
Dada Eunbi berdesir hebat. Tak menyangka melihat tetangganya menjadi dokter. Dulu sekali dia selalu berebut teman dengan Jaehwan. Jaehwan ingin bermain mobil-mobilan. Eunbi tak mau kalah. Dia mengamuk, padahal Minhyun sudah janji bakal menemaninya main sebagai pengantin. Eunbi sangat suka melihat orang yang menikah. Jadi Eunbi dan Minhyun bakal menjadi pasangan. Sementara Jaehwan menjadi pendeta.
Sayang sekali Jaehwan sedang bosan. Ini sudah belasan kali mereka melakukannya. Hari ini Jaehwan ingin adu balap dengan Minhyun.
“Hari ini aku mau main dengan Jaehwan dulu, Eunbi-ya. Nanti saja ya,” kata Minhyun kecil berusaha menengahi pertengkaran saudara itu.
Nanti sekadar nanti. Bibi Hwang memanggil anaknya pulang ke rumah yang ada di lantai bawah. Kemudian ibu si kembar menggiring Jaehwan dan Eunbi keluar rumah. Keluarga Minhyun sedang menyampaikan salam perpisahan. Ayah Minhyun dipindah-tugaskan di Amerika oleh perusahaannya. Jadi anak dan istrinya ikut menyertai.
“Katanya kau mau main bersamaku, Minhyun-ah?” protes Eunbi tak rela melihat Minhyun menarik kopor kecil. Dia tampak ceria hendak menaiki pesawat.
Eunbi berderai air mata. Kesal harus kehilangan teman bermain.
“Aku akan datang menikahimu nanti. Tunggu aku, eo?”
Para orang dewasa terkekeh mendengarnya. Sementara Eunbi masih terisak-isak tak mau ditinggal.
Masa itu sangat menyenangkan. Eunbi memiliki Minhyun sebagai teman. Keluarganya utuh. Sampai usia sepuluh tahun, Eunbi amat bahagia. Tetapi rekaman manis masa kecilnya terkubur secara menyakitkan.
Orang tuanya bercerai. Ayahnya dipenjara, ibunya menikah lagi. Eunbi lupa pada segala yang manis. Kesendirian menjeratnya sedemikian rupa. Pertengkaran demi pertengkaran menjadi saksi hidupnya.
Dia terlibat sebagai bagian iljin semasa SMP. Melakukan banyak masalah. Barulah saat SMA dia menutup dirinya yang kacau. Energi dia lampiaskan menjadi atlet karateka. Bosan bermain karate, dia membanting minat ke jurusan senam indah. Sangat jauh antara perangai beringas menjadi sosok anggun.
Tetapi dia gigih melakukannya. Sebab tipe ideal Sungwoon adalah gadis anggun.
Pudar. Usahanya terbuang sia-sia. Sungwoon tak bisa dia raih. Justru Daniel yang senang tak kepalang melihat pakaian ketat Eunbi selama pertandingan.
“Astaga, Minhyun semakin tampan saja,” pujinya mulai bermonolog. Eunbi tersipu-sipu menutupi pipinya.
Eunbi memutuskan pulang saja ke asrama kampus. Percuma menunggu Park Daniel datang menjemputnya. Dia menggunakan taksi lagi dan memintanya turun di sebuah gerai makanan cepat saji.
“ Eunbi-ya, mianhae aku lupa!” ujar Daniel tiba-tiba dari belakang Eunbi.
“Eoh. Gwaencanha,” sahut Eunbi enteng.
Daniel menghentikan langkah. Bingung. Biasanya Eunbi bakal mengomelinya bila alasannya lupa.
“Tidak apa-apa. Aku hanya harus mengompres siku dengan air hangat.”
“Itu melegakan sekali,” kata Daniel ikutan senang.
“Hei, Park Daniel,” panggil Eunbi tiba-tiba. Daniel menoleh ke Eunbi antutias. “Sepertinya aku jatuh cinta lagi,” ucap Eunbi semringah.
Dada Daniel berdesir. Dia ikutan tersipu. Pasalnya hari ini Daniel sudah memakai pakaian terbaik. Senang bakal kencan dengan Eunbi, meskipun dia terlambat menjemput Eunbi di rumah sakit.
“Padaku?” tanya Daniel hendak membentuk hati lewat kedua jari telunjuk dan ibu jari.
“Tidak. Aku jatuh cinta ke Hwang Minhyun.”
Dada Daniel mencelos. Sejenak dia bertanya-tanya apakah Eunbi lupa bahwa dia sudah menjadi pacar Daniel. Apakah gadis itu masih menganggapnya sebagai teman yang bisa mendengar apa saja.
“Minhyun siapa?”
“Cinta pertamaku. Hari ini dia bertemu denganku. Astaga, menyenangkan sekali.” Eunbi larut dalam angannya. Lupa bahwa Daniel dirudung cemburu yang memuncak.
Baru kali ini Daniel terbakar. Saat Eunbi menangisi Sungwoon pun, Daniel tidak merasakan apa-apa kecuali iba. Namun mendengar nama pria asing disebut, mendadak saja semuanya terasa merah di mata Daniel.
“Ya, kau punya aku. Jangan lihat siapa-siapa kecuali aku!” dumel Daniel.
“Astagaaaa... Doa-doaku terkabulkan. Aku bakal punya pria yang menarik.”
“Ya!”
“Mwo?” Eunbi kembali ke sosok galaknya lagi. Daniel mendadak menciut. Tanganya merangkul Eunbi hati-hati.
“Aku ikut senang,” katanya tak jujur. Tetapi Daniel memutuskan tertawa seolah tak mendengar apa-apa. Tragis sekali memang nasibnya.
NOTE :
Iljin adalah sebutan bagi siswa yang terlibat dalam anggota geng liar. Hobinya merisak orang lain.