatnya sedih."
"Bodoh! Jika terus seperti ini, si kepala batu itu tidak akan mau bicara denganmu!"
"Biarkan dia membenciku sesuka hatinya. Aku hanya tidak ingin eonni membenci eomma. Kami sudah kehilangan appa (ayah)." Tangis Saeron pecah, seiring eratnya dekapan hangat Seongwoo yang menenangkan.
Saeron diam-diam merindukan dekapan itu.
Tidak.
Ia merindukan Seongwoo, si pemilik dekapan hangat itu. Karena diam-diam, hatinya selalu menyerukan kalimat yang sama saat menatap wajah pemuda penuh perhatian di sampingnya.
Oppa, saranghaeyo, bisik Saeron dalam hati.